Showing posts with label liburan keluarga. Show all posts
Showing posts with label liburan keluarga. Show all posts

Kota Tua Di Malaka



TBS
Sehabis shalat subuh, kami langsung menuju TBS (Terminal Bersepadu Selatan) naik taksi yang sudah dipesan dari resepsionis hotel semalam. Ongkos taksi dari hotel ke TBS hanya RM35. Untuk naik bis menuju Malaka (Malacca) harus ke TBS. Terminal ini besar sekali dan hampir mirip bandara.

Udara dalam terminal sangat dingin, entah karena masih pagi atau memang AC-nya. Perut pun langsung teriak minta diisi. Di minimarket dekat deretan konter check in, kami membeli mie cup (cup noodle) dan bubur cup (cup porridge) tinggal seduh untuk sarapan. Air panas untuk menyeduh tersedia gratis.

Selesai mengisi perut, kami beranjak menuju konter check in yang berjajar rapi. Walau harus mengantri, ternyata para penumpang yang jam keberangkatannya sudah dekat, didahulukan agar bis bisa sesuai jadwal. Jam 7.45 kami check in di konter Konsortium Bas Express. Bis kami dijadwalkan berangkat jam 8.15 dengan waktu perjalanan kurang lebih 3 jam. Sepanjang perjalanan, anak-anak lebih memilih tidur.

Bis no 17
Tiba di Malaka Central Bus Station jam 11an, tujuan pertama kami adalah bagian informasi. Petugasnya menginfokan, untuk ke kota tua (old town) bisa naik bis no 17 atau naik taksi. Ongkos taksi RM20, sedangkan bila naik bis hanya RM0.70 untuk dewasa dan RM0.30 untuk anak-anak (za belum bayar, zi dihitung dewasa). Tiket bis dapat dibeli langsung dari supirnya saat akan naik bis. Oiya, bila diperlukan Peta Malaka juga bisa dibeli di tempat informasi ini.

Masih banyak waktu, kami pun berjalan-jalan di dalam stasiun. Toko-tokonya lumayan lengkap. Dari toko baju, sepatu dan tas, rumah makan sampai kios koran ada di situ. Seperti terminal Blok M, Jakarta Selatan.

Tempat penitipan tas
Kami juga menemukan tempat penitipan tas. Daripada jalan-jalan membawa tas yang berat, sebaiknya tas dititipkan saja. Biayanya cuma RM7 untuk 2 tas (1 ransel dan 1 travel bag), tergantung besar kecilnya tas. Pastikan anda mengambil tas sebelum jam tutupnya yaitu jam 9 malam, kalau tidak mau menunggu sampai keesokan harinya.

Akhirnya kami putuskan untuk naik bis saja. Saat membeli karcis, jangan lupa bilang supirnya untuk turun di Church. Dari church nanti bisa naik becak untuk city tour atau naik river cruise.

Church
Setelah foto-foto di Church, kami berjalan mencari konter penjualan tiket river cruise. City tour dengan river cruise memberikan pengalaman tersendiri bagi 3pzh. Seperti waktu di Thailand. Bedanya kali ini kapalnya lebih besar dan sungainya di tengah kota. Sambil mendengarkan tour guide berkisah tentang sejarah kota Malaka, mata dihibur dengan lukisan indah yang menghiasi dinding rumah sepanjang sungai.

Pintu Air
Mencari makanan halal di Malaka, tidak mudah. Berjalan kaki dari kota tua sampai ke Jalan Tangkera (ada masjid disitu), tetap tidak ditemukan. Mungkin karena masih libur lebaran. Tapi kami sempat mampir disebuah kedai es krim durian. Di udara sepanas ini, es krim cukup menenangkan anak-anak yang sudah mulai protes kelaparan. Setelah cukup lama berjalan kaki dan tetap tidak menemukan restoran halal yang buka, akhirnya kami naik taksi kembali ke Central Station yang tadi pagi.

Di stasiun ini berbagai makanan halal mudah ditemui, baik di daerah Medan Selera (foodcourt) maupun di dalam stasiunnya. Bagi yang kangen makanan Indonesia, seperti mi bakso dan ayam penyet, banyak penjualnya di sini.

Bus menuju Johor Bahru (JB) berangkat sekitar jam 16.30 dari stasiun sentral Malaka. Setelah makan, shalat, mengambil tas yang dititipkan dan check in di konter Malacca Singapore Express, kami beristirahat di ruang tunggu. Ada kursi pijat otomatis dengan biaya RM5 untuk beberapa menit pelayanan. Lumayan lah bisa melemaskan otot -otot yang pegal setelah berjalan kaki tadi :-)

Perjalanan naik bis dari Malaka ke JB dijadwalkan sekitar 2 jam saja. Namun demikian, kami tetap membeli beberapa roti isi untuk bekal perjalanan. Berjaga-jaga bila sampai di JB kemalaman dan semua restoran sudah tutup.













Semalam Di Kuala Lumpur



Untung 3pzh tidak susah dibangunin pagi ini. Setelah mandi dan shalat subuh, kami pun berjalan kaki menuju stasiun bis Penang Komtar. Hanya butuh waktu kurang dari 20 menit, itupun jalannya santai tidak terburu-buru.

Sampai disana, ternyata konter tempat check in Newsia Express Service Central belum buka. Tiket bis Newsia Express ini bisa dibeli melalui internet di easibooking.com . Ada beberapa pilihan operator bis dengan tujuan yang sama. Pilih saja yang sesuai dengan jadwal dan kantong anda.

Perut mulai keroncongan, tapi banyak toko masih tutup. Untungnya ada toko kecil yang menjual bubur cup instan berlabel halal dan menyediakan air panas untuk menyeduhnya. Lumayan untuk sarapan, selain biskuit dan susu yang memang sudah kami bawa.

Bis datang sedikit terlambat. Setelah check in di konter, para penumpang antri dengan tertib memasuki bis setelah sebelumnya menyimpan tas besar di bagasi yang terletak di bagian luar bawah bis. Kursinya diberi nomor urut, bisa dimaju-mundurkan untuk kenyamanan selama perjalanan. Sayang tidak tersedia hiburan selain musik pilihan supir yang diputar di music player. Perjalanan 5 jam menuju KL kebanyakan kami isi dengan tidur, menuntaskan tidur yang belum tuntas semalam.

Bis hanya stop 1 kali di terminal Sungai Nibong untuk mengangkut penumpang sebelum perjalanan nonstop ke KL. Sebaiknya gunakan waktu tersebut untuk ke kamar mandi karena tidak ada kesempatan lagi hingga tiba di KL.

Tiba di KL Sentral bus station sekitar jam 14 waktu setempat, atau sejam lebih lama dari yang dijadwalkan. Keterlambatan disebabkan oleh macetnya jalan tol. Kata supir, ini biasa terjadi di hari kerja, terutama hari pertama setelah libur panjang.

Dari stasiun kami langsung naik LRT dan disambung monorail menuju stasiun Medan Tuanku, stasiun terdekat dari Tune Hotel Downtown KL tempat kami akan menginap. Sebenarnya lebih cepat dan efisien kalau naik taksi bila teman perjalanan ada lebih dari 2 orang. Tetapi anak-anak tentunya lebih senang kalau bisa merasakan naik kereta.

Tune hotel downtown KL letaknya tidak jauh dari stasiun Medan Tuanku, sekitar 10 menit jalan kaki. Kamarnya lebih luas dibandingkan yang di Penang. Warna hitam merah mendominasi interior hotel dan kamarnya. Karena rencananya besok pagi-pagi harus mengejar bis lagi ke Malaka, di KL ini hanya untuk numpang tidur. Jadi kami tidak memesan handuk dan hanya memesan paket yang 12 jam saja.

Sebenarnya bisa saja kami tidak mampir di KL. Tapi berarti harus bermalam di bis dan sampai keesokan paginya di Malaka. Kasihan anak-anak, pasti capek sekali. Mereka pun sudah tidak mau ke Petrosains, apalagi ke Twin Tower dan KL Tower. Bosan, katanya.

Selesai shalat, kami pun kembali ke stasiun Sultan Ismail untuk naik LRT menuju Masjid Jamek untuk makan siang dan menjelajah kota KL. Keluar dari hotel, belok kanan naik jembatan penyebrangan ke arah stasiun. Tiket bisa dibeli di counter maupun langsung di mesin dengan memasukkan sejumlah uang kertas. Harga tiket tergantung stasiun tujuan. Dari stasiun Sultan Ismail ke stasiun Masjid Jamek harga tiketnya RM1.20/orang (za belum bayar).

Di Suria Park, taman dibelakang Suria KLCC Mall setiap hari libur ada pertunjukan Air Mancur Menari (water dance) pada jam-jam tertentu. Air mancur yang bergerak seolah-olah menari mengikuti alunan musik dengan tata cahaya lampu warna-warni, seperti yang bisa kita saksikan juga di Bundaran HI atau di Monas dulu.

Sudah hampir jam 22 saat kami beranjak meninggalkan Suria Park setelah show terakhir water dance. Perut yang sedari tadi kenyang diisi camilan mulai teriak minta diisi. Tentunya tidak mungkin mencari makanan di dalam mal jam segitu, karena sudah tutup. Maka kaki pun dilangkahkan keluar mal ke arah kanan menuju Restoran Nasi Kandar Pelita yang buka 24 jam. Menunya yang beragam dan rasanya yang khas menjadikan restoran ini salah satu yang wajib anda kunjungi bila sedang di KL.

Gagal mencoba Sup Lembu Hameed di Penang, kami pun tergoda mencicipi sup lembu di restoran ini. Supnya gurih sekali, dengan kuah kental dan daging sapi yang tak perlu perjuangan menggigitnya. Nasi kandar dengan berbagai menu yang disajikan secara prasmanan benar-benar membuat kalap. Hampir lapar mata melihat udang-udang besar itu x_x

Setelah perut kenyang, barulah kami kembali ke hotel naik LRT untuk beristirahat.














Menjelajah Kota Penang



Mendengar kata Penang, yang teringat pertama kali adalah kota tujuan kedua bagi orang Indonesia berobat di luar negri, setelah Singapore. Seperti juga daerah bagian Malaysia lainnya, disini pertemuan 3 etnis: Melayu, Cina dan India, dapat dilihat dari keragaman kuliner dan arsitektur kotanya.

Pulau kecil yang terletak di sisi barat semenanjung Malaysia ini memberikan banyak kejutan sejak kedatangan di airport-nya. Walau kecil, tapi airport Penang rapih dan bersih. Taksinya banyak juga yang memakai merk mobil mewah seperti Mercedes Benz. Tapi sayangnya tidak semua pengemudinya bersedia mengangkut 5 penumpang sekaligus untuk taksi yang tipe sedan :(

Bagi kami berlima (walau yang 3 masih anak-anak), harus lebih sabar mengantri sampai ada pengemudi taksi yang bersedia mengangkut kami semua. Kalau yang tipe minibus seperti Innova gitu sih, pasti mau ngangkut penumpang lebih dari 4. Tapi taksinya kebanyakan tipe sedan waktu kami disana. Untuk taksi, beli tiketnya di stand White Taxi, yang letaknya sebelah kanan bangunan airport. Bayar disitu, tanpa argo dan tawar menawar. Jadi lebih aman bagi pendatang, tidak perlu takut tertipu.

Penginapan di Penang beraneka ragam. Dari yang kelas melati sampai berbintang, lengkap tersedia. Tapi karena kami mencari yang di tengah kota (sekitar Komtar), dipilih lah Tune Hotels. Lokasinya sekitar 15 menitan jalan kaki dari Komtar. Dibawah gedungnya ada Seven Eleven, jadi tidak usah takut kalau kelaparan tengah malam, ada banyak dijual camilan disitu dan bukanya 24 jam. Kenapa harus dekat Komtar? Karena lusanya kami harus naik bis pagi-pagi dari stasiun Komtar untuk ke Kuala Lumpur.

Kami belum pernah menginap di Tune Hotels sama sekali. Bayangan kami kamar hotelnya jelek seperti hotel-hotel kecil lainnya. Ternyata, walau kecil, kamarnya nyaman dan sesuai kebutuhan. Tanpa TV dan kulkas, desain kamarnya modern minimalist dengan tempat tidur ukuran queen dan kamar mandi berfasilitas shower dan kloset duduk. Kasurnya empuk dan seprainya pun putih bersih. Diluar ekspektasi lah pokoknya.

Kalau menginap 2 malam disini, disarankan mengambil paket full service utk malam pertama dan paket yang 12 jam untuk malam berikutnya. Kombinasi paket seperti itu sesuai kebutuhan untuk 2 malam. Tidak berlebihan. Tidak pakai AC pun tidak apa-apa. Ditengah kamar, diatas tempat tidur ada kipas angin besar. Kalau ingin berhemat dan tidak ada alergi debu, kamar tanpa AC sudah memadai untuk diinapi.

Tidak jauh dari hotel ada supermarket Giant, mal, dan food court. Di jalan Nagore dekat hotel juga banyak restoran, termasuk Cafe Si Tigun, yang sering direkomendasikan di milis JS. Tapi karena gagal menemukan tanda halal, terpaksa kami lewatkan.

Untuk makanan, di dekat hotel ada restoran Old Town White Coffee (OTWC) yang memajang tanda halal besar-besar di dinding luarnya. Tempatnya nyaman, ada yang outdoor juga indoor, dan di depannya ada air mancur yang keluar dari lantai. Lumayan untuk hiburan anak-anak selama menunggu pesanan disajikan.

Harga paket makanan di OTWC juga tidak mahal. Untuk paket seharga RM 10-16an sudah termasuk makanan utama (nasi ayam atau macam-macam mie malaysia), minuman (lemon tea, kopi atau teh manis)dan makanan penutup (es krim, cendol atau es kacang). Ada juga paket keluarga.

Untuk menjelajah kota Penang, disarankan memilih transportasi umum seperti bis, karena ongkos taksi cukup mahal. Naik bis, jauh-dekat hanya RM2 (za belum bayar). Sebaiknya membayar dengan uang pas bila naik bis, karena supir tidak menyediakan uang kembalian.

Stasiun bis di dekat Komtar, seperti juga stasiun bis pada umumnya, tidak terlalu bersih. Tapi dibandingkan dengan terminal Blok M atau Senen, stasiun ini lebih teratur dan canggih. Dari layar di dinding bisa dipantau apakah bis yang ingin dinaiki sudah jalan dari pemberhentian sebelumnya, sehingga bisa diketahui berapa menit lagi akan tiba di stasiun itu. Keren kan?

Naik bis disini tertib, tidak ada dorong-dorongan. Penumpang harus mengantri di jalur bis yang sesuai dengan nomor bis yang dituju (jalur/lorong 2 untuk bis ke Penang Hill/Bukit Bendera, dengan nomor bis 204). Kemudian masuk dari pintu depan bis (pintu belakang hanya untuk keluar), membeli tiket dari supirnya, lalu mencari tempat duduk bila ada (kalau tidak ada maka harus siap-siap berdiri).

Bis no 204 ini juga melewati Kek Lok Sie, kuil yang dibangun di atas bukit dan terdapat patung dewa Kwan Yin yang sangat besar. Tapi karena sudah siang dan tujuan kami adalah stopan terakhir, yaitu Bukit Bendera atau Penang Hill, jadi kami tidak mampir ke kuil tersebut.

Di Bukit Bendera, bisa naik cable car ke atas bukit, untuk melihat kota Penang dari ketinggian sambil menikmati udara sejuk. Selain itu juga tersedia restoran dan toko souvenir. Tiket untuk 2 dewasa dan 3 orang anak RM75. Antrian untuk membeli tiket maupun masuk ke kereta, cukup panjang saat liburan seperti ini. Di kereta, carilah gerbong paling depan agar anak-anak bisa melihat jalur yang dilalui dari kaca depannya. Seru dan menegangkan, terutama saat turun.

Selesai dari Bukit Bendera, perjalanan dilanjutkan ke Jetty dengan naik bis yang sama, nomor 204. Dari stasiun Jetty, berjalan kaki melewati Little India dan rumah makan Kapitan (spesialis makanan India seperti Nasi Briyani, Roti naan, dll.), ada sebuah mesjid bersejarah, namanya Masjid kapitan Kling (Kapitan Kling Mosque).

Persis di sisi kanan depan masjid, ada penjual nasi kandar terkenal, yaitu Nasi Kandar Beratur yang sudah berjualan sejak 1943. Walau hanya berupa warung tenda sederhana, warung yang buka sampai jam 10 malam ini, diantri pembelinya. Selesai shalat, bisa makan siang disini sambil berteduh dari terik matahari.

Dari masjid, kami berjalan kaki sekitar 1 km menuju Fort Cornwallis. Benteng bersejarah yang mengambil nama seorang Governor-General di Bengal pada akhir tahun 1700an, Charles Cornwallis, lokasinya dekat Esplanade dan disebelah Victoria Memorial Clock. Dindingnya setinggi sekitar 10 kaki dan di dalamnya masih dapat dilihat peninggalan lebih dari seratus tahun lalu berupa sebuah chapel, penjara dan ruang penyimpanan senjata.

Di sepanjang pantai dekat benteng ini banyak dijual rujak dan makanan minuman ringan lainnya. Walau judulnya pantai, tapi kita tidak bisa main pasir atau berenang di laut. Tapi untuk anak-anak tersedia 2 taman bermain.

Naik free shuttle dari seberang Fort Cornwallis dan turun di Jalan Penang, maksud hati ingin makan malam di Sup Lembu Hameed yang terkenal. Apa daya, hari itu restoran masih tutup karena lebaran. Akhirnya kami makan di rumah makan Jaya yang buka 24 jam. Lokasinya masih di Jalan Penang. Berbagai menu dari nasi kandar, roti canai sampai martabak tersedia disini. Tapi juaranya adalah mee goreng.

Sebenarnya di seberang Sup Lembu Hameed juga ada Red Garden Cafe (semacam food court) yang banyak direkomendasikan di internet. Tapi karena melihat tempatnya, lagi-lagi, sangat meragukan kehalalannya, kami lewati saja. Di Penang penduduk etnis cina-nya lebih dominan, bagi turis muslim sebaiknya lebih berhati-hati memilih tempat makan. Walau menunya tidak menggunakan daging babi, tapi etnis ini suka sekali memasak dengan lard (lemak/minyak babi).

Char Kwey Teow (di Indonesia biasa disebut kwetiau), kuliner Penang yang wajib dicoba pun, sangat sulit mencari yang benar-benar halal. Pemakaian lard dalam pengolahannya yang membuat aromanya otentik. Sehingga tanpa lard, bisa dipastikan rasa dan aromanya berbeda dengan yang "asli". Itu kata mereka yang sudah mencoba versi halal dan non-halal.

Daripada ragu dengan kehalalan char kwey teow yang ada, coba saja kuliner Penang lainnya seperti Prawn Noodles, Laksa Asam atau Nasi Kandar. Yang penting, pastikan penjualnya bersertifikasi halal atau hanya menggunakan bahan-bahan yang halal.

Restoran Nasi Kandar yang wajib dikunjungi diantaranya adalah Nasi Kandar Line Clear dan Nasi Kandar Yasmeen. Letak restorannya bersebelahan. Bila dari jembatan penyebrangan dekat Komtar, berjalan kaki menuju Jalan Penang, maka posisinya ada disisi kanan jalan. Di seberang kantor polisi.

Ternyata 3 hari 2 malam tidak cukup untuk menjelajah Penang dan mencicipi kulinernya. Walau banyak berjalan kaki dan naik bis, 3pzh tidak terlihat mengeluh capek atau bosan. Mereka bahkan menikmati saat-saat mencicipi makanan yang baru kali ini dengar namanya. Ternyata liburan sambil wisata kuliner dapat mengajarkan anak-anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru.























9 Hari 5 Kota



Liburan selama 9 hari menjelajahi 5 kota, bukan hal luar biasa. Tapi kalau itu dilakukan bersama 3 anak usia 4-12 tahun, banyak cerita seru di dalamnya :D

Anak-anak sudah mulai besar, liburan panjang kali ini harus beda dengan yang sebelumnya. Kami ingin mencoba liburan a la turis ransel (back packing tourist). Menjelajah dari satu kota ke kota lainnya, cukup dengan ransel di punggung. Tidak perlu repot geret-geret koper. Apalagi rencananya akan naik bis dan alat transportasi darat lainnya. Bawaan harus ringkas dan tidak terlalu berat.

Awalnya ragu, apa anak-anak nyaman di perjalanan nanti? Bagaimana dengan makanan mereka? Mereka bisa cukup istirahat gak? Gimana kalau sakit? Dengan mengucap bismillah, akhirnya kami tetap pergi. Kalau tidak pernah dicoba, kan tidak akan pernah tahu? ;)

Agar liburnya bisa agak lama, dipilih waktu libur lebaran. Hanya hubby yang perlu memperpanjang cuti karena kantor mulai masuk tanggal 12 Agustus, seminggu sebelum sekolah dimulai. Berangkat ke Penang di hari lebaran kedua (tanggal 9 Agustus 2013) dan pulang tanggal 17 Agustus 2013 dari Singapore.

Moda transportasinya dipilih pesawat, bis antar kota, kereta/MRT dan monorail. Taksi hanya alternatif, kalau keadaan tidak memungkinkan naik bis. Anak-anak suka sekali naik alat transportasi yang tidak biasa mereka gunakan, seperti MRT dan monorail. Apalagi kalau diperbolehkan memegang sendiri kartunya.

Pengalaman naik bis antar kota juga akan menjadi pengalaman baru bagi anak-anak. Sekalian mengajarkan mereka bagaimana bertoleransi dengan penumpang lain dalam perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu. Biasanya kan kalau di mobil sendiri mereka suka ribut dan jumpalitan. Di angkutan umum mereka harus belajar 'behave' :D

Sedangkan untuk akomodasi, seperti biasa, dipilih yang tidak terlalu mahal, ditengah kota, dan disekitarnya ada yang jual makanan halal. Akomodasi yang mahal, mubazir. Karena biasanya kami keluar hotel pagi setelah sarapan dan kembali malam, setelah makan malam. Cuma untuk numpang tidur dan mandi, untuk apa bayar mahal? Ditengah kota atau minimal dekat stasiun kereta, akan memudahkan bila ingin kemana-mana. Adanya penjual makanan halal dekat penginapan akan memudahkan bila tengah malam tiba-tiba kelaparan :))

Tas yang kami bawa terdiri dari 1 ransel besar untuk baju, 2 ransel kecil (untuk snacks dan pakaian ganti kalau keringatan) dan 2 tas selempang (untuk dompet, dokumen dan tisu). Masing-masing anak membawa botol air sendiri dan topi.

Baju di dalam ransel besar dibagi dalam 6 kantong plastik. Lima kantong baju masing-masing untuk 1 hari keperluan sekeluarga, dan 1 kantong khusus baju tidur dan peralatan shalat. Maksudnya, selain agar ringkas juga bila hujan baju tidak akan basah, walau bahan ransel lebih tipis dari koper.

Dari Jakarta - Penang dan Singapore - Jakarta naik AA. Sementara dari Penang-KL, KL-Malaka, Malaka-JB dan JB-Singapore naik bis. Di masing-masing kota tersebut, kami lebih banyak naik bis dan jalan kaki. Hanya 3-4 kali naik taksi. Sunscreen harus siap di tas agar terhindar dari sunburn.

Over all, walau melelahkan, pengalaman liburan kali ini lebih seru dan menyenangkan. Anak-anak puas sekali bermain dan mencoba hal baru. Liburan ini juga mengajarkan kami sekeluarga untuk lebih banyak bersabar, bertoleransi dan tepat waktu. Liburan berikutnya, kemana lagi yaaa?



P.S.:
Catatan perjalanan kami di tiap kota akan saya tulis di posting-an berikutnya. Ditunggu yaa ;)




Bangkok Trip (4)



Hari terakhir di Bangkok. Pagi jam 9-an saya berjalan kaki ke Trok Surao untuk membeli sarapan take away di tempat ibu India yang kemarin, sementara 3pzh dan ayahnya berenang di hotel. Menu pagi ini nasi briyani dengan lauk daging kari dan ayam semur. Seporsi hanya 40b, sudah dapat banyak sekali sampai kekenyangan.

Jam 12 kami check out dari hotel dan menitipkan koper di concierge untuk diambil sebelum ke airport. Sekalian pesan taksi untuk ke bandara juga. Rencananya kami mau ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) dan Wat Trimit (The Golden Buddha) hari ini kemudian makan siang di China Town bila masih ada waktu.

Dari hotel meluncur ke Wat Pho naik taksi, ternyata kuilnya tutup (atau belum buka?). Kemudian perjalanan dilanjutkan ke kuil The Golden Buddha yaitu patung Buddha raksasa yang terbuat emas dengan berat sekitar 5,5 ton. HTM 40b untuk 1 orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis.

The Golden  Buddha
Untuk melihat patung emas itu, pengunjung harus naik ke lantai 4 dari tangga di sisi kiri gedung. Sebelum masuk ke kuil, sepatu dititipkan di rak sepatu yang tersedia. Ada banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung di sini. Diantaranya; dilarang masuk bila tidak memakai baju yang sopan (pendek atau terbuka), makan/minuman di dalam kuil, membawa hewan peliharaan, menginjak garis pintu masuk, dan masih banyak lagi.

Dari sana kami kembali ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) karena masih penasaran. Naik taksi sekitar 65b. Alhamdulillah, kuilnya sudah dibuka. Ternyata Wat Pho itu letaknya dekat sekali dari Grand Palace yang kami datangi kemarin. Kalau saja kami tahu, kemarin bisa ke sini sekalian.

Membayar tiket masuk @ 100b untuk 3 orang (zu dan za belum bayar), kami menolak menggunakan jasa guide karena memang tujuannya ke sini hanya foto-foto. Sebelum masuk kuil, pengunjung harus memasukkan sepatu/sandalnya ke dalam tas yang disediakan dan membawanya ke dalam.

Reclining Buddha
Di dalam suasananya agak gelap, tapi masih bisalah untuk foto-foto. Patung Budha raksasa yang posisinya tiduran miring itu guedeeeee bangeeett. Merupakan patung Buddha terbesar di Thailand, panjangnya mencapai sekitar 150 kaki. Di telapak kakinya, ada simbol-simbol khusus yang memiliki arti ajaran Sang Buddha.

Tidak mudah mencari sudut yang pas karena ruang yang sempit dan banyaknya pengunjung lalu lalang di jalan yang lebarnya sekitar 1 m itu. Selesai foto-foto di dalam kuil, di pintu keluar kami kembali memakai sepatu dan mengembalikan tas yang tadi dipinjamkan. Di bagian belakang kuil ada tenda tempat penukaran tiket yang tadi dibeli dengan sebotol air mineral dingin. Bahkan kami diberikan 1 botol ekstra karena melihat ada anak kecil yang tidak memiliki karcis. Alhamdulillah, jadi obat bagi tenggorakan yang kering di udara panas Bangkok.

Kami tidak sempat ke China Town, karena jam 1630 harus sudah berangkat ke airport. Keluar kuil menuju ke taman dekat pintu masuk Grand Palace, akhirnya kami berhasil menawar tuktuk 50b untuk mengantarkan ke daerah Banglampho. Karena salah paham, akhirnya kami diturunkan di Central World Hotel yang kebetulan sekali, didalamnya ada restoran Sara Halal.

Walaupun harga per porsinya lebih dari 5 kali harga makanan di Aesaah maupun Trok Surao (maklum, namanya juga restoran hotel), tapi rasanya masih jauuuh lebih enak di kedua tempat tersebut. Nasi Biryani nya agak pera/keras dan ayamnya juga kurang empuk. Bedanya disini ada menu Pad Thai Seafood yang rasa lumayan enak seharga 240b/per porsi.

Masjid di Trok Surao
Selesai makan, kami berjalan setengah berlari ke Trok Surao untuk shalat di Masjid. Karena sudah check out dari hotel, kami tidak bisa lagi shalat di kamar. Selesai shalat, kemudian kami kembali ke hotel untuk mengambil tas yang tadi dititipkan di concierge dan menunggu taksi yang sudah dipesan tadi pagi.

Jalan menuju airport, sekitar jam bubaran kantor, cukup padat. Pastikan untuk menyisakan waktu minimal 2 jam sebelum counter check in dibuka, kalau anda tidak mau ketinggalan pesawat. Seperti juga Jakarta, Bangkok terkenal dengan traffic jam-nya.

Papan petunjuk musholla bandara
Mencari-cari prayer room atau musholla ternyata agak sulit, karena petugas yang hanya bisa sedikit-sedikit berbahasa Inggris, tidak memahami pertanyaan kami. Tapi akhirnya menemukan musholla di lantai 3. Kalau dari ruang check in (lantai 4), dekat pintu masuk ada tangga ke bawah, turunlah ke lantai 3 dengan tangga jalan atau lift. Halal Food corner ada di lantai 1 dekat lift namanya Magic Food Point. Sedangkan Prayer room letaknya di sebelah toilet dekat tangga. Ada petunjuk arahnya, jadi tidak sulit menemukan apabila anda sudah berada di lantai 3.

Aneka makanan halal di MFP
Makanan di bandara seperti pada umumnya lebih mahal. Seporsi sticky rice with mango 135b. Untungnya di MFP hargai makanan relatif lebih murah daripada makanan di lantai-lantai atas. Untuk 4 porsi makanan sore itu, kami menghabiskan 170b. Svarnabhumi adalah bandara terbesar Thailand yang bersih dan modern, memberikan pelayanan selayaknya airport internasional. Tap water pun tersedia gratis seperti di Changi. Kekurangannya hanya satu, petugasnya tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Toilet bandara
Sudah terburu-buru makan dan menghabiskan sisa baht di duty free shop, eeeh Air Asianya delay hampir sejam :( Jadilah menunggu di bandara dalam keadaan kelaparan dan kedinginan. Untung tadi sudah sempat makan.

Sampai di Jakarta sudah jam 1 pagi lebih. Jam 3 lebih masih di Shell mengisi bahan bakar sebelum sampai rumah. Sempat kena macet sedikit di pintu keluar tol Pancoran. Heran, Jakarta jam berapa sih yang lancar jaya kalau hari kerja? -_-"




Addresses:


1. Temple of the Golden Buddha 
(Wat Traimit)
661 Chaoren Krung Rd, 
Bangkok, Thailand
Telp: 02 225 9775



2. Temple of the Reclining Buddha 
(Wat Pho)
2 Sanam Chai Road, 
Bangkok, Thailand



3. Sara Halal Restaurant
The New World City hotel 
Khao San area (near Khao San Road)
Bangkok, Thailand



4. Magic Food Point
Lantai 1 Svarnabhumi Airport