Sing Sabaaar

Kata orang, sabar tidak ada batasnya. Tapi kok susah sekali ya, menahan sabar itu? Untuk yang emosional seperti saya ini, kesabaran adalah salah satu ujian terberat.
Malah ada yang menyarankan untuk menghitung dulu minimal sampai 10, sebelum marah. Waduh, boro-boro ngitung, mikir saja tidak sempat kalau lagi emosi tinggi begitu kan?
Biasanya saat saya menghadapi suatu situasi atau kondisi yang menguji kesabaran, daripada marah meledak-ledak, saya lebih memilih diam. Diam bukan berarti masalah dianggap selesai, lho. Hanya ditunda pembahasan dan penyelesaiannya.
Diam saat kemarahan sudah sampai diubun-ubun, dapat mencegah kita dari mengucapkan hal-hal yang dapat disesali saat sudah tidak marah lagi.
Tidak hanya diam, saya juga menghindari orang/apa pun itu yang menjadi penyebab kemarahan saya. Hal ini membantu pikiran untuk tidak terus-menerus terfokus pada sumber masalah.
Ada yang bilang, memendam kemarahan itu tidak baik untuk kesehatan jiwa. Betul. Makanya jangan dipendam. Kemarahan tetap harus disalurkan, tetapi tunda waktunya saat kepala sudah mulai dingin.
Bagaimana menyalurkan kemarahan? Tiap orang bisa beda-beda caranya. Kalau saya sih, blogging saja ;)

2 comments:

Anonymous said...

Kayaknya emang ngga banyak ya orang2 yg sabar di muka bumi ini... Mudah2an bisa latihan dibulan depan (Ramadhan) :)

Btw, jangan2 saat posting tulisan ini lagi dlm keadaan marah ya...?

Idenya Dini said...

Siapa marah? Saya? Aaaah, gak marah kok! Siapa yang marah? *dan hidung pun memanjang* :D :D