Showing posts with label liburan. Show all posts
Showing posts with label liburan. Show all posts

Kota Tua Di Malaka



TBS
Sehabis shalat subuh, kami langsung menuju TBS (Terminal Bersepadu Selatan) naik taksi yang sudah dipesan dari resepsionis hotel semalam. Ongkos taksi dari hotel ke TBS hanya RM35. Untuk naik bis menuju Malaka (Malacca) harus ke TBS. Terminal ini besar sekali dan hampir mirip bandara.

Udara dalam terminal sangat dingin, entah karena masih pagi atau memang AC-nya. Perut pun langsung teriak minta diisi. Di minimarket dekat deretan konter check in, kami membeli mie cup (cup noodle) dan bubur cup (cup porridge) tinggal seduh untuk sarapan. Air panas untuk menyeduh tersedia gratis.

Selesai mengisi perut, kami beranjak menuju konter check in yang berjajar rapi. Walau harus mengantri, ternyata para penumpang yang jam keberangkatannya sudah dekat, didahulukan agar bis bisa sesuai jadwal. Jam 7.45 kami check in di konter Konsortium Bas Express. Bis kami dijadwalkan berangkat jam 8.15 dengan waktu perjalanan kurang lebih 3 jam. Sepanjang perjalanan, anak-anak lebih memilih tidur.

Bis no 17
Tiba di Malaka Central Bus Station jam 11an, tujuan pertama kami adalah bagian informasi. Petugasnya menginfokan, untuk ke kota tua (old town) bisa naik bis no 17 atau naik taksi. Ongkos taksi RM20, sedangkan bila naik bis hanya RM0.70 untuk dewasa dan RM0.30 untuk anak-anak (za belum bayar, zi dihitung dewasa). Tiket bis dapat dibeli langsung dari supirnya saat akan naik bis. Oiya, bila diperlukan Peta Malaka juga bisa dibeli di tempat informasi ini.

Masih banyak waktu, kami pun berjalan-jalan di dalam stasiun. Toko-tokonya lumayan lengkap. Dari toko baju, sepatu dan tas, rumah makan sampai kios koran ada di situ. Seperti terminal Blok M, Jakarta Selatan.

Tempat penitipan tas
Kami juga menemukan tempat penitipan tas. Daripada jalan-jalan membawa tas yang berat, sebaiknya tas dititipkan saja. Biayanya cuma RM7 untuk 2 tas (1 ransel dan 1 travel bag), tergantung besar kecilnya tas. Pastikan anda mengambil tas sebelum jam tutupnya yaitu jam 9 malam, kalau tidak mau menunggu sampai keesokan harinya.

Akhirnya kami putuskan untuk naik bis saja. Saat membeli karcis, jangan lupa bilang supirnya untuk turun di Church. Dari church nanti bisa naik becak untuk city tour atau naik river cruise.

Church
Setelah foto-foto di Church, kami berjalan mencari konter penjualan tiket river cruise. City tour dengan river cruise memberikan pengalaman tersendiri bagi 3pzh. Seperti waktu di Thailand. Bedanya kali ini kapalnya lebih besar dan sungainya di tengah kota. Sambil mendengarkan tour guide berkisah tentang sejarah kota Malaka, mata dihibur dengan lukisan indah yang menghiasi dinding rumah sepanjang sungai.

Pintu Air
Mencari makanan halal di Malaka, tidak mudah. Berjalan kaki dari kota tua sampai ke Jalan Tangkera (ada masjid disitu), tetap tidak ditemukan. Mungkin karena masih libur lebaran. Tapi kami sempat mampir disebuah kedai es krim durian. Di udara sepanas ini, es krim cukup menenangkan anak-anak yang sudah mulai protes kelaparan. Setelah cukup lama berjalan kaki dan tetap tidak menemukan restoran halal yang buka, akhirnya kami naik taksi kembali ke Central Station yang tadi pagi.

Di stasiun ini berbagai makanan halal mudah ditemui, baik di daerah Medan Selera (foodcourt) maupun di dalam stasiunnya. Bagi yang kangen makanan Indonesia, seperti mi bakso dan ayam penyet, banyak penjualnya di sini.

Bus menuju Johor Bahru (JB) berangkat sekitar jam 16.30 dari stasiun sentral Malaka. Setelah makan, shalat, mengambil tas yang dititipkan dan check in di konter Malacca Singapore Express, kami beristirahat di ruang tunggu. Ada kursi pijat otomatis dengan biaya RM5 untuk beberapa menit pelayanan. Lumayan lah bisa melemaskan otot -otot yang pegal setelah berjalan kaki tadi :-)

Perjalanan naik bis dari Malaka ke JB dijadwalkan sekitar 2 jam saja. Namun demikian, kami tetap membeli beberapa roti isi untuk bekal perjalanan. Berjaga-jaga bila sampai di JB kemalaman dan semua restoran sudah tutup.













Semalam Di Kuala Lumpur



Untung 3pzh tidak susah dibangunin pagi ini. Setelah mandi dan shalat subuh, kami pun berjalan kaki menuju stasiun bis Penang Komtar. Hanya butuh waktu kurang dari 20 menit, itupun jalannya santai tidak terburu-buru.

Sampai disana, ternyata konter tempat check in Newsia Express Service Central belum buka. Tiket bis Newsia Express ini bisa dibeli melalui internet di easibooking.com . Ada beberapa pilihan operator bis dengan tujuan yang sama. Pilih saja yang sesuai dengan jadwal dan kantong anda.

Perut mulai keroncongan, tapi banyak toko masih tutup. Untungnya ada toko kecil yang menjual bubur cup instan berlabel halal dan menyediakan air panas untuk menyeduhnya. Lumayan untuk sarapan, selain biskuit dan susu yang memang sudah kami bawa.

Bis datang sedikit terlambat. Setelah check in di konter, para penumpang antri dengan tertib memasuki bis setelah sebelumnya menyimpan tas besar di bagasi yang terletak di bagian luar bawah bis. Kursinya diberi nomor urut, bisa dimaju-mundurkan untuk kenyamanan selama perjalanan. Sayang tidak tersedia hiburan selain musik pilihan supir yang diputar di music player. Perjalanan 5 jam menuju KL kebanyakan kami isi dengan tidur, menuntaskan tidur yang belum tuntas semalam.

Bis hanya stop 1 kali di terminal Sungai Nibong untuk mengangkut penumpang sebelum perjalanan nonstop ke KL. Sebaiknya gunakan waktu tersebut untuk ke kamar mandi karena tidak ada kesempatan lagi hingga tiba di KL.

Tiba di KL Sentral bus station sekitar jam 14 waktu setempat, atau sejam lebih lama dari yang dijadwalkan. Keterlambatan disebabkan oleh macetnya jalan tol. Kata supir, ini biasa terjadi di hari kerja, terutama hari pertama setelah libur panjang.

Dari stasiun kami langsung naik LRT dan disambung monorail menuju stasiun Medan Tuanku, stasiun terdekat dari Tune Hotel Downtown KL tempat kami akan menginap. Sebenarnya lebih cepat dan efisien kalau naik taksi bila teman perjalanan ada lebih dari 2 orang. Tetapi anak-anak tentunya lebih senang kalau bisa merasakan naik kereta.

Tune hotel downtown KL letaknya tidak jauh dari stasiun Medan Tuanku, sekitar 10 menit jalan kaki. Kamarnya lebih luas dibandingkan yang di Penang. Warna hitam merah mendominasi interior hotel dan kamarnya. Karena rencananya besok pagi-pagi harus mengejar bis lagi ke Malaka, di KL ini hanya untuk numpang tidur. Jadi kami tidak memesan handuk dan hanya memesan paket yang 12 jam saja.

Sebenarnya bisa saja kami tidak mampir di KL. Tapi berarti harus bermalam di bis dan sampai keesokan paginya di Malaka. Kasihan anak-anak, pasti capek sekali. Mereka pun sudah tidak mau ke Petrosains, apalagi ke Twin Tower dan KL Tower. Bosan, katanya.

Selesai shalat, kami pun kembali ke stasiun Sultan Ismail untuk naik LRT menuju Masjid Jamek untuk makan siang dan menjelajah kota KL. Keluar dari hotel, belok kanan naik jembatan penyebrangan ke arah stasiun. Tiket bisa dibeli di counter maupun langsung di mesin dengan memasukkan sejumlah uang kertas. Harga tiket tergantung stasiun tujuan. Dari stasiun Sultan Ismail ke stasiun Masjid Jamek harga tiketnya RM1.20/orang (za belum bayar).

Di Suria Park, taman dibelakang Suria KLCC Mall setiap hari libur ada pertunjukan Air Mancur Menari (water dance) pada jam-jam tertentu. Air mancur yang bergerak seolah-olah menari mengikuti alunan musik dengan tata cahaya lampu warna-warni, seperti yang bisa kita saksikan juga di Bundaran HI atau di Monas dulu.

Sudah hampir jam 22 saat kami beranjak meninggalkan Suria Park setelah show terakhir water dance. Perut yang sedari tadi kenyang diisi camilan mulai teriak minta diisi. Tentunya tidak mungkin mencari makanan di dalam mal jam segitu, karena sudah tutup. Maka kaki pun dilangkahkan keluar mal ke arah kanan menuju Restoran Nasi Kandar Pelita yang buka 24 jam. Menunya yang beragam dan rasanya yang khas menjadikan restoran ini salah satu yang wajib anda kunjungi bila sedang di KL.

Gagal mencoba Sup Lembu Hameed di Penang, kami pun tergoda mencicipi sup lembu di restoran ini. Supnya gurih sekali, dengan kuah kental dan daging sapi yang tak perlu perjuangan menggigitnya. Nasi kandar dengan berbagai menu yang disajikan secara prasmanan benar-benar membuat kalap. Hampir lapar mata melihat udang-udang besar itu x_x

Setelah perut kenyang, barulah kami kembali ke hotel naik LRT untuk beristirahat.














Bangkok Trip (4)



Hari terakhir di Bangkok. Pagi jam 9-an saya berjalan kaki ke Trok Surao untuk membeli sarapan take away di tempat ibu India yang kemarin, sementara 3pzh dan ayahnya berenang di hotel. Menu pagi ini nasi briyani dengan lauk daging kari dan ayam semur. Seporsi hanya 40b, sudah dapat banyak sekali sampai kekenyangan.

Jam 12 kami check out dari hotel dan menitipkan koper di concierge untuk diambil sebelum ke airport. Sekalian pesan taksi untuk ke bandara juga. Rencananya kami mau ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) dan Wat Trimit (The Golden Buddha) hari ini kemudian makan siang di China Town bila masih ada waktu.

Dari hotel meluncur ke Wat Pho naik taksi, ternyata kuilnya tutup (atau belum buka?). Kemudian perjalanan dilanjutkan ke kuil The Golden Buddha yaitu patung Buddha raksasa yang terbuat emas dengan berat sekitar 5,5 ton. HTM 40b untuk 1 orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis.

The Golden  Buddha
Untuk melihat patung emas itu, pengunjung harus naik ke lantai 4 dari tangga di sisi kiri gedung. Sebelum masuk ke kuil, sepatu dititipkan di rak sepatu yang tersedia. Ada banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung di sini. Diantaranya; dilarang masuk bila tidak memakai baju yang sopan (pendek atau terbuka), makan/minuman di dalam kuil, membawa hewan peliharaan, menginjak garis pintu masuk, dan masih banyak lagi.

Dari sana kami kembali ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) karena masih penasaran. Naik taksi sekitar 65b. Alhamdulillah, kuilnya sudah dibuka. Ternyata Wat Pho itu letaknya dekat sekali dari Grand Palace yang kami datangi kemarin. Kalau saja kami tahu, kemarin bisa ke sini sekalian.

Membayar tiket masuk @ 100b untuk 3 orang (zu dan za belum bayar), kami menolak menggunakan jasa guide karena memang tujuannya ke sini hanya foto-foto. Sebelum masuk kuil, pengunjung harus memasukkan sepatu/sandalnya ke dalam tas yang disediakan dan membawanya ke dalam.

Reclining Buddha
Di dalam suasananya agak gelap, tapi masih bisalah untuk foto-foto. Patung Budha raksasa yang posisinya tiduran miring itu guedeeeee bangeeett. Merupakan patung Buddha terbesar di Thailand, panjangnya mencapai sekitar 150 kaki. Di telapak kakinya, ada simbol-simbol khusus yang memiliki arti ajaran Sang Buddha.

Tidak mudah mencari sudut yang pas karena ruang yang sempit dan banyaknya pengunjung lalu lalang di jalan yang lebarnya sekitar 1 m itu. Selesai foto-foto di dalam kuil, di pintu keluar kami kembali memakai sepatu dan mengembalikan tas yang tadi dipinjamkan. Di bagian belakang kuil ada tenda tempat penukaran tiket yang tadi dibeli dengan sebotol air mineral dingin. Bahkan kami diberikan 1 botol ekstra karena melihat ada anak kecil yang tidak memiliki karcis. Alhamdulillah, jadi obat bagi tenggorakan yang kering di udara panas Bangkok.

Kami tidak sempat ke China Town, karena jam 1630 harus sudah berangkat ke airport. Keluar kuil menuju ke taman dekat pintu masuk Grand Palace, akhirnya kami berhasil menawar tuktuk 50b untuk mengantarkan ke daerah Banglampho. Karena salah paham, akhirnya kami diturunkan di Central World Hotel yang kebetulan sekali, didalamnya ada restoran Sara Halal.

Walaupun harga per porsinya lebih dari 5 kali harga makanan di Aesaah maupun Trok Surao (maklum, namanya juga restoran hotel), tapi rasanya masih jauuuh lebih enak di kedua tempat tersebut. Nasi Biryani nya agak pera/keras dan ayamnya juga kurang empuk. Bedanya disini ada menu Pad Thai Seafood yang rasa lumayan enak seharga 240b/per porsi.

Masjid di Trok Surao
Selesai makan, kami berjalan setengah berlari ke Trok Surao untuk shalat di Masjid. Karena sudah check out dari hotel, kami tidak bisa lagi shalat di kamar. Selesai shalat, kemudian kami kembali ke hotel untuk mengambil tas yang tadi dititipkan di concierge dan menunggu taksi yang sudah dipesan tadi pagi.

Jalan menuju airport, sekitar jam bubaran kantor, cukup padat. Pastikan untuk menyisakan waktu minimal 2 jam sebelum counter check in dibuka, kalau anda tidak mau ketinggalan pesawat. Seperti juga Jakarta, Bangkok terkenal dengan traffic jam-nya.

Papan petunjuk musholla bandara
Mencari-cari prayer room atau musholla ternyata agak sulit, karena petugas yang hanya bisa sedikit-sedikit berbahasa Inggris, tidak memahami pertanyaan kami. Tapi akhirnya menemukan musholla di lantai 3. Kalau dari ruang check in (lantai 4), dekat pintu masuk ada tangga ke bawah, turunlah ke lantai 3 dengan tangga jalan atau lift. Halal Food corner ada di lantai 1 dekat lift namanya Magic Food Point. Sedangkan Prayer room letaknya di sebelah toilet dekat tangga. Ada petunjuk arahnya, jadi tidak sulit menemukan apabila anda sudah berada di lantai 3.

Aneka makanan halal di MFP
Makanan di bandara seperti pada umumnya lebih mahal. Seporsi sticky rice with mango 135b. Untungnya di MFP hargai makanan relatif lebih murah daripada makanan di lantai-lantai atas. Untuk 4 porsi makanan sore itu, kami menghabiskan 170b. Svarnabhumi adalah bandara terbesar Thailand yang bersih dan modern, memberikan pelayanan selayaknya airport internasional. Tap water pun tersedia gratis seperti di Changi. Kekurangannya hanya satu, petugasnya tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Toilet bandara
Sudah terburu-buru makan dan menghabiskan sisa baht di duty free shop, eeeh Air Asianya delay hampir sejam :( Jadilah menunggu di bandara dalam keadaan kelaparan dan kedinginan. Untung tadi sudah sempat makan.

Sampai di Jakarta sudah jam 1 pagi lebih. Jam 3 lebih masih di Shell mengisi bahan bakar sebelum sampai rumah. Sempat kena macet sedikit di pintu keluar tol Pancoran. Heran, Jakarta jam berapa sih yang lancar jaya kalau hari kerja? -_-"




Addresses:


1. Temple of the Golden Buddha 
(Wat Traimit)
661 Chaoren Krung Rd, 
Bangkok, Thailand
Telp: 02 225 9775



2. Temple of the Reclining Buddha 
(Wat Pho)
2 Sanam Chai Road, 
Bangkok, Thailand



3. Sara Halal Restaurant
The New World City hotel 
Khao San area (near Khao San Road)
Bangkok, Thailand



4. Magic Food Point
Lantai 1 Svarnabhumi Airport




























Pulang Ke Kotamu (5)





Taman Pintar

Selesai makan, kami berjalan kaki sampai ke ujung Jalan Widjilan lalu lanjut naik becak ke Taman Pintar. Hasil browsing menunjukkan tempat ini semacam tempat bermain anak dengan berbagai simulasi dan permainan yang murmer alias murah meriah. Dengan HTM 15rb utk dewasa dan 8rb utk anak diatas 2tahun, Taman Pintar merupakan tempat yang wajib dikunjungi kalau ke Jogja membawa anak. Disitu anak-anak bisa betah seharian bermain.

Dinding Berdendang
Taman Pintar terdiri dari beberapa zona, yaitu: playground, gedung heritage, gedung oval dan gedung kotak. Playground merupakan zona/arena terbuka yang gratis bagi pengunjung. Disini disediakan sejumlah wahana bermain untuk anak-anak seperti Pipa Bercerita, Parabola Berbisik, Dinding Berdendang, Rumah Pohon, Air Menari dan lain-lain. 

Ruang tunggu PAUD
Gedung Heritage diperuntukkan bagi pendidikan anak berusia dini (PAUD), yang terdiri dari anak-anak usia pra-sekolah hingga TK. Pengunjung harus membayar tiket lagi untuk masuk kesini. Dengan tiket dibawah 10rb/anak, mereka bisa puas bermain puzzle, mewarnai, membaca buku dan menonton video pendidikan. Orangtua/pengasuh dilarang masuk ke dalam, jadi pastikan anak anda mau masuk sendiri sebelum membeli tiketnya. Ada cctv dalam ruangan bermain anak yang tv monitornya dipasang di ruang tunggu, sehingga orangtua bisa memantau dari luar.

Patung dinosaurus
Gedung Oval adalah zona yang terdiri dari zona pengenalan lingkungan dan eksibisi ilmu pengetahuan, zona pemaparan, sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada patung dinosaurus, replika mobil innova, miniatur candi Borobudur dan masih banyak lagi.

Sedangkan Gedung Kotak terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama adalah zona sarana pelengkap Taman Pintar yang mencakup ruang pameran, ruang audiovisual, radio anak Jogja, food court, dan souvenier counter. Lantai kedua merupakan zona materi dasar dan penerapan iptek terdiri dari Indonesiaku, jembatan sains, teknologi populer, teknologi canggih, dan perpustakaan. Sedangkan lantai ketiga terdiri dari laboratorium sains, animasi dan tv, dan courses class. Disini pengunjung dapat menonton film 4D dengan membeli tiket tambahan sebelumnya. Sama seperti sinema 4D yang ada di Ancol, penonton bisa basah disemprot air disini :)

Alat simulasi gempa
Selain yang sudah disebutkan diatas, fasilitas lainnya yang tersedia di Taman Pintar adalah alat peraga iptek interaktif (ada alat simulasi gempa), ruang pameran dan audiovisual, Food court, Mushola, Toko souvenir dan Pusat Informasi.

Menurut saya, Taman Pintar ini sedikit banyak mirip Science Center di Singapur atau Petrosains di Kuala Lumpur. Sungguh bangga Indonesia punya tempat seperti ini, walau lokasinya bukan di Jakarta. Dibandingkan tempat permainan edukatif lain yang ada di ibukota, yang sudahlah tiketnya mahal, dibangunnya di mal bergensi lagi, sehingga tidak terjangkau bagi kalangan ekonomi lemah.

Dari Taman Pintar, kami melanjutkan perjalanan ke Benteng Vrederburg. Letaknya sebelum pasar Beringhardjo. Disini kami cuma numpang foto-foto di gerbangnya, karena 3pzh mulai kelelahan. Dari situ kami kemudian ke Toko Mirota untuk belanja oleh-oleh batik. Inginnya sih belanja batik ke pasar, tapi karena tidak piawai menawar, mendingan ke toko yang ada harga pasnya. Tidak pakai ribet, bisa pakai kartu (debit/kredit) dan adem lagi ;)

Toko Batik Mirota ini menjual berbagai jenis barang yang bisa dijadikan buah tangan. Mulai dari jamu sampai baju, mulai dari kipas sampai tas, sagala aya (segala ada) pokoknya. Harganya juga tidak mahal. Ikat pinggang yang sama persis saya lihat di Thamrin City seharga 50rb (sudah ditawar), disitu hanya 33ribu. Beli bahan batik untuk seragam lebaran, 10 meter cuma 180ribu. Waduh, untung ga kalap belanjanya :D

Tiga hari berlibur ke Jogja, rasanya kurang lama. Masih banyak lagi tempat yang belum sempat kami kunjungi. Museum Ullen Sentalu, Pantai Parangtritis, Istana Ratu Boko, Rumah Mbah Maridjan, Jejamuran, House of Raminten serta SGPC (SeGo PeCel alias nasi pecel). Jogja, someday we'll be back!


"...Pulang ke kotamu, 
ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi 
saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja..."

Alamat-alamat:
*Taman Pintar
Jalan Panembahan Senopati No. 1-3
Yogyakarta 55122
Telpon 62 274 583 631-583 713
Koordinat GPS: S7°48'4.6" E110°22'2.3" 

Jadwal Buka
Selasa - Jumat pk 09.00 -16.00 WIB
Sabtu - Minggu pk 08.30 - 20.00 WIB
Senin tutup (kecuali hari libur nasional dan musim liburan sekolah)

Harga Tiket
Playground: gratis
Gedung PAUD: Rp 2000 / anak (2-7 tahun)
Gedung Oval & Kotak: Rp. 8.000 / anak, Rp. 15.000 / dewasa
Gedung Memorabilia: Rp. 3.000 / anak, Rp. 5.000 / dewasa
Teater 3D: Rp. 15.000 / orang 

*Mirota Batik
Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 9 Malioboro Selatan
Yogyakarta



Pulang Ke Kotamu (4)

Keraton

Matahari yang menyengat siang itu membuat anak-anak kepanasan dan mulai rewel. Jadi kami putuskan untuk naik becak saja ke Keraton. Tanpa ditawar, kami naik 2 becak @Rp10ribu untuk sekali jalan. Mungkin sedikit kemahalan, tetapi tidak tega menawarnya karena bapak pengemudi becaknya sudah setengah tua.

Tempat tinggal Sultan
Ternyata letak Keraton tidak terlalu jauh dari Taman Sari. Setelah membeli tiket dan meminta di dampingi seorang guide, kami mulai memasuki Keraton. Pengunjung Keraton diharapkan memakai pakaian sopan, tidak boleh memakai sendal jepit, celana pendek atau baju tanpa lengan. Untuk yang membawa kamera, ada tiket khusus kamera. Sedangkan untuk guide, mereka adalah para pegawai Keraton dan tidak menetapkan tarif, jadi kita berikan seikhlasnya saja. FYI saja, untuk setiap jasa guide di Jogja, angka 20ribu adalah angka yang wajar.

Museum
Di dalam Keraton, pengunjung bebas berfoto-foto. Ada ruang dimana pengunjung dapat menikmati suguhan gending jawa atau tarian di jam dan hari tertentu, juga ada koleksi barang-barang Raja/Sultan di ruang museumnya.

Abdi Dalem
Di sebuah sudut Keraton, tampak barisan abdi dalem sedang duduk bersila. Mereka adalah pensiunan pegawai negri sipil yang mengabdikan hidupnya untuk Raja. Kecintaan mereka kepada Raja-lah yang membuat mereka ikhlas digaji sangat kecil. Salah satu prinsip hidup yang saya kagumi dari orang Jogja: walau sudah tua, tapi tetap ingin memberi manfaat bagi orang lain *4jempol* Seperti juga Pak Poniman, supir kami kemarin, yang sudah pensiun dari pekerjaan sebelumnya, tetapi memilih menjadi supir charter-an karena ingin mengisi hari-harinya dengan kegiatan bermanfaat.

Pilihan menu Yu Djum
Puas melihat-lihat isi Keraton, kami melanjutkan perjalanan ke jalan Widjilan, tempat yang direkomendasikan bila ingin mencari gudeg dekat Keraton. Karena tidak terlalu jauh, kami hanya berjalan kaki. Dalam 10-15 menit, kami sudah sampai di jalan yang terdapat warung gudeg dari ujung ke ujung itu. Bingung memilih mana yang paling enak, akhirnya kami pilih gudeg Yu Djum untuk makan siang, nama yang paling familiar :)

Seporsi gudeg Yu Djum
Warung Gudeg Yu Djum ini hanya dapat menampung kurang dari 20 orang yang duduk secara lesehan. Biasanya, pengunjung dari luar kota juga memesan gudeg untuk dibawa pulang. Termasuk gudeg kering, sepiring gudeg Yu Djum ini perpaduan yang sempurna untuk mengisi perut keroncongan. Opor ayam kampungnya sangat lembut dan gurih (bisa juga pilih telur atau digabung keduanya), gudeg nangkanya manis, sedangkan kreceknya pedas mantap. Sluuuuurrpp!




Keraton
Jam Buka: 08.00 - 14.00 WIB
Tiket masuk:
    * Tepas Kaprajuritan: Rp. 3.000
    * Tepas Pariwisata: Rp. 5.000
Ijin kamera/video: Rp. 1.000
Jadwal pertunjukan harian di kraton
    * Senin - Selasa: Musik gamelan (mulai jam 10.00 WIB)
    * Rabu: Wayang golek menak (mulai jam 10.00 WIB)
    * Kamis: Pertunjukan tari (mulai jam 10.00 WIB)
    * Jumat: Macapat (mulai jam 09.00 WIB)
    * Sabtu: Wayang kulit (mulai jam 09.30 WIB)
    * Minggu: Wayang orang & pertunjukan tari (mulai jam 09.30 WIB)         





Pulang Ke Kotamu (3)


Taman Sari

Hari kedua di Jogja rencananya akan mengunjungi ke beberapa tempat wisata dengan naik becak/andong. Setelah sarapan di hotel, kami pun berjalan kaki ke Malioboro untuk mencari andong/delman. Tanpa perlu tawar-menawar yang alot, disepakati ongkos ke Taman Sari Rp20ribu. Delmannya cantik di cat warna hijau terang.

Tujuan pertama hari ini adalah Taman Sari. Sebuah taman pemandian yang dulunya eksklusif bagi raja/sultan beserta keluarganya. Sekarang tempat ini dibuka untuk umum. Di dalamnya kita bisa melihat 3 kolam pemandian (untuk raja, selir-selir dan putra-putrinya) serta beberapa ruangan seperti ruang salin/ganti baju para selir, ruang peristirahatan raja dan ruang sayembara.

Tempat istirahat Raja
Ruang sayembara terletak di lantai atas dengan jendela besar menghadap ke kolam. Konon raja memberikan sayembara untuk memilih selir yang akan menemaninya beristirahat. Diberikan kepada para selir yang sedang berkumpul di kolam bawah, sayembaranya dapat berupa pertanyaan atau menangkap bunga yang dilempar raja dari atas.


Ada yang unik di ruang salin selir. Sebuah wadah air terbuat dari keramik yang dulunya digunakan sebagai kaca untuk berdandan. Cermin ini memiliki makna bahwa manusia harus selalu menunduk dan berkaca, tidak boleh sombong.

Cermin
Rak baju di ruang salin











Kolam anak-anak
Kolam pertama yang letaknya pas di bawah ruang sayembara, adalah kolam pemandian Raja dan selir pilihannya. Kolam satunya lagi yang lebih besar adalah untuk para selir yang tidak terpilih mendampingi Raja beristirahat. Sementara kolam bagi putra-putri Raja letaknya terpisah dari 2 kolam lainnya dan airnya lebih dangkal.


Bila mengunjungi Taman Sari, sebaiknya memakai guide. Selain menceritakan sejarahnya, guide juga dapat membawa turisnya ke lorong-lorong bawah tanah yang dulu dilalui Raja bila ke Taman Sari. Terletak di antara perumahan penduduk, lorong bawah tanah ini sebagian sudah tertutup. Di dalam lorong terdapat 5 buah tangga yang mencerminkan Rukun Islam. Ditengah tangga inilah Muadzin berdiri saat mengumandangkan adzan.

Lorong bawah tanah
Tangga tempat muadzin














Alamat: 
Jl. Taman, Kraton, 
Yogyakarta 55133


Koordinat GPS: S7°48'36.4" E110°21'34.2"  

Jam Buka: Senin - Minggu, pukul 09.00 - 15.30 WIB

Tiket:
    * Wisatawan Domestik: Rp 3.000
    * Wisatawan Mancanegara: Rp 7.000
    * Guide: nego (Rp 10.000 - Rp 20.000)




Pulang Ke Kotamu (2)


Makan malam pertama di Jogja kali ini tujuannya ke Angkringan Nasi Kucing Lek Man. Berjalan kaki dari hotel, melalui Malioboro ke arah Stasiun Tugu. Setelah melewati rel kereta api, jalan lagi sedikit sampai ketemu belokan kiri pertama (bukan yang masuk ke stasiun), letaknya di sebelah kiri jalan, sekitar 20 meteran dari belokan tadi.

Di sini tersedia meja dan kursi untuk duduk, tapi bila ingin merasakan "the real Jogja" ada tempat lesehan pas di seberangnya. Nasi kucing dengan berbagai lauk gorengan tersedia menggoda selera. Bagi yang suka kopi, ada Kopi Joss yang merupakan kopi tubruk dicemplungin arang yang masih menyala. Katanya sih, enak. Tapi berhubung bukan penggemar kopi hitam, saya lewatkan menu unik yang satu ini.

Di angkringan Lek Man ini nasi kucing ada 2 pilihan: pedas dan tidak pedas. Yang pedas ada sambal kerang di dalamnya. 3pzh tentu memilih yang tidak pedas. Lauk berupa sate telur puyuh, baceman tempe, aneka gorengan bisa minta dipanaskan sama si mas yang melayani. Zi sampai nambah. Makan berlima plus minum 2 jeruk panas dan 2 teh manis panas tidak sampai Rp.30ribu.


Ingin rasanya mencoba tongseng asli Jogja, makanan favorit saya dan hubby. Tapi berhubung tidak tahu jalan dan ada pesan dari Pak Poniman agar hati-hati dengan "tongseng jamu" jadi tidak berani deh. Tongseng jamu adalah tongseng yang isinya daging anjing. Tidak disebut tongseng asu (bahasa jawanya anjing) karena kedengarannya kasar. Banyak dijual seputaran Jogja karena digemari bahkan oleh mereka yang muslim. Astaghfirullah.


Jalan kaki pulang ke hotel, kami menemukan penjual wedang ronde dan sate ayam di jalan Dagen. Zi yang sudah ribut kelaparan (lagi), minta dibungkuskan untuk dimakan di hotel. Sambil menunggu pesanan selesai, kami nongkrong menikmati wedang ronde yang ukuran rondenya nyaris sebesar bola golf. Tapi di foto tidak terlihat rondenya karena tertutup kolang-kaling, kacang goreng dan potongan roti yang hampir memenuhi mangkok. Untuk harga, mungkin karena jualannya dekat hotel, sama seperti di Jakarta. Wedang ronde Rp5ribu/mangkok dan sate ayam Rp10ribu/porsi.

Badan yang lelah setelah seharian jalan-jalan, ditambah dengan perut yang kenyang, menyempurnakan istirahat malam pertama di Jogja. Besok, masih ada Taman Sari, Keraton, dan Taman Pintar yang akan dijelajahi. Ikuti ceritanya di bagian ketiga yaaa ;)




Alamat:

Angkringan Lek Man
Jl wongsodirjan di sisi stasiun KA Tugu 
HP 081578487778

Pulang Ke Kotamu (1)





"...Pulang ke kotamu,
ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja..."

Lirik lagu Yogyakarta dari KLa Project ini selalu terngiang di telinga setiap kali kata Jogja atau Yogyakarta terucap. Kota yang masih memelihara warisan budaya leluhurnya ini memiliki penduduk yang ramah dan selalu berhasil membuat saya kangen walau bukan orang Jogja.

Ini adalah kunjungan kami yang kedua. Bedanya dengan yang pertama, kali ini naik pesawat dan sudah ada Za. Tiket pesawat, seperti biasa, dibeli saat ada promo Big Sale setahun lalu sehingga dapat yang 500ribu untuk berlima, PP. Seminggu sebelum berangkat baru tahu ternyata tanggal yang dipilih pas saatnya liburan UAN SD. Kebetulan yang menyenangkan, karena Zi tidak harus bolos sekolah.

Tiba di bandara Adi Sutjipto jam 7 pagi, kami sudah dijemput mobil sewaan yang dipesan melalui kenalan orang lokal disana. Untuk mobil Avanza (termasuk supir, diluar bensin) rate-nya 350ribu untuk 12 jam. Hari ini rencananya kami akan mengunjungi Borobudur, museum Ullen Sentalu, Kaliurang, markas Dagadu dan bakpia Merlino.

Sempat kaget waktu tahu tidak ada penjualan makanan di pesawat, kecuali yang sudah memesan via online booking. Hal ini dikarenakan waktu penerbangan yang sangat singkat. Akibatnya, gembel di perut sudah mulai protes saat jam 8 belum diisi. Kami pun mampir dulu di Soto Kadipiro Pito, cabang jalan Wates, untuk sarapan sebelum ke tujuan pertama.

Soto Kadipiro adalah rumah makan sederhana yang menyediakan soto ayam dan daging beserta makanan pendamping seperti ayam goreng, tahu bacem dan hati ampela. Semua makanan di situ patoet dipoejikeun rasanya, kecuali ayam gorengnya. Sotonya terasa gurih dan bacemannya enak-enak,tapi ayam gorengnya alot (mungkin karena ayam kampung jantan). Entah karena lapar atau memang beneran doyan, 3pzh terlihat lahap sekali menghabiskan makanan mereka. Untuk 5 nasi, 4 soto, 1 ayam, 3 tempe, 2 tahu, 1 kerupuk, 3 teh manis panas, dan 1 tape panas totalnya hanya 60ribu. Pas di lidah, pas di kantong lah pokoknya :D

Perjalanan pun dilanjutkan. Sepanjang perjalanan menuju Borobudur, di kanan kiri jalan tampak bekas aliran muntahan merapi di sungai-sungai di bawah jembatan. Pak supir yang bernama Poniman ini sangat ramah dan pandai bercerita. Beliau mengemudi sambil menceritakan peristiwa meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu lalu yang memakan banyak korban. Sementara itu Zi terlihat sibuk mengabadikan semuanya dengan kamera saku yang selalu tergantung di lehernya dan membuat catatan perjalanan di buku tulis yang selalu dibawanya di dalam "tas kerja" (istilah Zi untuk tas sagala aya-nya).

Pak Poniman menyarankan bila ingin ke Borobudur waktu yang tepat adalah sebelum jam 12 pagi. Kalau tidak, di atas candi nanti akan terasa panas sekali. Jadi sebaiknya siapkan topi dan payung untuk melindungi kepala dari teriknya matahari.

HTM (Harga Tiket Masuk) Borobudur adalah untuk dewasa @30rb dan anak2 @12.500 jadi untuk kami berlima total 103rb sudah termasuk mobil. Sebelum naik ke candi, pengunjung dewasa diwajibkan memakai kain batik dulu, tanpa dipungut biaya. Berbeda dengan tahun 2008 waktu pertama kali kami ke sana, sekarang ada kereta yang mengantarkan pengunjung sampai ke dekat candi dengan hanya membayar @5rb (dibawah 3 tahun gratis). Asyiknya, tiap tiket mendapatkan 1 botol air mineral gratis. Lumayaaan :)

Ada banyak penjual topi dan berbagai souvenir di kawasan wisata itu. Karena mengikuti saran Pak Poniman, kami tidak membeli apapun disitu. Katanya, bila kita membeli, maka akan diikuti oleh serombongan penjual yang menawarkan dagangannya dengan setengah memaksa. Gak nyaman banget kan? Jadi kami hanya menyewa payung seharga Rp5ribu untuk 2 payung karena lupa membawa topi untuk anak-anak.

Borobudur sekarang lebih teratur dan bersih dibandingkan 4 tahun lalu. Mungkin karena para penjual dilarang naik sampai ke pelataran candi. Banyaknya satpam yang patroli juga menambah rasa aman. Senang melihat tempat sampah di beberapa sudut candi. Semoga wisatawan mau membuang sampah pada tempatnya. Miris saat melihat relief dan stupa-stupa yang rusak, tapi syukurlah perbaikan sedang dalam proses.

Dari Borobudur, kami langsung meluncur ke Ullen Sentalu. Museum unik ini berada di daerah Kaliurang. Sayangnya, saya lupa peraturan museum yang selalu buka di hari Sabtu dan Minggu, tetapi tutup di hari Senin. Hadeeeh, kecewa banget rasanya. Padahal sudah sampai di depan pintunya :'(

Mengobati kekecewaan, mobil pun diarahkan ke kawasan wisata Merapi di Kaliurang. Melewati pemandangan yang sawah yang hijau dan udaranya yang sejuk, benar-benar bikin hati adem. Jendela mobil sengaja dibuka agar kami bisa merasakan sejuknya udara pegunungan.

Parkir di depan warung-warung yang menyediakan oleh-oleh dan makanan, mata saya mencari-cari sebuah warung rekomendasi dari TL-nya @arieparikesit, salah seorang member milis Jalan Sutra yang juga pemilik Kelana Rasa. Akhirnya saya menemukannya, Warung Mbah Carik.

Warung ini menyediakan makanan khas daerah Kaliurang, yaitu jadah tempe yang dimakan dengan cabe rawit. Perpaduan ketan putih (jadah) dengan tempe bacem yang rasanya antara gurih, manis dan pedas ini cukup enak dan mengenyangkan. Harganya pun sangat murah, hanya Rp.1.200/porsi (1jadah+1tempebacem). Selain itu juga tersedia wajik dan beberapa camilan lainnya. Wajiknya enak, tidak terlalu manis seperti rasa wajik pada umumnya. Harganya hanya Rp.400/potong. Cocok disantap sebagai teman minum teh atau kopi panas di udara dingin seperti saat itu.

Kawasan wisata kaliurang sebenarnya tidak hanya terbatas di pelataran parkir itu. Pengunjung bisa naik ke atas gunung, seperti yang dilakukan Zi seorang diri dengan hanya bermodalkan HT untuk berkomunikasi dengan kami. Zi the explorer berjalan-jalan sendiri (tapi diikuti oleh ayahnya dari jauh) sambil mengambil foto-foto hewan liar yang banyak terdapat di pepohonan sekitar situ, seperti monyet dan tupai.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Dagadu dan Bakpia Merlino untuk membeli oleh-oleh. Kalau anda naik becak di tengah kota, biasanya dengan hanya membayar Rp.10.000 sudah bisa keliling kota Jogja dan diantar ke toko oleh-oleh. Tapi hati-hati, biasanya anda akan diantar ke toko Dagadu palsu yang produknya overpriced (karena mereka harus memberikan tip pada tukang becak/andong yang mengantarkan wisatawan ke sana). Dagadu tidak memiliki cabang, tapi punya outlet di Malioboro mal. Diluar itu sudah dapat dipastikan, palsu.

Mendapat rekomendasi dari teman, saya berburu bakpia terenak (tapi tidak banyak yang tahu) yang lokasinya tidak jauh dari Dagadu. Bakpia Merlino, namanya. Menjual berbagai macam oleh-oleh khas Jogja, termasuk coklat Monggo. Sayang saat itu bakpia kejunya belum matang. Oleh penjaga tokonya disarankan untuk ke pusatnya saja. Meluncur lah kami ke sana untuk berburu bakpia keju idaman. Alhamdulillah, stok tersedia. Kalau disini, jangan lupa sekalian beli minuman secang instan. Semacam wedang berwarna merah, yang rasanya enak bila diminum hangat-hangat.

Jalan-jalan dan oleh-oleh sudah, sekarang waktunya check in hotel. Mencari hotel di Jogja tidaklah mudah. Kata Pak Poniman, sering penuh karena di Jogja banyak diadakan international events. Jadi harus book jauh-jauh hari. Go show sangat tidak disarankan. Saat ini ada 3 hotel bintang 5 yang sedang dalam tahap pembangunan untuk mengantisipasi kebutuhan akomodasi wisatawan Jogja.

Bagi kami yang memiliki 3 anak masih kecil-kecil dan tidak mungkin tidur terpisah, perlu triple room atau family room. Sayangnya kamar jenis ini susah di dapat di hotel-hotel tengah kota, biasanya banyak terdapat di cottage luar Jogja. Bermodalkan browsing akhirnya kami mendapatkan hotel dengan kriteria idaman: triple room, ada kolam renang, dan hanya 5 menit jalan kaki ke Malioboro. Hotel Petimas di Jalan Dagen.

Hotel kecil berlantai 2 yang asri dengan karyawannya yang ramah dan sangat membantu. Cocok sebagai hotel keluarga yang punya anak kecil. Untuk triple room rate-nya Rp.648ribu/malam. Harga kamar sudah termasuk snack sore (teh+camilan diantar ke kamar) dan sarapan untuk 2 orang di restorannya. Rasa makanannya pun enak, untuk nasi goreng dan mi gorengnya. Tapi untuk sarapan yang free (termasuk harga kamar), harus pesan dulu dari sore mau sarapan apa (pilihannya: buryam, nasgor dan migor). Pesannya ke petugas yang mengantarkan snack sore ke kamar.

Dari hotel jalan kaki ke Malioboro hanya 5 menit kurang. Strategis sekali. Dekat kemana-mana. Bahkan di mulut gang ada cabang Gudeg Yu Djum yang terkenal itu. Sekitar jalan Dagen sendiri ada minimart, atm Mandiri, pangkalan becak dan mobil charteran. Jajanan seperti sate ayam dan nasi kucing juga ada. Lingkungannya yang selalu ramai sampai larut malam, memberikan rasa aman untuk wisatawan yang harus pulang larut ke hotel.

Bagaimana kisah selanjutnya? Naik apa keliling Jogja? Ada apa di Taman Sari? Apa itu Taman Pintar? Ikuti terus kisah perjalanan kami di Jogja selanjutnya ;)




Alamat-alamat:

1.Soto Kadipiro Pito
Cabang Jalan Wates
Jl. Magelang KM 9,5
Mulungan, Sleman, Jogja

2.Borobudur
Magelang, Jawa Tengah
Koordinat GPS: S7°36'28.3" E110°12'13.5"

3.Museum Ullen Sentalu
Jl Boyong, Kaliurang
Telpon 0274-895161/880158


4.Dagadu
di Malioboro Mall, di Jalan Pakuningratan, dan di Ambarukmo Plaza. 

5.Bakpia Merlino
Jl RE Martadinata 24B, telpon 0274588036
Jl Panuningratan 55, telpon 0274562334
Buka jam 7-20

6.Coklat Monggo
*Mirota Batik Malioboro
Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 9 (Malioboro Selatan) Yogyakarta
*Hero Malioboro
Jl. Malioboro ( Malioboro Mall) Yogyakarta
*KF Malioboro
Jl Malioboro 21 

7.Hotel Petimas
Jl. Dagen 27
Yogyakarta
Telp. 0274-561938 - 513191
Fax. 0274-580188
www.yogyes.com/peti-mas
petimas@yahoo.com