Showing posts with label family holiday. Show all posts
Showing posts with label family holiday. Show all posts

Bangkok Trip (5)



Sebagai penutup, di bagian terakhir dari tulisan Bangkok Trip series, saya ingin berbagi beberapa tips selama liburan di Bangkok:

1. Bila tujuan anda ke Bangkok untuk berbelanja, menginaplah di daerah Pratunam. Sedangkan bila anda membawa keluarga atau tidak suka daerah yang ramai, Soi Rambuttri adalah pilihan yang tepat. Wisatawan kelas backpacker atau yang senang keramaian akan menyukai daerah Banglamphoo atau Khaosan Road.

2. Selalu memakai pakaian yang sopan/tertutup bila ingin berkunjung ke kuil atau istana. Celana/rok pendek, kaus tanpa lengan/tipis, sendal jepit adalah sebagian dari contoh pakaian yang dilarang dipakai bila mengunjungi tempat-tempat tersebut.

3. Pilih selalu taksi berargo warna pink. Berdasarkan pengalaman selama disana, hanya taksi pink yang supirnya jujur. Taksi yang lain kalau tidak minta uang ekstra dengan alasan macet, biasanya hanya mau charteran alias tidak pakai argo.

4. Kalau naik tuktuk, tolak bila supirnya mau mengantarkan ke toko-toko tertentu atau bilang ada diskon kalau naik perahu di Chao Praya yang hanya berlaku hari itu. Lebih baik beli paket tour dari hotel atau biro perjalanan yang banyak terdapat di sekitar hotel.

5. Beli peta yang ada bahasa Inggris dan Thailand-nya sekaligus agar orang lokal mengerti saat kita menanyakan tempat yang dituju. Tunjukkan saja petanya. Praktis, kan?

6. Burger King, KFC atau makanan fast food lain yang biasanya halal di Indonesia, di Thailand, tidak halal. Tapi tergantung apa definisi halal bagi anda. Apakah hanya sekedar "Bukan Babi" atau harus terbuat dari bahan yang halal dan dimasak dengan cara halal juga.

7. Makanan halal memang tidak mudah ditemukan, tetapi pasti ada karena banyak juga orang Thailand yang beragama Islam. Biasanya di restoran atau warung/gerobaknya ada gambar Kabah, tulisan Arab atau si penjual memakai jilbab yang menandakan makanan itu halal.

8. Copas tulisan Thai ฉันไม่กินหมู yang di baca Mai Ao Muu Khaa artinya saya tidak makan babi, print dan di laminating, supaya tidak mudah lecek karena akan sering ditunjukkan saat membeli makanan. Atau save di handphone dan tunjukkan kepada penjual makanan jika meragukan ke halalannya.

9. Membawa kamus percakapan sehari-hari bahasa Thailand akan sangat membantu selama di sana. Atau menghafal beberapa kata yang mungkin digunakan, seperti kata sapa, ucapan terima kasih, dan sebagainya.


10. Kalau anda menanyakan mushola, tanya saja: 
"Hong lamard, yoo ti nai, ka/kap?" 
(hong lamard = musholla/surau; yoo ti nai = di mana; kaa/krap = tak bermakna literal, hanya penyopan. Pakai "ka" kalau anda sebagai penanya adalah wanita, dan pakai "krap" kalau anda pria).


11. Udara dan cuaca Bangkok hampir sama dengan Jakarta. Kadang panas terik, tapi bisa juga hujan. Jadi selalu siapkan topi, payung/jas hujan dan botol air minum.


12. Selalu membawa camilan, terutama bila membawa anak-anak. Camilan ini juga sangat berguna untuk mengganjal perut sampai mendapatkan tempat yang menjual makanan halal.

Demikianlah cerita perjalanan kami selama di Bangkok beserta tips-nya. Semoga bermanfaat. Selamat liburan, jangan lupa oleh-olehnya ;)

















Bangkok Trip (4)



Hari terakhir di Bangkok. Pagi jam 9-an saya berjalan kaki ke Trok Surao untuk membeli sarapan take away di tempat ibu India yang kemarin, sementara 3pzh dan ayahnya berenang di hotel. Menu pagi ini nasi briyani dengan lauk daging kari dan ayam semur. Seporsi hanya 40b, sudah dapat banyak sekali sampai kekenyangan.

Jam 12 kami check out dari hotel dan menitipkan koper di concierge untuk diambil sebelum ke airport. Sekalian pesan taksi untuk ke bandara juga. Rencananya kami mau ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) dan Wat Trimit (The Golden Buddha) hari ini kemudian makan siang di China Town bila masih ada waktu.

Dari hotel meluncur ke Wat Pho naik taksi, ternyata kuilnya tutup (atau belum buka?). Kemudian perjalanan dilanjutkan ke kuil The Golden Buddha yaitu patung Buddha raksasa yang terbuat emas dengan berat sekitar 5,5 ton. HTM 40b untuk 1 orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis.

The Golden  Buddha
Untuk melihat patung emas itu, pengunjung harus naik ke lantai 4 dari tangga di sisi kiri gedung. Sebelum masuk ke kuil, sepatu dititipkan di rak sepatu yang tersedia. Ada banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung di sini. Diantaranya; dilarang masuk bila tidak memakai baju yang sopan (pendek atau terbuka), makan/minuman di dalam kuil, membawa hewan peliharaan, menginjak garis pintu masuk, dan masih banyak lagi.

Dari sana kami kembali ke Wat Pho (Gigantic Reclining Buddha) karena masih penasaran. Naik taksi sekitar 65b. Alhamdulillah, kuilnya sudah dibuka. Ternyata Wat Pho itu letaknya dekat sekali dari Grand Palace yang kami datangi kemarin. Kalau saja kami tahu, kemarin bisa ke sini sekalian.

Membayar tiket masuk @ 100b untuk 3 orang (zu dan za belum bayar), kami menolak menggunakan jasa guide karena memang tujuannya ke sini hanya foto-foto. Sebelum masuk kuil, pengunjung harus memasukkan sepatu/sandalnya ke dalam tas yang disediakan dan membawanya ke dalam.

Reclining Buddha
Di dalam suasananya agak gelap, tapi masih bisalah untuk foto-foto. Patung Budha raksasa yang posisinya tiduran miring itu guedeeeee bangeeett. Merupakan patung Buddha terbesar di Thailand, panjangnya mencapai sekitar 150 kaki. Di telapak kakinya, ada simbol-simbol khusus yang memiliki arti ajaran Sang Buddha.

Tidak mudah mencari sudut yang pas karena ruang yang sempit dan banyaknya pengunjung lalu lalang di jalan yang lebarnya sekitar 1 m itu. Selesai foto-foto di dalam kuil, di pintu keluar kami kembali memakai sepatu dan mengembalikan tas yang tadi dipinjamkan. Di bagian belakang kuil ada tenda tempat penukaran tiket yang tadi dibeli dengan sebotol air mineral dingin. Bahkan kami diberikan 1 botol ekstra karena melihat ada anak kecil yang tidak memiliki karcis. Alhamdulillah, jadi obat bagi tenggorakan yang kering di udara panas Bangkok.

Kami tidak sempat ke China Town, karena jam 1630 harus sudah berangkat ke airport. Keluar kuil menuju ke taman dekat pintu masuk Grand Palace, akhirnya kami berhasil menawar tuktuk 50b untuk mengantarkan ke daerah Banglampho. Karena salah paham, akhirnya kami diturunkan di Central World Hotel yang kebetulan sekali, didalamnya ada restoran Sara Halal.

Walaupun harga per porsinya lebih dari 5 kali harga makanan di Aesaah maupun Trok Surao (maklum, namanya juga restoran hotel), tapi rasanya masih jauuuh lebih enak di kedua tempat tersebut. Nasi Biryani nya agak pera/keras dan ayamnya juga kurang empuk. Bedanya disini ada menu Pad Thai Seafood yang rasa lumayan enak seharga 240b/per porsi.

Masjid di Trok Surao
Selesai makan, kami berjalan setengah berlari ke Trok Surao untuk shalat di Masjid. Karena sudah check out dari hotel, kami tidak bisa lagi shalat di kamar. Selesai shalat, kemudian kami kembali ke hotel untuk mengambil tas yang tadi dititipkan di concierge dan menunggu taksi yang sudah dipesan tadi pagi.

Jalan menuju airport, sekitar jam bubaran kantor, cukup padat. Pastikan untuk menyisakan waktu minimal 2 jam sebelum counter check in dibuka, kalau anda tidak mau ketinggalan pesawat. Seperti juga Jakarta, Bangkok terkenal dengan traffic jam-nya.

Papan petunjuk musholla bandara
Mencari-cari prayer room atau musholla ternyata agak sulit, karena petugas yang hanya bisa sedikit-sedikit berbahasa Inggris, tidak memahami pertanyaan kami. Tapi akhirnya menemukan musholla di lantai 3. Kalau dari ruang check in (lantai 4), dekat pintu masuk ada tangga ke bawah, turunlah ke lantai 3 dengan tangga jalan atau lift. Halal Food corner ada di lantai 1 dekat lift namanya Magic Food Point. Sedangkan Prayer room letaknya di sebelah toilet dekat tangga. Ada petunjuk arahnya, jadi tidak sulit menemukan apabila anda sudah berada di lantai 3.

Aneka makanan halal di MFP
Makanan di bandara seperti pada umumnya lebih mahal. Seporsi sticky rice with mango 135b. Untungnya di MFP hargai makanan relatif lebih murah daripada makanan di lantai-lantai atas. Untuk 4 porsi makanan sore itu, kami menghabiskan 170b. Svarnabhumi adalah bandara terbesar Thailand yang bersih dan modern, memberikan pelayanan selayaknya airport internasional. Tap water pun tersedia gratis seperti di Changi. Kekurangannya hanya satu, petugasnya tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Toilet bandara
Sudah terburu-buru makan dan menghabiskan sisa baht di duty free shop, eeeh Air Asianya delay hampir sejam :( Jadilah menunggu di bandara dalam keadaan kelaparan dan kedinginan. Untung tadi sudah sempat makan.

Sampai di Jakarta sudah jam 1 pagi lebih. Jam 3 lebih masih di Shell mengisi bahan bakar sebelum sampai rumah. Sempat kena macet sedikit di pintu keluar tol Pancoran. Heran, Jakarta jam berapa sih yang lancar jaya kalau hari kerja? -_-"




Addresses:


1. Temple of the Golden Buddha 
(Wat Traimit)
661 Chaoren Krung Rd, 
Bangkok, Thailand
Telp: 02 225 9775



2. Temple of the Reclining Buddha 
(Wat Pho)
2 Sanam Chai Road, 
Bangkok, Thailand



3. Sara Halal Restaurant
The New World City hotel 
Khao San area (near Khao San Road)
Bangkok, Thailand



4. Magic Food Point
Lantai 1 Svarnabhumi Airport




























Bangkok Trip (3)



Tiga hari di Bangkok, banyak hal menarik kami temui disana. Salah satunya kecintaan rakyat Thailand kepada Raja-nya. Banyak foto super gede Raja dan keluarga kerajaan yang dipajang sepanjang jalan. Benar-benar super gede, hampir setinggi atap gedung 1 lantai. Dipajang di depan gedung perkantoran, sekolah, dan sudut-sudut kota.
 
Pagi ini aktifitas dimulai dengan sarapan biskuit (again) di depan hotel sambil menunggu bis travel menjemput. Tiga tiket untuk wisata ke pasar terapung (floating market) Damnoen Saduak sudah dibeli sebelumnya di travel agent kecil dekat hotel seharga @ 250b. Dengan minivan berkapasitas 12 orang dewasa, perjalanan ditempuh selama 1,5-2 jam ke arah luar kota Bangkok.
 
Pasar terapung ini sudah lama menjadi pusat atraksi wisata. Buka sebelum jam 8 pagi dan selesai saat tengah hari, Damnoen Saduak merupakan satu-satunya pasar terapung yang buka setiap hari di Thailand. Disini para wisatawan dinaikkan ke beberapa perahu mesin berukuran sedang. Sesekali perahu kami didekati oleh penjual yang naik perahu dayung. Barang dagangan mereka macam-macam, mulai dari makanan, baju sampai peralatan dapur dan souvenir juga ada. Bila berminat membeli, jangan ragu untuk menawar. Kalau harga dinilai terlalu mahal, sabar saja. Nanti di pasar daratnya juga banyak penjual serupa.
 
Tiba kembali di pasar daratnya, kami menyempatkan berbelanja makanan dan souvenir. Kualitas barangnya bagus, sementara harganya murah. Tapi sekali lagi, harus pintar menawar. Di pojok pasar ada toko oleh-oleh yang memberikan harga pas, cocok bagi mereka yang tidak bisa menawar seperti kami.
 
Sticky rice  with mango
Cemilan khas Thailand yang wajib di coba salah satunya adalah sticky rice with mango/durian alias ketan yang dikukus dan dimakan bersama mangga/durian. Perpaduan manisnya mangga/durian dengan gurihnya ketan terasa unik dilidah. Seporsi hanya dihargai 30b untuk yang mangga dan 50b untuk yang durian. Kami tidak makan siang disitu, karena hampir semua menjual makanan tidak halal. Untuk mengenyangkan perut sementara, akhirnya kami membeli lagi 3 porsi mangga potong seharga total 50b. Lumayan lah, daripada kelaparan :D
 
Naik minivan kembali menuju Bangkok dan sempat berhenti di SPBU untuk ke toilet, kami diturunkan di dekat Khaosan Road, atau sekitar 15 menit jalan kaki ke hotel tempat menginap. Dengan berjalan kaki, kami menuju Trok Surao. Tapi ternyata si ibu India hari itu memasak menu yang pedas seperti fish curry. Tidak mungkin 3pzh bisa memakannya. Untuk makan di gerai makanan cepat saji seperti KFC atau Burger King, tidak menjadi pilihan kami karena tidak bersertifikasi halal.
 
Setelah bertanya-tanya ke penduduk sekitar, seorang ibu berjilbab (mukanya seperti orang Indonesia, tetapi katanya beliau asli Thailand) menunjukkan arah ke sebuah tempat makanan halal bernama Aisah/Aesaah. Dari jalan di samping Tan Hua Seng department store, Aisah berada di sisi kanan jalan. Sempat kelewatan, tapi akhirnya ketemu. Tempatnya nyempil diantara toko-toko, sebelum minimarket 7/11.

Aisah semacam foodcourt sederhana, dimana ada beberapa penjual makanan yang semuanya halal. Beberapa menu yang tersedia adalah noodle soup, nasi briyani, ayam gulai, dan martabak goreng. Memesan 4 porsi nasi biryani dengan ayam (zi nambah!), 1 noodle soup dan 1 nasi briyani dengan daging total 255b atau tidak sampai 80rb rupiah.
 
Sorenya setelah mandi dan shalat di hotel, kami pergi ke tengah kota. Naik taxi dari jalan Chakropong ke Siam Center ongkosnya 65b dengan argo. Dari sana berjalan kaki ke Madame Tussauds Wax Museum di Siam Discovery melalui sky bridge.
 
Madame Tussauds Bangkok
Madame Tussauds adalah musium lilin yang menampilkan patung-patung tokoh internasional dan lokal dari artis, olahragawan sampai negarawan. Dari lantai bawah Siam Discovery sudah ada counter-nya. Ada patung Jackie Chan, Naomi Campbell, Britney Spears, Barack Obama dan lain-lain. Untuk patung-patung di luar musium, pengunjung bebas berfoto tanpa harus bayar tiket. Counter tiket berada di lantai 6, tiketnya seharga 800b/orang. Harga tiket termasuk buku petunjuk (berisi keterangan patung-patung disitu) dan print out foto dengan beberapa tokoh tertentu.
 
Di Madame Tussauds sini juga dapat bermain bola digital dengan David Beckham, tennis digital dengan Serena Williams atau tinju digital dengan Muhammad Ali. Musium lilin ini memiliki koleksi patung-patung yang tidak seluruhnya sama di tiap cabangnya dan di tiap negara ada tokoh lokal yang dijadikan model patungnya.
Sky bridge 
Dari Siam Discovery, lalu kami berburu oleh-oleh di MBK mal yang letaknya saling bersebrangan. Mal-mal besar itu (Siam Discovery, MBK, Siam Paragon dan Siam Center) berada tepat di 4 sisi perempatan dan saling dihubungkan oleh sky bridge. MBK semacam mal mangga dua di Jakarta, hanya lebih bersih dan teratur. Kalau pintar menawar bisa dapat harga murah, terutama bila membeli dalam jumlah banyak.
 
Kalau lapar, di lantai 6 MBK ada food center yang menggunakan sistem pembayaran dengan kupon yang dibeli di counter khusus, seperti di food court Mal Taman Anggrek, Jakarta. Untuk harga, tidak jauh beda dengan gerai makanan di tujuan wisata lainnya.

Muslim counter at MBK
Mengistirahatkan kaki sejenak setelah lelah berburu souvenir, kami nyemil sticky rice with durian seharga 50b. Kemudian dilanjutkan dengan makan malam, masih di area yang sama. Di sini ada food counter khusus muslim yang menyediakan nasi biryani, kari ayam, ayam goreng dan yen ta fu (semacam mi bakso campur yang di singapore disebut yong tau foo). Harganya juga tidak semahal harga makanan di mal Jakarta. Total makan malam kami hanya 200b untuk 5 porsi macam-macam makanan dari counter tersebut.
 
Kembali ke hotel, taxi kembali menjadi pilihan karena hari sudah malam. Rencananya kami hanya akan beristirahat dan packing malam itu. Besok sore sudah harus kembali ke Jakarta. Tapi karena tengah malam mendadak kelaparan, terpaksa kami ke depan hotel mencari makanan. Untung ada penjual Pad Thai (semacam mi goreng).
Pad Thai
Setelah yakin penjualnya tidak menjual daging, akhirnya kami memesan seporsi Pad Thai pakai telur seharga 40b. Mi nya bisa pilih sendiri, mau mi kuning, kwetiau atau bihun. Isinya bisa telur atau seafood. Untuk rasa, bila suka pedas kita masukkan sendiri bumbu dan bubuk cabe yang tersedia di gerobaknya, saat Pad Thai-nya sedang dimasak penjualnya. Porsinya besar dan rasanya lumayan enak (poin 65 dari 100). Cukuplah untuk obat kelaparan malam itu.

Besok hari terakhir di Bangkok. Ada beberapa kuil terkenal yang ingin kami kunjungi. Kuil tempat patung Buddha raksasa tidur (Gigantic Buddha) dan kuil tempat patung Buddha emas merupakan tujuan terakhir kami sebelum kembali ke Jakarta. Ikuti terus kisahnya, ya ;)






Addresses:

1. Siam Paragon Mall
Opening Hours: 10:00 - 22:00 
Location: At Siam BTS Station 
BTS: Siam 

2. Siam Discovery
Opening Hours: 10:00 – 20:00 (Mon-Thu), 10:00 – 21:00 (Fri-Sun and public holidays) 
Location: 1420/1 Praditmanutham Road 
Tel: +66 (0)2 101 5999 

3. MBK 
Opening Hours: 10:00 - 22:00 
Location: Pathumwan Intersection, diagonally opposite Siam Discovery Centre 
BTS: National Stadium 
Tel: +66 (0)2 620 9000 

4. Aisah / Aeisah Rosdee / Areesaa Lote Dee
Dekat Wat Bowonniwet
Khao Mok Gai Khao - near Khao San Road





















Bangkok Trip (2)

Tuktuk

Hari kedua di Bangkok, rencananya mau ke Marble Temple dan Grand Palace sekalian mencoba naik tuktuk.

Tidak dapat sarapan di hotel sementara tempat jualan makanan halal baru mulai buka jam 10 pagi, memaksa kami harus puas mengisi perut dengan biskuit pagi itu. Sempat jalan kaki mencari-cari tempat makanan halal akhirnya menyerah dan naik tuktuk langsung menuju Marble Temple.

Marble Temple
Wat Benchamabopitr atau sering disebut juga sebagai "kuil marmer" atau marble temple di buku petunjuk wisata. Bangunan dinding luarnya terbuat dari marmer sehingga terkesan mewah dan megah. Tiket masuknya seharga 20b/orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis.

Duduk-duduk di bangku yang tersedia di tamannya, kami ditawari seorang wanita untuk membeli roti tawar. Karena bentuknya kurang menarik dan merasa membawa cukup bekal makanan, kami menolak membeli. Belakangan baru kami tahu kalau roti-roti itu ternyata dijual untuk tamu kuil yang ingin memberi makan burung-burung merpati yang banyak terdapat di taman tersebut x_x

Dari Marble Temple, kami lalu naik tuktuk lagi ke Golden Mount dengan ongkos 50b. Sebelum naik, si supir tuktuk minta tolong agar kami mau diantarkan ke toko yang menjual sutra. Katanya, dia akan dikasih gratis 1 liter bensin kalau membawa turis ke sana. Karena kasihan, kami iya kan saja, apalagi tidak diharuskan membeli apapun.

Tapi setelah keluar dari toko sutra tersebut, si supir tuktuk kembali meminta kami agar bersedia mendatangi 1 toko sutra lagi. Kami menolak. Hari sudah semakin siang, takutnya kami tidak sempat kemana-mana. Akhirnya kami diantarkan juga ke Golden Mount, seperti kesepakatan semula.

Golden Mount
Kuil yang dikenal dengan nama Gunung Emas (the Golden Mount) atau Phu Khao Thong ini adalah sebuah kuil yang dibangun di atas bukit dengan pemandangan Rattnakosin Island di bawahnya. Masuk ke halamannya tidak bayar, entah kalau masuk ke dalam kuilnya. Matahari yang bersinar terik menyurutkan semangat kami menapaki tanjakan menuju kuil Golden Mount. Jadi setelah selesai foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan dengan tuktuk yang tadi. Rencananya langsung menuju Grand Palace.

Chao Praya
Sebelum menjalankan tuktuknya, si supir kembali menawari kami paket keluarga naik kapal dari pelabuhan yang melewati Wat Arun dan berakhir di dekat Grand Palace. Semula tiket yang ditawarkan 2000b, tapi kami terus menolak sampai akhirnya harga turun menjadi 1000b. Sebenarnya sih, paket wisatanya tidak menarik. Tapi mengingat ini akan menjadi pengalaman baru bagi 3pzh, akhirnya kami setuju. Terbukti, 3pzh senang sekali naik kapal dan tidak henti-hentinya bertanya sepanjang perjalanan.

Tuktuk mengantar sampai ke pelabuhan. Kapal itu berkapasitas 10 orang dewasa (tapi hanya kami berlima penumpangnya). Kami menyusuri Sungai Chao Praya selama sekitar sejam lebih, hingga tiba di pelabuhan dekat Grand Palace. Di pelabuhan ini kami diminta membayar 20b lagi yang katanya pajak pelabuhan. Whatever. Daripada ribut, sutralah dibayar saja. Berjalan melintasi jalanan di dalam pasar, kami sempatkan membeli buah potong di tukang rujak. Rasa mangganya manis, sudah dikupas dan dipotong-potong lengkap dengan bijinya, sebuah seharga 20b Sementara 3 biji durian (mungkin yang di Indonesia kita sebut durian Bangkok) dihargai 70b.

Wat Phra Kaeo
Ternyata Grand Palace terletak tepat di seberang pasar tadi. Kompleks Istana terkenal di Bangkok ini dibangun pada 1782 dan di dalamnya termasuk Wat Phra Kaeo (Temple of the Emerald Buddha). Seperti kuil-kuil lainnya di Bangkok, turis diwajibkan memakai pakaian yang sopan dan tidak terlalu terbuka bila ingin memasuki wilayah Grand Palace. Dekat pintu masuk ada tempat yang meminjamkan sarung sebagai ganti celana/rok pendek dan kemeja untuk mengganti tank top, yang banyak dikenakan turis asing di udara sepanas saat itu.

Disini turis juga bisa berfoto dengan memakai baju tradisional Thailand sebagai kenang-kenangan, bila mau. Kostumnya disewakan dan fotografernya disediakan dengan sedikit imbalan, tentunya. Mungkin karena sudah lapar dan kelelahan, anak-anak menolak masuk ke dalam. Jadi kami hanya foto-foto di halamannya saja. Saat sedang duduk beristirahat itulah kami didatangi sekelompok turis dari Korea. Dengan bahasa Inggris terpatah-patah mereka meminta kesediaan kami untuk foto bareng dengan mereka. Mereka bilang, "You all are happy family." Mungkin karena kaos warna merah seragam yang kami pakai, jadi terlihat kompak dan unik :D

Dari Grand Palace kami ke Cakraphong Road naik taxi dan berhenti di depan Tang Hua Seng department store. Rencananya kami ingin mencari makanan halal dekat mesjid di belakang hotel. Menyusuri gang kecil Trok Surao yang berada di seberang department store tadi, kami akhirnya menemukan sebuah rumah yang menjual makanan halal. Pemiliknya seorang ibu yang sepertinya berdarah India. Kami memesan 2 nasi biryani ayam dan 1 nasi tumis. Seluruhnya seharga 130b dengan porsi yang sangat generous, untuk makan siang. Selesai makan siang, kami berjalan kaki pulang ke hotel untuk beristirahat.

Makanan Halal Bangkok
Malamnya kami kembali ke gang Trok Surao untuk mencari makan malam. Pas dimulut gang ada penjual makanan halal. Yang jualan ibu-ibu berjilbab, orang asli Thailand. Beliau, menjual makanan khas Thailand seperti tom yam dan lain-lain. Meja dan kursi tadinya disusun di sisi Cakraphong Road, tapi berhubung gerimis kemudian dipindahkan ke dalam gang.

Setelah mempelajari menu yang ditempel di dinding, kami memesan 2 chicken noodle soup, 1 duck noodle soup, 1 hainan chicken rice dan 1 roasted duck rice. Duck noodle soup-nya enak, daging bebeknya yang lembut diiris tipis disajikan dengan mie seperti angel hair dan kuah yang gurih. Sementara menu lain yang kami pesan juga tidak kalah juaranya. Harga total 180b atau sekitar 50rban saja untuk 5 porsi makanan tadi. Murah dan enak! Penutup malam yang sempurna.

Besok perjalanan dilanjutkan ke pasar terapung dan Madame Tussauds wax museum. Ikuti kisahnya di Bangkok Trip (3) yaaa ;)







Alamat-alamat:


1.The Marble Temple (Wat Benchamabopitr)

69 Nakornpathom Rd 
Dusit, Bangkok 10300, Thailand
66 2 282 7413


2. The Golden Mount (Wat Saket)

Boripihat & Bamrung MuangRds, Bangkok 10200


3. The Grand Palace

Na Phra Lan Rd, 
Maharaj Pier next to Wat Phra Kaeo Temple Complex 
City Center, Bangkok





























Bangkok Trip (1)



Kota Bangkok, ibukota negara Thailand, merupakan salah satu tujuan favorit untuk wisata belanja.

Harga barang-barang di sana jauh lebih murah daripada di Jakarta, dengan mutu yang setara. Perpaduan kebudayaan yang eksotis, kuliner yang mendunia dan pembangunan yang pesat, juga membuat wisatawan manca negara tetap mengunjunginya walau negara ini pernah dilanda demo dan pemogokan besar-besaran. Bahkan bencana banjir yang melandanya baru-baru ini, tidak menyurutkan niat para wisatawan mendatangi negara yang juga dijuluki negara Gajah Putih.

Namun bagi Zi, Bangkok itu Kota Seribu Kuil. Kata Zi, karena ada banyak kuil di tiap beberapa meter. Entah itu di sekolah atau tempat bersejarah, pokoknya ada kuil dimana-mana. Seru sekali menjelajahi kotanya dan mendatangi beberapa kuil terkenal disitu. Kotanya relatif bersih dan aman, sehingga bila berjalan kaki cukup nyaman.

Seperti biasa, liburan kali ini kami juga naik AA. Mendarat sekitar jam 9 malam di Bangkok, atau hampir sejam lebih lama dari yang dijadwalkan. Pesawat harus terbang berputar-putar di atas Svarnabhumi airport akibat penuhnya jadwal penerbangan di bandara tersebut. Pertama-tama harus melewati imigrasi dulu. Rombongan dengan membawa anak-anak dipersilakan mengantri di barisan tersendiri. Setiap orang, termasuk anak-anak, diharapkan memegang passport-nya masing-masing. Lucu sekali melihat anak-anak umur 2 tahunan berdiri di depan loket imigrasi dan menatap kamera untuk dipotret sebagai syarat mendapatkan cap pada passport mereka.

Urusan imigrasi dan bagasi kelar, kami segera menuju hotel. Badan yang penat sudah kangen tempat tidur. Hotel yang kami pesan tidak menyediakan pick up service, jadi harus naik taksi yang bisa di pesan di taxi pool bandara. Ada petunjuk yang cukup jelas ke arah taxi pool yang berada di luar gedung. Turun ke lantai paling bawah dengan escalator, lalu keluar melewati pintu putar, dan belok kiri ke arah antrian calon penumpang taksi. Cukup berikan tulisan alamat tujuan anda kepada petugas, lalu si petugas akan memberikan semacam tiket ke supir taksinya dan kita dapat langsung naik. Alamat tujuan (hotel) harus dalam bahasa dan tulisan Thailand juga, karena tidak semua orang lokalnya dapat berbahasa Inggris. Nanti ongkos taksi dibayarkan setelah sampai di tujuan, sedangkan uang tol dibayarkan langsung saat di pintu tol.

Hotel kami, Rambuttri Village Inn, di dapat dari hasil browsing yang menyebutkan daerahnya cocok untuk mereka yang membawa anak-anak, karena jauh dari hingar bingar kehidupan malam kota Bangkok. Bagi mereka yang tujuannya wisata belanja, disarankan untuk mencari penginapan di daerah Pratunam yang ada pasar malamnya. Sedangkan bila anda suka keramaian khas turis seperti di Jalan Jaksa Jakarta, bisa menginap di sekitar Khaosan Road.

Dari bandara ke hotel ongkos taksinya sekitar 500b atau Rp150rb-an. Not bad lah ya, sama seperti kalau naik taksi dari Soeta ke Tebet :) Oya, berdasarkan referensi di internet, penumpang harus waspada dengan supir taksi di Thailand. Bila anda mulai merasa si supir memutar-mutar kendaraannya agar argo taksinya mahal, pura-pura saja bicara (dalam bahasa apa saja) dengan menyebut kata-kata "police". Terbukti, si supir yang sebelumnya bilang butuh waktu 1 jam untuk sampai di hotel, ternyata setengah jam saja sudah sampai :)

Hotel-hotel di Thailand, dengan rate sekitar 1100b per malam, biasanya sudah hotel yang bagus, dengan catatan memesan secara online. Rambuttri Village Inn merupakan hotel bintang 3 yang dikelilingi oleh restoran, bar, warnet, laundry, agen perjalanan dan mini market yang buka 24 jam.

Untuk deluxe triple room dengan AC dan kamar mandi di dalam, harga per malam USD 14.64 atau sekitar 150rb-an tidak termasuk sarapan. Dengan fasilitas Cable TV, Safe Deposit Box, Hot Water, kamarnya cukup nyaman kalau cuma untuk istirahat. Di rooftop-nya juga ada kolam renang yang lumayan untuk anak-anak bermain air setelah seharian lelah jalan-jalan.

Karena tidak mau repot membawa baju kotor pulang ke Indonesia, kami memanfaatkan jasa laundry kiloan selama di Bangkok. Terletak di lantai bawah dekat lobby, laundry disini memerlukan waktu 2 hari untuk baju kita terima kembali sudah dalam keadaan bersih terlipat (tidak disetrika). Lumayanlah untuk mengurangi tumpukan baju kotor sehabis liburan :D

Bagi wisatawan muslim, di belakang hotel ada Masjid Chakrapong dan perkampungan muslim. Mencari tempat yang menjual makanan halal di sekitar hotel, tidaklah sulit. Di lorong menuju masjid ini banyak penjual makanan halal sampai menjelang Maghrib. Makanan halal yang dijual di sana antara lain Martabak (daging, ayam, vegetarian), Khao Mok (nasi biryani dengan lauk ayam atau daging), dan Kari Pla (kari ikan yang nendang pedasnya dimakan dengan Roti canai). Harganya juga murah sekitar 30-50 Baht per porsi (10-15 ribuan).

Bagaimana pengalaman kami di hari kedua di Bangkok? Kuil apa saja yang dikunjungi? Kenapa harus waspada dengan tawaran supir tuktuk? Ikuti kisahnya di "Bangkok Trip (2)".






Rambuttri Village Inn
95 Soi Ram Buttri, 
Chakkra Phong Road, Nakorn 














Pulang Ke Kotamu (5)





Taman Pintar

Selesai makan, kami berjalan kaki sampai ke ujung Jalan Widjilan lalu lanjut naik becak ke Taman Pintar. Hasil browsing menunjukkan tempat ini semacam tempat bermain anak dengan berbagai simulasi dan permainan yang murmer alias murah meriah. Dengan HTM 15rb utk dewasa dan 8rb utk anak diatas 2tahun, Taman Pintar merupakan tempat yang wajib dikunjungi kalau ke Jogja membawa anak. Disitu anak-anak bisa betah seharian bermain.

Dinding Berdendang
Taman Pintar terdiri dari beberapa zona, yaitu: playground, gedung heritage, gedung oval dan gedung kotak. Playground merupakan zona/arena terbuka yang gratis bagi pengunjung. Disini disediakan sejumlah wahana bermain untuk anak-anak seperti Pipa Bercerita, Parabola Berbisik, Dinding Berdendang, Rumah Pohon, Air Menari dan lain-lain. 

Ruang tunggu PAUD
Gedung Heritage diperuntukkan bagi pendidikan anak berusia dini (PAUD), yang terdiri dari anak-anak usia pra-sekolah hingga TK. Pengunjung harus membayar tiket lagi untuk masuk kesini. Dengan tiket dibawah 10rb/anak, mereka bisa puas bermain puzzle, mewarnai, membaca buku dan menonton video pendidikan. Orangtua/pengasuh dilarang masuk ke dalam, jadi pastikan anak anda mau masuk sendiri sebelum membeli tiketnya. Ada cctv dalam ruangan bermain anak yang tv monitornya dipasang di ruang tunggu, sehingga orangtua bisa memantau dari luar.

Patung dinosaurus
Gedung Oval adalah zona yang terdiri dari zona pengenalan lingkungan dan eksibisi ilmu pengetahuan, zona pemaparan, sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada patung dinosaurus, replika mobil innova, miniatur candi Borobudur dan masih banyak lagi.

Sedangkan Gedung Kotak terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama adalah zona sarana pelengkap Taman Pintar yang mencakup ruang pameran, ruang audiovisual, radio anak Jogja, food court, dan souvenier counter. Lantai kedua merupakan zona materi dasar dan penerapan iptek terdiri dari Indonesiaku, jembatan sains, teknologi populer, teknologi canggih, dan perpustakaan. Sedangkan lantai ketiga terdiri dari laboratorium sains, animasi dan tv, dan courses class. Disini pengunjung dapat menonton film 4D dengan membeli tiket tambahan sebelumnya. Sama seperti sinema 4D yang ada di Ancol, penonton bisa basah disemprot air disini :)

Alat simulasi gempa
Selain yang sudah disebutkan diatas, fasilitas lainnya yang tersedia di Taman Pintar adalah alat peraga iptek interaktif (ada alat simulasi gempa), ruang pameran dan audiovisual, Food court, Mushola, Toko souvenir dan Pusat Informasi.

Menurut saya, Taman Pintar ini sedikit banyak mirip Science Center di Singapur atau Petrosains di Kuala Lumpur. Sungguh bangga Indonesia punya tempat seperti ini, walau lokasinya bukan di Jakarta. Dibandingkan tempat permainan edukatif lain yang ada di ibukota, yang sudahlah tiketnya mahal, dibangunnya di mal bergensi lagi, sehingga tidak terjangkau bagi kalangan ekonomi lemah.

Dari Taman Pintar, kami melanjutkan perjalanan ke Benteng Vrederburg. Letaknya sebelum pasar Beringhardjo. Disini kami cuma numpang foto-foto di gerbangnya, karena 3pzh mulai kelelahan. Dari situ kami kemudian ke Toko Mirota untuk belanja oleh-oleh batik. Inginnya sih belanja batik ke pasar, tapi karena tidak piawai menawar, mendingan ke toko yang ada harga pasnya. Tidak pakai ribet, bisa pakai kartu (debit/kredit) dan adem lagi ;)

Toko Batik Mirota ini menjual berbagai jenis barang yang bisa dijadikan buah tangan. Mulai dari jamu sampai baju, mulai dari kipas sampai tas, sagala aya (segala ada) pokoknya. Harganya juga tidak mahal. Ikat pinggang yang sama persis saya lihat di Thamrin City seharga 50rb (sudah ditawar), disitu hanya 33ribu. Beli bahan batik untuk seragam lebaran, 10 meter cuma 180ribu. Waduh, untung ga kalap belanjanya :D

Tiga hari berlibur ke Jogja, rasanya kurang lama. Masih banyak lagi tempat yang belum sempat kami kunjungi. Museum Ullen Sentalu, Pantai Parangtritis, Istana Ratu Boko, Rumah Mbah Maridjan, Jejamuran, House of Raminten serta SGPC (SeGo PeCel alias nasi pecel). Jogja, someday we'll be back!


"...Pulang ke kotamu, 
ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi 
saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja..."

Alamat-alamat:
*Taman Pintar
Jalan Panembahan Senopati No. 1-3
Yogyakarta 55122
Telpon 62 274 583 631-583 713
Koordinat GPS: S7°48'4.6" E110°22'2.3" 

Jadwal Buka
Selasa - Jumat pk 09.00 -16.00 WIB
Sabtu - Minggu pk 08.30 - 20.00 WIB
Senin tutup (kecuali hari libur nasional dan musim liburan sekolah)

Harga Tiket
Playground: gratis
Gedung PAUD: Rp 2000 / anak (2-7 tahun)
Gedung Oval & Kotak: Rp. 8.000 / anak, Rp. 15.000 / dewasa
Gedung Memorabilia: Rp. 3.000 / anak, Rp. 5.000 / dewasa
Teater 3D: Rp. 15.000 / orang 

*Mirota Batik
Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 9 Malioboro Selatan
Yogyakarta



Pulang Ke Kotamu (4)

Keraton

Matahari yang menyengat siang itu membuat anak-anak kepanasan dan mulai rewel. Jadi kami putuskan untuk naik becak saja ke Keraton. Tanpa ditawar, kami naik 2 becak @Rp10ribu untuk sekali jalan. Mungkin sedikit kemahalan, tetapi tidak tega menawarnya karena bapak pengemudi becaknya sudah setengah tua.

Tempat tinggal Sultan
Ternyata letak Keraton tidak terlalu jauh dari Taman Sari. Setelah membeli tiket dan meminta di dampingi seorang guide, kami mulai memasuki Keraton. Pengunjung Keraton diharapkan memakai pakaian sopan, tidak boleh memakai sendal jepit, celana pendek atau baju tanpa lengan. Untuk yang membawa kamera, ada tiket khusus kamera. Sedangkan untuk guide, mereka adalah para pegawai Keraton dan tidak menetapkan tarif, jadi kita berikan seikhlasnya saja. FYI saja, untuk setiap jasa guide di Jogja, angka 20ribu adalah angka yang wajar.

Museum
Di dalam Keraton, pengunjung bebas berfoto-foto. Ada ruang dimana pengunjung dapat menikmati suguhan gending jawa atau tarian di jam dan hari tertentu, juga ada koleksi barang-barang Raja/Sultan di ruang museumnya.

Abdi Dalem
Di sebuah sudut Keraton, tampak barisan abdi dalem sedang duduk bersila. Mereka adalah pensiunan pegawai negri sipil yang mengabdikan hidupnya untuk Raja. Kecintaan mereka kepada Raja-lah yang membuat mereka ikhlas digaji sangat kecil. Salah satu prinsip hidup yang saya kagumi dari orang Jogja: walau sudah tua, tapi tetap ingin memberi manfaat bagi orang lain *4jempol* Seperti juga Pak Poniman, supir kami kemarin, yang sudah pensiun dari pekerjaan sebelumnya, tetapi memilih menjadi supir charter-an karena ingin mengisi hari-harinya dengan kegiatan bermanfaat.

Pilihan menu Yu Djum
Puas melihat-lihat isi Keraton, kami melanjutkan perjalanan ke jalan Widjilan, tempat yang direkomendasikan bila ingin mencari gudeg dekat Keraton. Karena tidak terlalu jauh, kami hanya berjalan kaki. Dalam 10-15 menit, kami sudah sampai di jalan yang terdapat warung gudeg dari ujung ke ujung itu. Bingung memilih mana yang paling enak, akhirnya kami pilih gudeg Yu Djum untuk makan siang, nama yang paling familiar :)

Seporsi gudeg Yu Djum
Warung Gudeg Yu Djum ini hanya dapat menampung kurang dari 20 orang yang duduk secara lesehan. Biasanya, pengunjung dari luar kota juga memesan gudeg untuk dibawa pulang. Termasuk gudeg kering, sepiring gudeg Yu Djum ini perpaduan yang sempurna untuk mengisi perut keroncongan. Opor ayam kampungnya sangat lembut dan gurih (bisa juga pilih telur atau digabung keduanya), gudeg nangkanya manis, sedangkan kreceknya pedas mantap. Sluuuuurrpp!




Keraton
Jam Buka: 08.00 - 14.00 WIB
Tiket masuk:
    * Tepas Kaprajuritan: Rp. 3.000
    * Tepas Pariwisata: Rp. 5.000
Ijin kamera/video: Rp. 1.000
Jadwal pertunjukan harian di kraton
    * Senin - Selasa: Musik gamelan (mulai jam 10.00 WIB)
    * Rabu: Wayang golek menak (mulai jam 10.00 WIB)
    * Kamis: Pertunjukan tari (mulai jam 10.00 WIB)
    * Jumat: Macapat (mulai jam 09.00 WIB)
    * Sabtu: Wayang kulit (mulai jam 09.30 WIB)
    * Minggu: Wayang orang & pertunjukan tari (mulai jam 09.30 WIB)         





Family Holiday: Malaysia

Family Holiday atau Liburan Keluarga, siapa yang tidak mau? Biasanya, acara liburan ini dilakukan dua kali setahun, saat liburan sekolah.
Itu, biasanya. Keluarga kami tidak biasa. Keluarga kami, liburan kapan ada kesempatan dan ada uangnya. Kalau sakit-sakit sedikit, tetap dipaksain jalan. Soalnya, ayahnya anak-anak susah sekali cuti. Biasanya, liburan sekolah, saya dan anak-anak berlibur ke kota kelahiran saya di Sumatra, tanpa didampingi ayahnya. Kalau pun ayahnya datang, biasanya satu atau dua hari menjelang kami pulang. Itu pun biasanya Sabtu sore dia datang, Minggu malam kami pulang.
Jadi, sewaktu hubby bilang akan mengajak kami ke Malaysia dalam perjalanan dinasnya, saya malah ragu-ragu. Masalahnya, pertama: walaupun hari Kamis tanggal 21 Mei itu adalah tanggal merah, tetapi hari Jumat si sulung tetap masuk sekolah. Kedua, ini kan baru bulan Mei! Uang dari mana? Gesek lagi? Wah.... saya kok kurang setuju liburan yang terlalu maksa begini. Kalau cuma dalam kota, paling cuma 1-2 juta yang di gesek.... kalau ke luar negri?
Ternyata, suami saya punya penyelesaiannya. Untuk masalah pertama, katanya dia akan menulis surat izin ke guru sekolah si abang. Sementara masalah keuangan, katanya ada solusinya. Uang perjalanan dinas yang diperolehnya dari kantor, bisa dipakai untuk membeli tiket pesawat dan membayar sewa hotel. Asal beli tiket murah dan cari hotel yang murah juga, insya Allah bisa cukup. Fiskal kan sudah gratis.
Sampai di sini, saya masih tetap ragu-ragu. Bukannya apa-apa. Bagi saya, kalau ada uang lebih, sebaiknya mendahului pelunasan hutang (dalam kasus kami, hutang kartu kredit). Tapi suami saya meyakinkan, belum tentu ada kesempatan seperti ini lagi. Memang sih, biasanya dia berangkat untuk perjalanan dinas, pergi Minggu sore, pulang Jumat malam. Kali ini kan beda. Kamis sampai Jumat kerja, Sabtu dan Minggu bisa dipakai untuk jalan-jalan, demikian alasannya.
Setelah browsing di internet, akhirnya dapatlah tiket lumayan murah dari Airasia dan hotel paling reasonable, yaitu Corus Hotel. Dipilihnya hotel itu, karena tidak mahal (alasan utama) dan terletak di tengah kota, sehingga dekat dengan tourist attractions. Jadi bisa menghemat biaya transportasi kan?
Tiket dipesan hampir sebulan sebelum berangkat. Begitu juga hotel. Padahal, saat itu saya dan anak-anak belum punya paspor (saya sih punya, tapi sudah expired!). Saya sampai tidak berani cerita ke siapa-siapa tentang rencana kami ini, karena takut gagal. Seminggu sebelum berangkat, barulah paspor ada di tangan.
Sebelum Berangkat
Begitu sudah 80% pasti akan jalan, saya pun mulai sibuk membuat lists of things to do dan things to bring. Ribet. Bayangkan, saya harus menyiapakan barang yang harus dibawa untuk 4 orang (suami membuat daftarnya sendiri)! Seminggu sebelum berangkat, maraton mencuci dan menyetrika pun dimulai. Saya bilang maraton, karena kami tidak mempunyai pembantu, apalagi tukang cuci. Normalnya, saya mencuci tiga kali seminggu diselingi menyetrika yang juga tiga kali seminggu. Karena mau liburan 4 hari, berarti saya harus menyelesaikan cucian dan setrikaan minggu ini, sebelum kami berangkat. Dalam 1 hari, yang biasanya saya mencuci saja atau menyetrika saja, sekarang harus hari ini mencuci dan kemudian menyetrika baju yang kemarin sudah dicuci. Begitu terus selama seminggu. Harapannya, pulang liburan nanti, tidak banyak cucian dan setrikaan yang harus dikerjakan lagi.
Sampai malam sebelum keberangkatan, saya belum selesai packing! Waaaks! Mulai panik! Kepanikan bertambah dengan tertinggalnya tas kantor suami yang isinya itinerary dan print out tiket pesawat! Akhirnya jam 2 malam, urusan packing selesai juga. Itinerary dan tiket, di print ulang di rumah. Tidur sebentar, tahu-tahu sudah jam 3.30 sedangkan jam 4-an kami harus sudah meninggalkan rumah karena pesawat dijadwalkan jam 6.15.
Hari Pertama
Saya lalu membangunkan suami, cepat-cepat mandi, membangunkan anak-anak dan mengganti pakaian mereka. Lalu turun ke bawah bikin susu, loading barang-barang ke mobil, dan akhirnya.... periksa pintu, jendela dan stop kontak listrik sebelum meninggalkan rumah.
Setelah sampai di pesawat baru terasa mata berat.... sekali. Namanya juga cuma sempat tidur kurang dari 2 jam. Bagaimana tidak mengantuk? Tapi berhubung anak-anak baru mulai 'on', jadi ya dengan mata sepat terpaksalah saya meladeni keceriwisan mereka. Oiya, mereka tidak saya dan suami beri tahu bahwa kami akan liburan ke Malaysia. Sampai check in, mereka tahunya akan mengantar ayahnya ke bandara. Si abang mulai curiga waktu kami masuk ke bagian yang ada pemeriksaan koper dengan bea&cukai. Rencana ini memang sengaja kami sembunyikan dari anak-anak, karena kami takut mengecewakan mereka kalau ternyata batal berangkat.
Di pesawat, si abang sibuk membaca leaflet tentang keamanan penerbangan, si kakak sibuk menggambar, sementara si adik asyik tidur. Alhamdulillah, anak-anak kami buka tipe yang rewel dan penakut saat naik pesawat. Bahkan mereka terlihat sangat menikmatinya. Si adik yang baru pertama kali naik pesawat pun sama sekali tidak rewel sepanjang perjalanan.
Sampai di Malaysia sekitar jam 9-an. Setelah clearance, kami naik taksi ke hotel. Karena belum bisa masuk kamar, terpaksa koper kami titipkan di concierge. Sementara itu kami langsung jalan kami ke Suria KLCC. Tujuannya ke Petrosains dan makan siang. Ternyata cukup dekat dari hotel. Kalau jalan santai, tidak sampai 30 menit sudah sampai. Sekitar 300 meter dari hotel.
Mengunjungi Petrosains, saya jadi menyayangkan mengapa Indonesia tidak bisa membuat tempat semacam itu. Petrosains bisa dibilang seperti Kidzania. Tetapi kalau Kidzania memberikan kesempatan kepada pengunjungnya untuk merasakan bekerja dalam berbagai profesi, Petronas memberikan kesempatan untuk melakukan simulasi dan percobaan sains (ilmu pengetahuan alam) yang berhubungan dengan petroleum atau minyak. Kita juga bisa mengetahui bagaimana rasanya berada di oil rig atau tempat pengeboran minyak. Anak saya yang sulung kebetulan sangat menyukai sains. Di tempat ini, dua jam belum cukup buatnya bereksplorasi.
Belum puas di Petrosains (kami tidak sempat mencoba Dino Trek), kami harus segera mencari tempat makan siang. Sudah jam 1-an. Harus buru-buru, karena suami masih harus mengejar pesawat yang ke Labuan sore itu. Selesai makan siang dan sekalian membeli makanan buat malamnya (rasanya saya tidak akan kuat keluar hotel lagi mencari makan malam kalau suami tidak ada), kami langsung ke hotel untuk check in.
Hari Kedua
Keesokan harinya, semua bangun kesiangan. Kami sarapan di hotel karena sudah termasuk harga kamar. Setelah sarapan dan mandi, saya dan anak-anak jalan kaki kembali ke Suria KLCC mall. Tujuan hari ini adalah Aquaria dan Suria KLCC Park. Tanpa suami yang mendampingi, saya tidak berani membawa baby trolley. Susah membawanya melewati tangga jalan. Jadi si bungsu harus saya gendong sepanjang perjalanan hari itu.
Tadinya saya malas ke Aquaria, karena beranggapan bahwa tempatnya akan sama saja dengan Sea World. Tapi si abang memaksa. Dia memang hobi sekali mengamati hal-hal semacam ini. Demi anak, akhirnya saya turuti juga. Ternyata, saya tidak menyesal sama sekali! Tempatnya jauh lebih bagus dari Sea World! Terdiri dari 2 lantai, koleksi hewan lautnya banyak dan bervariasi. Disini ada satu kejadian yang cukup memalukan sekaligus mengesalkan. Sewaktu di bagian Education, saya dengan semangat menunjuk ke arah tulisan tentang sea horse (kuda laut) jantan yang hamil. Lihat, bang! Ternyata kuda laut itu yang hamil justru yang jantan! kata saya dengan takjub. Mau tahu apa jawaban si abang? Lho, bunda baru tahu? Abang sudah lama tahu, bun. Makanya baca ensiklopedia, dong.... Gubrak!!!
Dari Aquaria, kami makan siang di food court. Sudah jam 2 lebih, tapi mungkin karena tadi sarapan juga terlambat, anak-anak belum begitu lapar. Sambil makan, saya menyuapi si kakak dan menyusui si adik. Untung si abang sudah bisa makan sendiri. kalau tidak, pusiiiiiiingg!!
Selesai makan, kami keluar gedung mencari taman yang terletak di bagian belakang Suria KLCC mall tadi. Ternyata tamannya luas sekali. Dari melihat peta yang ada di taman, kami tahu ada children playground di situ. Setelah sedikit tersasar (ada perbaikan, jadi beberapa area ditutup, sehingga harus jalan sedikit memutar), akhirnya ketemu juga yang dicari. Ternyata yang namanya children playground itu adalah sejumlah permainan little tikes (ayunan, perosotan, dll) dalam satu area yang luas. Wah.... anak-anak saya langsung kegirangan. Mereka main tanpa mempedulikan panas matahari yang menyengat. Sekitar satu jam disitu, terpaksa saya ajak mereka pulang. Takut sakit. Di antara rengekan si kakak yang belum mau pulang, kami pun masuk kembali ke dalam mal untuk memotong jalan menuju ke hotel.
Sampai di hotel, setelah anak-anak mandi dan minum susu, kami semua pun tertidur kelelahan. Sehabis maghrib, saya siap-siap lagi untuk membeli makan malam. Si abang tidak mau ikut karena merasa kurang enak badan. Pusing, katanya. Akhirnya saya kembali ke mal tadi bersama kakak dan adik. Setelah membeli makan malam dan air mineral di supermarket di dalam mal, kami pun pulang. Kali ini, pulang pergi kami melewati jembatan penyeberangan. Kebayangkan rasanya menggendong bayi, membawa belanjaan sambil menuntun anak kecil? Wuiiiiihhh...... mantaff!!
Si abang ternyata panas suhu badannya. Dia tadinya tidak mau makan, tapi saya paksa. Takutnya tambah parah sakitnya. Beberapa kali muntah, akhirnya saya buatkan minuman sereal agar ada serat yang bisa membuat kenyang. Setelah minum obat demam dan dibaluri minyak kayu putih, dia pun akhirnya tidur. Ayahnya datang saat hampir larut malam. Akhirnya.... bala bantuan datang juga!
Hari Ketiga
Selesai sarapan di hotel, rencananya kami akan istirahat saja di kamar. Si abang masih hangat badannya. Tapi ternyata ada yang protes kalau seharian di kamar terus. Siapa lagi kalau bukan si kakak? Akhirnya, ayahnya menemaninya berenang di kolam renang hotel. Kebetulan kamar kami menghadap ke kolam. Jadi si abang bisa melihat adiknya berenang dari kamar. Maksudnya sih, supaya dia tidak terlalu marah karena tidak dibolehkan berenang.... ternyata malah ngambek! Dasar anak-anak....
Untuk makan siang, hanya suami yang keluar cari makanan di restoran Nasi Kandar di seberang hotel. Nasi kandar itu semacam nasi padang di Indonesia. Hanya saja rasa rempahnya lebih berasa dan bau karinya lebih menyengat. Porsinya pun sama dengan nasi padang. Buanyakk!!!
Malamnya, karena si abang mulai merasa sehat, kami putuskan untuk jalan-jalan ke Bukit Bintang, memanfaatkan free shuttle dari hotel. Ternyata dalam perjalanan, hujan lebat. Kami terpaksa diturunkan di depan Ritz Carlton Hotel. Dari situ, kami naik taksi ke Sungai Wang Mall. Terpaksa naik taksi, karena hujan masih sangat deras. Padahal kalau jalan kaki dari Ritz Carlton tadi cuma 10 menit!
Di Sungai Wang Mall, tujuannya adalah mencari gerai sepatu Vincci yang ngetop itu. Setelah bertanya ke orang-orang akhirnya ketemu, letaknya satu lantai di atas Mc Donalds. Sibuk milih-milih buat oleh-oleh, akhirnya saya memborong 5 pasang sendal..... dan tidak satupun untuk saya! Huaaaaa...... Kenapa ini selalu terjadi sama saya ya? Setiap kali belanja, pasti untuk diri sendiri tidak sempat terbeli! Sudah terlalu malam untuk mencari-cari lagi. Anak-anak belum makan malam. Akhirnya kami makan di Mc D saja, supaya cepat.
Selesai makan, ayahnya anak-anak mau mengajak kami mencoba naik MRT. Akhirnya, kami pun naik MRT ke hotel. Dua kali ganti kereta ditambah jalan kaki beberapa kilometer, akhirnya sampai juga di hotel. Kaki rasanya sudah sebesar kaki Yeti karena capeknya jalan jauh.... Tapi minimal hati sudah tenang, oleh-oleh (sebagian) sudah ditangan.....
Hari Keempat
Hari terakhir. Mulai packing lagi. Pagi-pagi sekali, ayahnya anak-anak sudah ke Petronas untuk antri tiket masuk Skybridge. Tiketnya sih, gratis. Tapi terbatas, jadi harus mengantri dari jam 7.30. Selesai semuanya mandi, kami sarapan di hotel. Ayahnya menyusul. Ternyata dapat tiket yang untuk jam 10.30. Kami putuskan untuk langsung check out dari hotel. Jadi selesai sarapan, kami check out dan menitipkan koper di concierge, lalu langsung berlari-lari ke Twin Towers.
Sampai di sana, ternyata kami sudah terlambat setengah jam. Untung masih dibolehkan masuk. Mungkin mereka kasihan melihat kami yang membawa bayi.... Seperti biasa, yang paling tertarik berada di tempat ini adalah si abang. Berulang kali dia minta difoto sambil memegang brosurnya :) Kekagumannya bertambah saat melihat ada alat yang bisa mengukur tinggi badan secara digital..... Sampai berulang kali dia mencobanya :)
Keluar dari situ, gift shop adalah tujuan berikutnya. Harus mencari oleh-oleh buat teman-teman dan guru kelas si abang, begitu permintaannya. Dari sana, kami langsung ke Suria KLCC mall untuk makan siang dan jalan-jalan menghabiskan waktu sambil menunggu waktu ke bandara jam 5 sorenya.
Jam 4 kurang kami sudah sampai di hotel lagi. Anak-anak berganti baju dan ke kamar kecil dulu sebelum berangkat ke bandara. Taksi yang sudah dipesan lewat concierge menjemput tepat jam 5. Selama satu jam perjalanan menuju bandara, kami semua tertidur di mobil.
Di Bandara sempat makan dan beli oleh-oleh (lagi)..... kali ini coklat buat para keponakan dan kaos buat abang ipar.... tidak lama kemudian, pesawat boarding. Seperti juga perjalanan sewaktu berangkat, kali ini pun anak-anak tidak rewel. Tapi kali ini si adik bangun, jadi sedikit lebih repot. Waktu makan harus gantian memegangnya kalau tidak mau ada yang tumpah. Sementara itu si kakak sibuk ngobrol dengan penumpang yang duduk di belakangnya. Jangan dikira dengan anak seumurannya loh.... Tapi dengan orang dewasa! Sempat terdengar dia menanyakan, om punya pet coiti gak? aku punya... pet ku namanya hula..... Anak zaman sekarang..... obrolannya facebook!!
Sampai di rumah, sudah hampir tengah malam. Anak-anak sudah tertidur di mobil. Tapi tetap semua digantikan bajunya sebelum dinaikkan ke tempat tidur. Bahkan si abang sempat menjamak shalat isya sebelum tidur.
Akhirnya..... home sweet home! Senang rasanya liburan keluarga kali ini sukses. Walaupun harus jadi nanny on duty selama liburan, si abang sempat sakit dan liburan ini merupakan low-cost vacation.... tapi alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan liburan bersama. Terima kasih ya, Rabb.... untuk segala nikmat yang Kau berikan.... :)