Showing posts with label Bangkok. Show all posts
Showing posts with label Bangkok. Show all posts
[Resep] Ketan dan Mangga A la Thailand
Suatu hari zi bilang, "Udah lama nih bun, ga makan ketan pakai mangga kayak yang di Thailand. Bikin dong, bun" Lalu didukung oleh adik-adiknya, "Iya bun, bikin dooong."
Makanan ketan yang dikukus dan disajikan dengan potongan mangga harum manis ini di Thailand dikenal dengan nama Kao Niao Ma Muang alias Manggo on Sticky Rice. Pertama nyicipin ini, sewaktu kami ke Damnoen Saduak pada Oktober 2012 lalu. Sejak itu, selama di Thailand, selalu mencari makanan ini setiap ada kesempatan. Benar-benar bikin ketagihan!
Waktu itu, taburannya sih bukan wijen. Melainkan semacam beras kuning yang renyah dan manis. Bisa dilihat gambarnya di postingan saya tentang Bangkok beberapa tahun lalu (http://idenyadini.blogspot.co.id/2012/10/bangkok-trip-3.html?m=1). Berhubung tidak tahu apa taburannya tersebut, saya modifikasikan saja dengan wijen seperti yang banyak disarankan di internet untuk resep sejenis.
Membuat masakan yang memakai ketan itu susah-susah gampang, menurut saya. Kalau salah caranya, bisa-bisa masih keras. Apalagi ketannya harus dikukus dulu. Saya pernah gagal bikin kue tradisional dengan ketan kukus. Ketannya pera, seperti makan beras mentah rasanya.
Googling, nemu cara yang dikukus. Ribet sepertinya. Apalagi harus direndam semalaman. Pengennya masak pakai rice cooker saja, tinggal pencet 1 tombol, bisa matang. Tanya-tanya lagi sama om gugel, akhirnya dapat cara yang mudah. Okelah, mari kita bikin!
Bahan-bahan:
1/2 kg beras ketan
2-3 lembar daun pandan, potong ukuran 3 jari
2-3 buah mangga harum manis yang matang
1 bungkus santan kemasan
3 sdt garam
200g gula pasir
200ml air
5 sdm wijen
Cara membuat:
1. Cuci beras ketan, lalu rendam dengan air (tinggi airnya kira-kira 1/2 ruas jari tengah dari permukaan beras ketan), taburi potongan daun pandan dan 2 sdt garam, biarkan selama 1-2 jam sampai airnya meresap semua
2. Sementara itu, potong-potong mangga ukuran dadu, lalu masukkan ke kulkas
3. 1 bungkus santan kemasan dimasak bersama air, 1 sdt garam, gula dan daun pandan, setelah mendidih matikan apinya
4. Sangrai wijen sampai harum
5. Setelah semua air meresap ke dalam beras ketan, tambahkan lagi air kira-kira seukuran tadi, lalu masak di rice cooker seperti memasak nasi biasa
6. Matikan rice cooker bila tombol 'cook' sudah berganti menjadi 'warm'
7. Aduk ketan dengan sendok nasi lalu tutup kembali rice cooker-nya. Biarkan sekitar 10-15 menit
8. Sajikan ketan bersama mangga dan santan, lalu taburi atasnya dengan wijen
Tips:
1. Ukuran air untuk memasak ketan sebenarnya sama seperti saat ingin memasak nasi, tapi harus dilakukan 2 kali. Yang pertama dibiarkan meresap sampai habis, lalu yang kedua untuk memasak di rice cooker. Cara ini membuat ketan matang sempurna tanpa harus merendamnya semalaman atau mengukusnya
2. Lebih enak menggunakan santan segar, tapi kalau malas seperti saya, santan kemasan pun, jadilah :D Tapi jangan lupa menambahkan potongan daun pandan agar baunya lebih harum
3. Sangrai wijen dengan api kecil. Bila sudah keluar bau harumnya, segera matikan apinya agar tidak gosong
Hasilnya, tidak mengecewakan. Perpaduan antara ketan dengan santan yang gurih dan mangga yang manis ditambah lagi harumnya wijen, bisa mengobati rindu makanan khas Thailand ini. Zi saja sampai tambah 3 kali :D
Bangkok Trip (5)
Sebagai penutup, di bagian terakhir dari tulisan Bangkok Trip series, saya ingin berbagi beberapa tips selama liburan di Bangkok:
1. Bila tujuan anda ke Bangkok untuk berbelanja, menginaplah di daerah Pratunam. Sedangkan bila anda membawa keluarga atau tidak suka daerah yang ramai, Soi Rambuttri adalah pilihan yang tepat. Wisatawan kelas backpacker atau yang senang keramaian akan menyukai daerah Banglamphoo atau Khaosan Road.
2. Selalu memakai pakaian yang sopan/tertutup bila ingin berkunjung ke kuil atau istana. Celana/rok pendek, kaus tanpa lengan/tipis, sendal jepit adalah sebagian dari contoh pakaian yang dilarang dipakai bila mengunjungi tempat-tempat tersebut.
3. Pilih selalu taksi berargo warna pink. Berdasarkan pengalaman selama disana, hanya taksi pink yang supirnya jujur. Taksi yang lain kalau tidak minta uang ekstra dengan alasan macet, biasanya hanya mau charteran alias tidak pakai argo.
4. Kalau naik tuktuk, tolak bila supirnya mau mengantarkan ke toko-toko tertentu atau bilang ada diskon kalau naik perahu di Chao Praya yang hanya berlaku hari itu. Lebih baik beli paket tour dari hotel atau biro perjalanan yang banyak terdapat di sekitar hotel.
5. Beli peta yang ada bahasa Inggris dan Thailand-nya sekaligus agar orang lokal mengerti saat kita menanyakan tempat yang dituju. Tunjukkan saja petanya. Praktis, kan?
6. Burger King, KFC atau makanan fast food lain yang biasanya halal di Indonesia, di Thailand, tidak halal. Tapi tergantung apa definisi halal bagi anda. Apakah hanya sekedar "Bukan Babi" atau harus terbuat dari bahan yang halal dan dimasak dengan cara halal juga.
7. Makanan halal memang tidak mudah ditemukan, tetapi pasti ada karena banyak juga orang Thailand yang beragama Islam. Biasanya di restoran atau warung/gerobaknya ada gambar Kabah, tulisan Arab atau si penjual memakai jilbab yang menandakan makanan itu halal.
8. Copas tulisan Thai ฉันไม่กินหมู yang di baca Mai Ao Muu Khaa artinya saya tidak makan babi, print dan di laminating, supaya tidak mudah lecek karena akan sering ditunjukkan saat membeli makanan. Atau save di handphone dan tunjukkan kepada penjual makanan jika meragukan ke halalannya.
9. Membawa kamus percakapan sehari-hari bahasa Thailand akan sangat membantu selama di sana. Atau menghafal beberapa kata yang mungkin digunakan, seperti kata sapa, ucapan terima kasih, dan sebagainya.
10. Kalau anda menanyakan mushola, tanya saja:
"Hong lamard, yoo ti nai, ka/kap?"
(hong lamard = musholla/surau; yoo ti nai = di mana; kaa/krap = tak bermakna literal, hanya penyopan. Pakai "ka" kalau anda sebagai penanya adalah wanita, dan pakai "krap" kalau anda pria).
11. Udara dan cuaca Bangkok hampir sama dengan Jakarta. Kadang panas terik, tapi bisa juga hujan. Jadi selalu siapkan topi, payung/jas hujan dan botol air minum.
12. Selalu membawa camilan, terutama bila membawa anak-anak. Camilan ini juga sangat berguna untuk mengganjal perut sampai mendapatkan tempat yang menjual makanan halal.
Demikianlah cerita perjalanan kami selama di Bangkok beserta tips-nya. Semoga bermanfaat. Selamat liburan, jangan lupa oleh-olehnya ;)
Bangkok Trip (4)
Hari terakhir di Bangkok. Pagi jam 9-an saya berjalan kaki ke Trok Surao untuk membeli sarapan take away di tempat ibu India yang kemarin, sementara 3pzh dan ayahnya berenang di hotel. Menu pagi ini nasi briyani dengan lauk daging kari dan ayam semur. Seporsi hanya 40b, sudah dapat banyak sekali sampai kekenyangan.
Jam 12 kami check out dari hotel dan menitipkan koper di concierge untuk diambil sebelum ke airport. Sekalian pesan taksi untuk ke bandara juga. Rencananya kami mau ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) dan Wat Trimit (The Golden Buddha) hari ini kemudian makan siang di China Town bila masih ada waktu.
Dari hotel meluncur ke Wat Pho naik taksi, ternyata kuilnya tutup (atau belum buka?). Kemudian perjalanan dilanjutkan ke kuil The Golden Buddha yaitu patung Buddha raksasa yang terbuat emas dengan berat sekitar 5,5 ton. HTM 40b untuk 1 orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis.
| The Golden Buddha |
Untuk melihat patung emas itu, pengunjung harus naik ke lantai 4 dari tangga di sisi kiri gedung. Sebelum masuk ke kuil, sepatu dititipkan di rak sepatu yang tersedia. Ada banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung di sini. Diantaranya; dilarang masuk bila tidak memakai baju yang sopan (pendek atau terbuka), makan/minuman di dalam kuil, membawa hewan peliharaan, menginjak garis pintu masuk, dan masih banyak lagi.
Dari sana kami kembali ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) karena masih penasaran. Naik taksi sekitar 65b. Alhamdulillah, kuilnya sudah dibuka. Ternyata Wat Pho itu letaknya dekat sekali dari Grand Palace yang kami datangi kemarin. Kalau saja kami tahu, kemarin bisa ke sini sekalian.
Membayar tiket masuk @ 100b untuk 3 orang (zu dan za belum bayar), kami menolak menggunakan jasa guide karena memang tujuannya ke sini hanya foto-foto. Sebelum masuk kuil, pengunjung harus memasukkan sepatu/sandalnya ke dalam tas yang disediakan dan membawanya ke dalam.
| Reclining Buddha |
Di dalam suasananya agak gelap, tapi masih bisalah untuk foto-foto. Patung Budha raksasa yang posisinya tiduran miring itu guedeeeee bangeeett. Merupakan patung Buddha terbesar di Thailand, panjangnya mencapai sekitar 150 kaki. Di telapak kakinya, ada simbol-simbol khusus yang memiliki arti ajaran Sang Buddha.
Tidak mudah mencari sudut yang pas karena ruang yang sempit dan banyaknya pengunjung lalu lalang di jalan yang lebarnya sekitar 1 m itu. Selesai foto-foto di dalam kuil, di pintu keluar kami kembali memakai sepatu dan mengembalikan tas yang tadi dipinjamkan. Di bagian belakang kuil ada tenda tempat penukaran tiket yang tadi dibeli dengan sebotol air mineral dingin. Bahkan kami diberikan 1 botol ekstra karena melihat ada anak kecil yang tidak memiliki karcis. Alhamdulillah, jadi obat bagi tenggorakan yang kering di udara panas Bangkok.
Kami tidak sempat ke China Town, karena jam 1630 harus sudah berangkat ke airport. Keluar kuil menuju ke taman dekat pintu masuk Grand Palace, akhirnya kami berhasil menawar tuktuk 50b untuk mengantarkan ke daerah Banglampho. Karena salah paham, akhirnya kami diturunkan di Central World Hotel yang kebetulan sekali, didalamnya ada restoran Sara Halal.
Walaupun harga per porsinya lebih dari 5 kali harga makanan di Aesaah maupun Trok Surao (maklum, namanya juga restoran hotel), tapi rasanya masih jauuuh lebih enak di kedua tempat tersebut. Nasi Biryani nya agak pera/keras dan ayamnya juga kurang empuk. Bedanya disini ada menu Pad Thai Seafood yang rasa lumayan enak seharga 240b/per porsi.
| Masjid di Trok Surao |
Selesai makan, kami berjalan setengah berlari ke Trok Surao untuk shalat di Masjid. Karena sudah check out dari hotel, kami tidak bisa lagi shalat di kamar. Selesai shalat, kemudian kami kembali ke hotel untuk mengambil tas yang tadi dititipkan di concierge dan menunggu taksi yang sudah dipesan tadi pagi.
Jalan menuju airport, sekitar jam bubaran kantor, cukup padat. Pastikan untuk menyisakan waktu minimal 2 jam sebelum counter check in dibuka, kalau anda tidak mau ketinggalan pesawat. Seperti juga Jakarta, Bangkok terkenal dengan traffic jam-nya.
| Papan petunjuk musholla bandara |
Mencari-cari prayer room atau musholla ternyata agak sulit, karena petugas yang hanya bisa sedikit-sedikit berbahasa Inggris, tidak memahami pertanyaan kami. Tapi akhirnya menemukan musholla di lantai 3. Kalau dari ruang check in (lantai 4), dekat pintu masuk ada tangga ke bawah, turunlah ke lantai 3 dengan tangga jalan atau lift. Halal Food corner ada di lantai 1 dekat lift namanya Magic Food Point. Sedangkan Prayer room letaknya di sebelah toilet dekat tangga. Ada petunjuk arahnya, jadi tidak sulit menemukan apabila anda sudah berada di lantai 3.
| Aneka makanan halal di MFP |
Makanan di bandara seperti pada umumnya lebih mahal. Seporsi sticky rice with mango 135b. Untungnya di MFP hargai makanan relatif lebih murah daripada makanan di lantai-lantai atas. Untuk 4 porsi makanan sore itu, kami menghabiskan 170b. Svarnabhumi adalah bandara terbesar Thailand yang bersih dan modern, memberikan pelayanan selayaknya airport internasional. Tap water pun tersedia gratis seperti di Changi. Kekurangannya hanya satu, petugasnya tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik.
| Toilet bandara |
Sudah terburu-buru makan dan menghabiskan sisa baht di duty free shop, eeeh Air Asianya delay hampir sejam :( Jadilah menunggu di bandara dalam keadaan kelaparan dan kedinginan. Untung tadi sudah sempat makan.
Sampai di Jakarta sudah jam 1 pagi lebih. Jam 3 lebih masih di Shell mengisi bahan bakar sebelum sampai rumah. Sempat kena macet sedikit di pintu keluar tol Pancoran. Heran, Jakarta jam berapa sih yang lancar jaya kalau hari kerja? -_-"
Addresses:
1. Temple of the Golden Buddha
(Wat Traimit)
661 Chaoren Krung Rd,
Bangkok, Thailand
Telp: 02 225 9775
2. Temple of the Reclining Buddha
(Wat Pho)
2 Sanam Chai Road,
Bangkok, Thailand
3. Sara Halal Restaurant
The New World City hotel
Khao San area (near Khao San Road)
Bangkok, Thailand
4. Magic Food Point
Lantai 1 Svarnabhumi Airport
Bangkok Trip (3)
Tiga hari di Bangkok, banyak hal menarik kami temui disana. Salah satunya kecintaan rakyat Thailand kepada Raja-nya. Banyak foto super gede Raja dan keluarga kerajaan yang dipajang sepanjang jalan. Benar-benar super gede, hampir setinggi atap gedung 1 lantai. Dipajang di depan gedung perkantoran, sekolah, dan sudut-sudut kota.
Pagi ini aktifitas dimulai dengan sarapan biskuit (again) di depan hotel sambil menunggu bis travel menjemput. Tiga tiket untuk wisata ke pasar terapung (floating market) Damnoen Saduak sudah dibeli sebelumnya di travel agent kecil dekat hotel seharga @ 250b. Dengan minivan berkapasitas 12 orang dewasa, perjalanan ditempuh selama 1,5-2 jam ke arah luar kota Bangkok.
Pasar terapung ini sudah lama menjadi pusat atraksi wisata. Buka sebelum jam 8 pagi dan selesai saat tengah hari, Damnoen Saduak merupakan satu-satunya pasar terapung yang buka setiap hari di Thailand. Disini para wisatawan dinaikkan ke beberapa perahu mesin berukuran sedang. Sesekali perahu kami didekati oleh penjual yang naik perahu dayung. Barang dagangan mereka macam-macam, mulai dari makanan, baju sampai peralatan dapur dan souvenir juga ada. Bila berminat membeli, jangan ragu untuk menawar. Kalau harga dinilai terlalu mahal, sabar saja. Nanti di pasar daratnya juga banyak penjual serupa.
Tiba kembali di pasar daratnya, kami menyempatkan berbelanja makanan dan souvenir. Kualitas barangnya bagus, sementara harganya murah. Tapi sekali lagi, harus pintar menawar. Di pojok pasar ada toko oleh-oleh yang memberikan harga pas, cocok bagi mereka yang tidak bisa menawar seperti kami.
| Sticky rice with mango |
Cemilan khas Thailand yang wajib di coba salah satunya adalah sticky rice with mango/durian alias ketan yang dikukus dan dimakan bersama mangga/durian. Perpaduan manisnya mangga/durian dengan gurihnya ketan terasa unik dilidah. Seporsi hanya dihargai 30b untuk yang mangga dan 50b untuk yang durian. Kami tidak makan siang disitu, karena hampir semua menjual makanan tidak halal. Untuk mengenyangkan perut sementara, akhirnya kami membeli lagi 3 porsi mangga potong seharga total 50b. Lumayan lah, daripada kelaparan :D
Naik minivan kembali menuju Bangkok dan sempat berhenti di SPBU untuk ke toilet, kami diturunkan di dekat Khaosan Road, atau sekitar 15 menit jalan kaki ke hotel tempat menginap. Dengan berjalan kaki, kami menuju Trok Surao. Tapi ternyata si ibu India hari itu memasak menu yang pedas seperti fish curry. Tidak mungkin 3pzh bisa memakannya. Untuk makan di gerai makanan cepat saji seperti KFC atau Burger King, tidak menjadi pilihan kami karena tidak bersertifikasi halal.
Setelah bertanya-tanya ke penduduk sekitar, seorang ibu berjilbab (mukanya seperti orang Indonesia, tetapi katanya beliau asli Thailand) menunjukkan arah ke sebuah tempat makanan halal bernama Aisah/Aesaah. Dari jalan di samping Tan Hua Seng department store, Aisah berada di sisi kanan jalan. Sempat kelewatan, tapi akhirnya ketemu. Tempatnya nyempil diantara toko-toko, sebelum minimarket 7/11.
Aisah semacam foodcourt sederhana, dimana ada beberapa penjual makanan yang semuanya halal. Beberapa menu yang tersedia adalah noodle soup, nasi briyani, ayam gulai, dan martabak goreng. Memesan 4 porsi nasi biryani dengan ayam (zi nambah!), 1 noodle soup dan 1 nasi briyani dengan daging total 255b atau tidak sampai 80rb rupiah.
Sorenya setelah mandi dan shalat di hotel, kami pergi ke tengah kota. Naik taxi dari jalan Chakropong ke Siam Center ongkosnya 65b dengan argo. Dari sana berjalan kaki ke Madame Tussauds Wax Museum di Siam Discovery melalui sky bridge.
| Madame Tussauds Bangkok |
Madame Tussauds adalah musium lilin yang menampilkan patung-patung tokoh internasional dan lokal dari artis, olahragawan sampai negarawan. Dari lantai bawah Siam Discovery sudah ada counter-nya. Ada patung Jackie Chan, Naomi Campbell, Britney Spears, Barack Obama dan lain-lain. Untuk patung-patung di luar musium, pengunjung bebas berfoto tanpa harus bayar tiket. Counter tiket berada di lantai 6, tiketnya seharga 800b/orang. Harga tiket termasuk buku petunjuk (berisi keterangan patung-patung disitu) dan print out foto dengan beberapa tokoh tertentu.
Di Madame Tussauds sini juga dapat bermain bola digital dengan David Beckham, tennis digital dengan Serena Williams atau tinju digital dengan Muhammad Ali. Musium lilin ini memiliki koleksi patung-patung yang tidak seluruhnya sama di tiap cabangnya dan di tiap negara ada tokoh lokal yang dijadikan model patungnya.
| Sky bridge |
Dari Siam Discovery, lalu kami berburu oleh-oleh di MBK mal yang letaknya saling bersebrangan. Mal-mal besar itu (Siam Discovery, MBK, Siam Paragon dan Siam Center) berada tepat di 4 sisi perempatan dan saling dihubungkan oleh sky bridge. MBK semacam mal mangga dua di Jakarta, hanya lebih bersih dan teratur. Kalau pintar menawar bisa dapat harga murah, terutama bila membeli dalam jumlah banyak.
Kalau lapar, di lantai 6 MBK ada food center yang menggunakan sistem pembayaran dengan kupon yang dibeli di counter khusus, seperti di food court Mal Taman Anggrek, Jakarta. Untuk harga, tidak jauh beda dengan gerai makanan di tujuan wisata lainnya.
| Muslim counter at MBK |
Kembali ke hotel, taxi kembali menjadi pilihan karena hari sudah malam. Rencananya kami hanya akan beristirahat dan packing malam itu. Besok sore sudah harus kembali ke Jakarta. Tapi karena tengah malam mendadak kelaparan, terpaksa kami ke depan hotel mencari makanan. Untung ada penjual Pad Thai (semacam mi goreng).
| Pad Thai |
Setelah yakin penjualnya tidak menjual daging, akhirnya kami memesan seporsi Pad Thai pakai telur seharga 40b. Mi nya bisa pilih sendiri, mau mi kuning, kwetiau atau bihun. Isinya bisa telur atau seafood. Untuk rasa, bila suka pedas kita masukkan sendiri bumbu dan bubuk cabe yang tersedia di gerobaknya, saat Pad Thai-nya sedang dimasak penjualnya. Porsinya besar dan rasanya lumayan enak (poin 65 dari 100). Cukuplah untuk obat kelaparan malam itu.
Besok hari terakhir di Bangkok. Ada beberapa kuil terkenal yang ingin kami kunjungi. Kuil tempat patung Buddha raksasa tidur (Gigantic Buddha) dan kuil tempat patung Buddha emas merupakan tujuan terakhir kami sebelum kembali ke Jakarta. Ikuti terus kisahnya, ya ;)
Addresses:
1. Siam Paragon Mall
Opening Hours: 10:00 - 22:00
Location: At Siam BTS Station
BTS: Siam
2. Siam Discovery
Opening Hours: 10:00 – 20:00 (Mon-Thu), 10:00 – 21:00 (Fri-Sun and public holidays)
Location: 1420/1 Praditmanutham Road Tel: +66 (0)2 101 5999
3. MBK
Opening Hours: 10:00 - 22:00
Location: Pathumwan Intersection, diagonally opposite Siam Discovery Centre
BTS: National Stadium
Tel: +66 (0)2 620 9000
Location: Pathumwan Intersection, diagonally opposite Siam Discovery Centre
BTS: National Stadium
Tel: +66 (0)2 620 9000
4. Aisah / Aeisah Rosdee / Areesaa Lote Dee
Dekat Wat Bowonniwet
Khao Mok Gai Khao - near Khao San Road
Bangkok Trip (2)
| Tuktuk |
Hari kedua di Bangkok, rencananya mau ke Marble Temple dan Grand Palace sekalian mencoba naik tuktuk.
Tidak dapat sarapan di hotel sementara tempat jualan makanan halal baru mulai buka jam 10 pagi, memaksa kami harus puas mengisi perut dengan biskuit pagi itu. Sempat jalan kaki mencari-cari tempat makanan halal akhirnya menyerah dan naik tuktuk langsung menuju Marble Temple.
| Marble Temple |
Wat Benchamabopitr atau sering disebut juga sebagai "kuil marmer" atau marble temple di buku petunjuk wisata. Bangunan dinding luarnya terbuat dari marmer sehingga terkesan mewah dan megah. Tiket masuknya seharga 20b/orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis.
Duduk-duduk di bangku yang tersedia di tamannya, kami ditawari seorang wanita untuk membeli roti tawar. Karena bentuknya kurang menarik dan merasa membawa cukup bekal makanan, kami menolak membeli. Belakangan baru kami tahu kalau roti-roti itu ternyata dijual untuk tamu kuil yang ingin memberi makan burung-burung merpati yang banyak terdapat di taman tersebut x_x
Dari Marble Temple, kami lalu naik tuktuk lagi ke Golden Mount dengan ongkos 50b. Sebelum naik, si supir tuktuk minta tolong agar kami mau diantarkan ke toko yang menjual sutra. Katanya, dia akan dikasih gratis 1 liter bensin kalau membawa turis ke sana. Karena kasihan, kami iya kan saja, apalagi tidak diharuskan membeli apapun.
Tapi setelah keluar dari toko sutra tersebut, si supir tuktuk kembali meminta kami agar bersedia mendatangi 1 toko sutra lagi. Kami menolak. Hari sudah semakin siang, takutnya kami tidak sempat kemana-mana. Akhirnya kami diantarkan juga ke Golden Mount, seperti kesepakatan semula.
| Golden Mount |
Kuil yang dikenal dengan nama Gunung Emas (the Golden Mount) atau Phu Khao Thong ini adalah sebuah kuil yang dibangun di atas bukit dengan pemandangan Rattnakosin Island di bawahnya. Masuk ke halamannya tidak bayar, entah kalau masuk ke dalam kuilnya. Matahari yang bersinar terik menyurutkan semangat kami menapaki tanjakan menuju kuil Golden Mount. Jadi setelah selesai foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan dengan tuktuk yang tadi. Rencananya langsung menuju Grand Palace.
| Chao Praya |
Sebelum menjalankan tuktuknya, si supir kembali menawari kami paket keluarga naik kapal dari pelabuhan yang melewati Wat Arun dan berakhir di dekat Grand Palace. Semula tiket yang ditawarkan 2000b, tapi kami terus menolak sampai akhirnya harga turun menjadi 1000b. Sebenarnya sih, paket wisatanya tidak menarik. Tapi mengingat ini akan menjadi pengalaman baru bagi 3pzh, akhirnya kami setuju. Terbukti, 3pzh senang sekali naik kapal dan tidak henti-hentinya bertanya sepanjang perjalanan.
Tuktuk mengantar sampai ke pelabuhan. Kapal itu berkapasitas 10 orang dewasa (tapi hanya kami berlima penumpangnya). Kami menyusuri Sungai Chao Praya selama sekitar sejam lebih, hingga tiba di pelabuhan dekat Grand Palace. Di pelabuhan ini kami diminta membayar 20b lagi yang katanya pajak pelabuhan. Whatever. Daripada ribut, sutralah dibayar saja. Berjalan melintasi jalanan di dalam pasar, kami sempatkan membeli buah potong di tukang rujak. Rasa mangganya manis, sudah dikupas dan dipotong-potong lengkap dengan bijinya, sebuah seharga 20b Sementara 3 biji durian (mungkin yang di Indonesia kita sebut durian Bangkok) dihargai 70b.
Wat Phra Kaeo
|
Ternyata Grand Palace terletak tepat di seberang pasar tadi. Kompleks Istana terkenal di Bangkok ini dibangun pada 1782 dan di dalamnya termasuk Wat Phra Kaeo (Temple of the Emerald Buddha). Seperti kuil-kuil lainnya di Bangkok, turis diwajibkan memakai pakaian yang sopan dan tidak terlalu terbuka bila ingin memasuki wilayah Grand Palace. Dekat pintu masuk ada tempat yang meminjamkan sarung sebagai ganti celana/rok pendek dan kemeja untuk mengganti tank top, yang banyak dikenakan turis asing di udara sepanas saat itu.
Disini turis juga bisa berfoto dengan memakai baju tradisional Thailand sebagai kenang-kenangan, bila mau. Kostumnya disewakan dan fotografernya disediakan dengan sedikit imbalan, tentunya. Mungkin karena sudah lapar dan kelelahan, anak-anak menolak masuk ke dalam. Jadi kami hanya foto-foto di halamannya saja. Saat sedang duduk beristirahat itulah kami didatangi sekelompok turis dari Korea. Dengan bahasa Inggris terpatah-patah mereka meminta kesediaan kami untuk foto bareng dengan mereka. Mereka bilang, "You all are happy family." Mungkin karena kaos warna merah seragam yang kami pakai, jadi terlihat kompak dan unik :D
Dari Grand Palace kami ke Cakraphong Road naik taxi dan berhenti di depan Tang Hua Seng department store. Rencananya kami ingin mencari makanan halal dekat mesjid di belakang hotel. Menyusuri gang kecil Trok Surao yang berada di seberang department store tadi, kami akhirnya menemukan sebuah rumah yang menjual makanan halal. Pemiliknya seorang ibu yang sepertinya berdarah India. Kami memesan 2 nasi biryani ayam dan 1 nasi tumis. Seluruhnya seharga 130b dengan porsi yang sangat generous, untuk makan siang. Selesai makan siang, kami berjalan kaki pulang ke hotel untuk beristirahat.
| Makanan Halal Bangkok |
Malamnya kami kembali ke gang Trok Surao untuk mencari makan malam. Pas dimulut gang ada penjual makanan halal. Yang jualan ibu-ibu berjilbab, orang asli Thailand. Beliau, menjual makanan khas Thailand seperti tom yam dan lain-lain. Meja dan kursi tadinya disusun di sisi Cakraphong Road, tapi berhubung gerimis kemudian dipindahkan ke dalam gang.
Setelah mempelajari menu yang ditempel di dinding, kami memesan 2 chicken noodle soup, 1 duck noodle soup, 1 hainan chicken rice dan 1 roasted duck rice. Duck noodle soup-nya enak, daging bebeknya yang lembut diiris tipis disajikan dengan mie seperti angel hair dan kuah yang gurih. Sementara menu lain yang kami pesan juga tidak kalah juaranya. Harga total 180b atau sekitar 50rban saja untuk 5 porsi makanan tadi. Murah dan enak! Penutup malam yang sempurna.
Besok perjalanan dilanjutkan ke pasar terapung dan Madame Tussauds wax museum. Ikuti kisahnya di Bangkok Trip (3) yaaa ;)
Alamat-alamat:
1.The Marble Temple (Wat Benchamabopitr)
69 Nakornpathom Rd
Dusit, Bangkok 10300, Thailand
66 2 282 7413
2. The Golden Mount (Wat Saket)
Boripihat & Bamrung MuangRds, Bangkok 10200
3. The Grand Palace
Na Phra Lan Rd,
Maharaj Pier next to Wat Phra Kaeo Temple Complex
City Center, Bangkok
Bangkok Trip (1)
Kota Bangkok, ibukota negara Thailand, merupakan salah satu tujuan favorit untuk wisata belanja.
Harga barang-barang di sana jauh lebih murah daripada di Jakarta, dengan mutu yang setara. Perpaduan kebudayaan yang eksotis, kuliner yang mendunia dan pembangunan yang pesat, juga membuat wisatawan manca negara tetap mengunjunginya walau negara ini pernah dilanda demo dan pemogokan besar-besaran. Bahkan bencana banjir yang melandanya baru-baru ini, tidak menyurutkan niat para wisatawan mendatangi negara yang juga dijuluki negara Gajah Putih.
Namun bagi Zi, Bangkok itu Kota Seribu Kuil. Kata Zi, karena ada banyak kuil di tiap beberapa meter. Entah itu di sekolah atau tempat bersejarah, pokoknya ada kuil dimana-mana. Seru sekali menjelajahi kotanya dan mendatangi beberapa kuil terkenal disitu. Kotanya relatif bersih dan aman, sehingga bila berjalan kaki cukup nyaman.
Seperti biasa, liburan kali ini kami juga naik AA. Mendarat sekitar jam 9 malam di Bangkok, atau hampir sejam lebih lama dari yang dijadwalkan. Pesawat harus terbang berputar-putar di atas Svarnabhumi airport akibat penuhnya jadwal penerbangan di bandara tersebut. Pertama-tama harus melewati imigrasi dulu. Rombongan dengan membawa anak-anak dipersilakan mengantri di barisan tersendiri. Setiap orang, termasuk anak-anak, diharapkan memegang passport-nya masing-masing. Lucu sekali melihat anak-anak umur 2 tahunan berdiri di depan loket imigrasi dan menatap kamera untuk dipotret sebagai syarat mendapatkan cap pada passport mereka.
Urusan imigrasi dan bagasi kelar, kami segera menuju hotel. Badan yang penat sudah kangen tempat tidur. Hotel yang kami pesan tidak menyediakan pick up service, jadi harus naik taksi yang bisa di pesan di taxi pool bandara. Ada petunjuk yang cukup jelas ke arah taxi pool yang berada di luar gedung. Turun ke lantai paling bawah dengan escalator, lalu keluar melewati pintu putar, dan belok kiri ke arah antrian calon penumpang taksi. Cukup berikan tulisan alamat tujuan anda kepada petugas, lalu si petugas akan memberikan semacam tiket ke supir taksinya dan kita dapat langsung naik. Alamat tujuan (hotel) harus dalam bahasa dan tulisan Thailand juga, karena tidak semua orang lokalnya dapat berbahasa Inggris. Nanti ongkos taksi dibayarkan setelah sampai di tujuan, sedangkan uang tol dibayarkan langsung saat di pintu tol.
Hotel kami, Rambuttri Village Inn, di dapat dari hasil browsing yang menyebutkan daerahnya cocok untuk mereka yang membawa anak-anak, karena jauh dari hingar bingar kehidupan malam kota Bangkok. Bagi mereka yang tujuannya wisata belanja, disarankan untuk mencari penginapan di daerah Pratunam yang ada pasar malamnya. Sedangkan bila anda suka keramaian khas turis seperti di Jalan Jaksa Jakarta, bisa menginap di sekitar Khaosan Road.
Dari bandara ke hotel ongkos taksinya sekitar 500b atau Rp150rb-an. Not bad lah ya, sama seperti kalau naik taksi dari Soeta ke Tebet :) Oya, berdasarkan referensi di internet, penumpang harus waspada dengan supir taksi di Thailand. Bila anda mulai merasa si supir memutar-mutar kendaraannya agar argo taksinya mahal, pura-pura saja bicara (dalam bahasa apa saja) dengan menyebut kata-kata "police". Terbukti, si supir yang sebelumnya bilang butuh waktu 1 jam untuk sampai di hotel, ternyata setengah jam saja sudah sampai :)
Hotel-hotel di Thailand, dengan rate sekitar 1100b per malam, biasanya sudah hotel yang bagus, dengan catatan memesan secara online. Rambuttri Village Inn merupakan hotel bintang 3 yang dikelilingi oleh restoran, bar, warnet, laundry, agen perjalanan dan mini market yang buka 24 jam.
Untuk deluxe triple room dengan AC dan kamar mandi di dalam, harga per malam USD 14.64 atau sekitar 150rb-an tidak termasuk sarapan. Dengan fasilitas Cable TV, Safe Deposit Box, Hot Water, kamarnya cukup nyaman kalau cuma untuk istirahat. Di rooftop-nya juga ada kolam renang yang lumayan untuk anak-anak bermain air setelah seharian lelah jalan-jalan.
Karena tidak mau repot membawa baju kotor pulang ke Indonesia, kami memanfaatkan jasa laundry kiloan selama di Bangkok. Terletak di lantai bawah dekat lobby, laundry disini memerlukan waktu 2 hari untuk baju kita terima kembali sudah dalam keadaan bersih terlipat (tidak disetrika). Lumayanlah untuk mengurangi tumpukan baju kotor sehabis liburan :D
Bagi wisatawan muslim, di belakang hotel ada Masjid Chakrapong dan perkampungan muslim. Mencari tempat yang menjual makanan halal di sekitar hotel, tidaklah sulit. Di lorong menuju masjid ini banyak penjual makanan halal sampai menjelang Maghrib. Makanan halal yang dijual di sana antara lain Martabak (daging, ayam, vegetarian), Khao Mok (nasi biryani dengan lauk ayam atau daging), dan Kari Pla (kari ikan yang nendang pedasnya dimakan dengan Roti canai). Harganya juga murah sekitar 30-50 Baht per porsi (10-15 ribuan).
Bagaimana pengalaman kami di hari kedua di Bangkok? Kuil apa saja yang dikunjungi? Kenapa harus waspada dengan tawaran supir tuktuk? Ikuti kisahnya di "Bangkok Trip (2)".
Rambuttri Village Inn
95 Soi Ram Buttri,
Chakkra Phong Road, Nakorn
Subscribe to:
Posts (Atom)