Showing posts with label libur. Show all posts
Showing posts with label libur. Show all posts

Menjelajah Kota Penang



Mendengar kata Penang, yang teringat pertama kali adalah kota tujuan kedua bagi orang Indonesia berobat di luar negri, setelah Singapore. Seperti juga daerah bagian Malaysia lainnya, disini pertemuan 3 etnis: Melayu, Cina dan India, dapat dilihat dari keragaman kuliner dan arsitektur kotanya.

Pulau kecil yang terletak di sisi barat semenanjung Malaysia ini memberikan banyak kejutan sejak kedatangan di airport-nya. Walau kecil, tapi airport Penang rapih dan bersih. Taksinya banyak juga yang memakai merk mobil mewah seperti Mercedes Benz. Tapi sayangnya tidak semua pengemudinya bersedia mengangkut 5 penumpang sekaligus untuk taksi yang tipe sedan :(

Bagi kami berlima (walau yang 3 masih anak-anak), harus lebih sabar mengantri sampai ada pengemudi taksi yang bersedia mengangkut kami semua. Kalau yang tipe minibus seperti Innova gitu sih, pasti mau ngangkut penumpang lebih dari 4. Tapi taksinya kebanyakan tipe sedan waktu kami disana. Untuk taksi, beli tiketnya di stand White Taxi, yang letaknya sebelah kanan bangunan airport. Bayar disitu, tanpa argo dan tawar menawar. Jadi lebih aman bagi pendatang, tidak perlu takut tertipu.

Penginapan di Penang beraneka ragam. Dari yang kelas melati sampai berbintang, lengkap tersedia. Tapi karena kami mencari yang di tengah kota (sekitar Komtar), dipilih lah Tune Hotels. Lokasinya sekitar 15 menitan jalan kaki dari Komtar. Dibawah gedungnya ada Seven Eleven, jadi tidak usah takut kalau kelaparan tengah malam, ada banyak dijual camilan disitu dan bukanya 24 jam. Kenapa harus dekat Komtar? Karena lusanya kami harus naik bis pagi-pagi dari stasiun Komtar untuk ke Kuala Lumpur.

Kami belum pernah menginap di Tune Hotels sama sekali. Bayangan kami kamar hotelnya jelek seperti hotel-hotel kecil lainnya. Ternyata, walau kecil, kamarnya nyaman dan sesuai kebutuhan. Tanpa TV dan kulkas, desain kamarnya modern minimalist dengan tempat tidur ukuran queen dan kamar mandi berfasilitas shower dan kloset duduk. Kasurnya empuk dan seprainya pun putih bersih. Diluar ekspektasi lah pokoknya.

Kalau menginap 2 malam disini, disarankan mengambil paket full service utk malam pertama dan paket yang 12 jam untuk malam berikutnya. Kombinasi paket seperti itu sesuai kebutuhan untuk 2 malam. Tidak berlebihan. Tidak pakai AC pun tidak apa-apa. Ditengah kamar, diatas tempat tidur ada kipas angin besar. Kalau ingin berhemat dan tidak ada alergi debu, kamar tanpa AC sudah memadai untuk diinapi.

Tidak jauh dari hotel ada supermarket Giant, mal, dan food court. Di jalan Nagore dekat hotel juga banyak restoran, termasuk Cafe Si Tigun, yang sering direkomendasikan di milis JS. Tapi karena gagal menemukan tanda halal, terpaksa kami lewatkan.

Untuk makanan, di dekat hotel ada restoran Old Town White Coffee (OTWC) yang memajang tanda halal besar-besar di dinding luarnya. Tempatnya nyaman, ada yang outdoor juga indoor, dan di depannya ada air mancur yang keluar dari lantai. Lumayan untuk hiburan anak-anak selama menunggu pesanan disajikan.

Harga paket makanan di OTWC juga tidak mahal. Untuk paket seharga RM 10-16an sudah termasuk makanan utama (nasi ayam atau macam-macam mie malaysia), minuman (lemon tea, kopi atau teh manis)dan makanan penutup (es krim, cendol atau es kacang). Ada juga paket keluarga.

Untuk menjelajah kota Penang, disarankan memilih transportasi umum seperti bis, karena ongkos taksi cukup mahal. Naik bis, jauh-dekat hanya RM2 (za belum bayar). Sebaiknya membayar dengan uang pas bila naik bis, karena supir tidak menyediakan uang kembalian.

Stasiun bis di dekat Komtar, seperti juga stasiun bis pada umumnya, tidak terlalu bersih. Tapi dibandingkan dengan terminal Blok M atau Senen, stasiun ini lebih teratur dan canggih. Dari layar di dinding bisa dipantau apakah bis yang ingin dinaiki sudah jalan dari pemberhentian sebelumnya, sehingga bisa diketahui berapa menit lagi akan tiba di stasiun itu. Keren kan?

Naik bis disini tertib, tidak ada dorong-dorongan. Penumpang harus mengantri di jalur bis yang sesuai dengan nomor bis yang dituju (jalur/lorong 2 untuk bis ke Penang Hill/Bukit Bendera, dengan nomor bis 204). Kemudian masuk dari pintu depan bis (pintu belakang hanya untuk keluar), membeli tiket dari supirnya, lalu mencari tempat duduk bila ada (kalau tidak ada maka harus siap-siap berdiri).

Bis no 204 ini juga melewati Kek Lok Sie, kuil yang dibangun di atas bukit dan terdapat patung dewa Kwan Yin yang sangat besar. Tapi karena sudah siang dan tujuan kami adalah stopan terakhir, yaitu Bukit Bendera atau Penang Hill, jadi kami tidak mampir ke kuil tersebut.

Di Bukit Bendera, bisa naik cable car ke atas bukit, untuk melihat kota Penang dari ketinggian sambil menikmati udara sejuk. Selain itu juga tersedia restoran dan toko souvenir. Tiket untuk 2 dewasa dan 3 orang anak RM75. Antrian untuk membeli tiket maupun masuk ke kereta, cukup panjang saat liburan seperti ini. Di kereta, carilah gerbong paling depan agar anak-anak bisa melihat jalur yang dilalui dari kaca depannya. Seru dan menegangkan, terutama saat turun.

Selesai dari Bukit Bendera, perjalanan dilanjutkan ke Jetty dengan naik bis yang sama, nomor 204. Dari stasiun Jetty, berjalan kaki melewati Little India dan rumah makan Kapitan (spesialis makanan India seperti Nasi Briyani, Roti naan, dll.), ada sebuah mesjid bersejarah, namanya Masjid kapitan Kling (Kapitan Kling Mosque).

Persis di sisi kanan depan masjid, ada penjual nasi kandar terkenal, yaitu Nasi Kandar Beratur yang sudah berjualan sejak 1943. Walau hanya berupa warung tenda sederhana, warung yang buka sampai jam 10 malam ini, diantri pembelinya. Selesai shalat, bisa makan siang disini sambil berteduh dari terik matahari.

Dari masjid, kami berjalan kaki sekitar 1 km menuju Fort Cornwallis. Benteng bersejarah yang mengambil nama seorang Governor-General di Bengal pada akhir tahun 1700an, Charles Cornwallis, lokasinya dekat Esplanade dan disebelah Victoria Memorial Clock. Dindingnya setinggi sekitar 10 kaki dan di dalamnya masih dapat dilihat peninggalan lebih dari seratus tahun lalu berupa sebuah chapel, penjara dan ruang penyimpanan senjata.

Di sepanjang pantai dekat benteng ini banyak dijual rujak dan makanan minuman ringan lainnya. Walau judulnya pantai, tapi kita tidak bisa main pasir atau berenang di laut. Tapi untuk anak-anak tersedia 2 taman bermain.

Naik free shuttle dari seberang Fort Cornwallis dan turun di Jalan Penang, maksud hati ingin makan malam di Sup Lembu Hameed yang terkenal. Apa daya, hari itu restoran masih tutup karena lebaran. Akhirnya kami makan di rumah makan Jaya yang buka 24 jam. Lokasinya masih di Jalan Penang. Berbagai menu dari nasi kandar, roti canai sampai martabak tersedia disini. Tapi juaranya adalah mee goreng.

Sebenarnya di seberang Sup Lembu Hameed juga ada Red Garden Cafe (semacam food court) yang banyak direkomendasikan di internet. Tapi karena melihat tempatnya, lagi-lagi, sangat meragukan kehalalannya, kami lewati saja. Di Penang penduduk etnis cina-nya lebih dominan, bagi turis muslim sebaiknya lebih berhati-hati memilih tempat makan. Walau menunya tidak menggunakan daging babi, tapi etnis ini suka sekali memasak dengan lard (lemak/minyak babi).

Char Kwey Teow (di Indonesia biasa disebut kwetiau), kuliner Penang yang wajib dicoba pun, sangat sulit mencari yang benar-benar halal. Pemakaian lard dalam pengolahannya yang membuat aromanya otentik. Sehingga tanpa lard, bisa dipastikan rasa dan aromanya berbeda dengan yang "asli". Itu kata mereka yang sudah mencoba versi halal dan non-halal.

Daripada ragu dengan kehalalan char kwey teow yang ada, coba saja kuliner Penang lainnya seperti Prawn Noodles, Laksa Asam atau Nasi Kandar. Yang penting, pastikan penjualnya bersertifikasi halal atau hanya menggunakan bahan-bahan yang halal.

Restoran Nasi Kandar yang wajib dikunjungi diantaranya adalah Nasi Kandar Line Clear dan Nasi Kandar Yasmeen. Letak restorannya bersebelahan. Bila dari jembatan penyebrangan dekat Komtar, berjalan kaki menuju Jalan Penang, maka posisinya ada disisi kanan jalan. Di seberang kantor polisi.

Ternyata 3 hari 2 malam tidak cukup untuk menjelajah Penang dan mencicipi kulinernya. Walau banyak berjalan kaki dan naik bis, 3pzh tidak terlihat mengeluh capek atau bosan. Mereka bahkan menikmati saat-saat mencicipi makanan yang baru kali ini dengar namanya. Ternyata liburan sambil wisata kuliner dapat mengajarkan anak-anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru.























9 Hari 5 Kota



Liburan selama 9 hari menjelajahi 5 kota, bukan hal luar biasa. Tapi kalau itu dilakukan bersama 3 anak usia 4-12 tahun, banyak cerita seru di dalamnya :D

Anak-anak sudah mulai besar, liburan panjang kali ini harus beda dengan yang sebelumnya. Kami ingin mencoba liburan a la turis ransel (back packing tourist). Menjelajah dari satu kota ke kota lainnya, cukup dengan ransel di punggung. Tidak perlu repot geret-geret koper. Apalagi rencananya akan naik bis dan alat transportasi darat lainnya. Bawaan harus ringkas dan tidak terlalu berat.

Awalnya ragu, apa anak-anak nyaman di perjalanan nanti? Bagaimana dengan makanan mereka? Mereka bisa cukup istirahat gak? Gimana kalau sakit? Dengan mengucap bismillah, akhirnya kami tetap pergi. Kalau tidak pernah dicoba, kan tidak akan pernah tahu? ;)

Agar liburnya bisa agak lama, dipilih waktu libur lebaran. Hanya hubby yang perlu memperpanjang cuti karena kantor mulai masuk tanggal 12 Agustus, seminggu sebelum sekolah dimulai. Berangkat ke Penang di hari lebaran kedua (tanggal 9 Agustus 2013) dan pulang tanggal 17 Agustus 2013 dari Singapore.

Moda transportasinya dipilih pesawat, bis antar kota, kereta/MRT dan monorail. Taksi hanya alternatif, kalau keadaan tidak memungkinkan naik bis. Anak-anak suka sekali naik alat transportasi yang tidak biasa mereka gunakan, seperti MRT dan monorail. Apalagi kalau diperbolehkan memegang sendiri kartunya.

Pengalaman naik bis antar kota juga akan menjadi pengalaman baru bagi anak-anak. Sekalian mengajarkan mereka bagaimana bertoleransi dengan penumpang lain dalam perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu. Biasanya kan kalau di mobil sendiri mereka suka ribut dan jumpalitan. Di angkutan umum mereka harus belajar 'behave' :D

Sedangkan untuk akomodasi, seperti biasa, dipilih yang tidak terlalu mahal, ditengah kota, dan disekitarnya ada yang jual makanan halal. Akomodasi yang mahal, mubazir. Karena biasanya kami keluar hotel pagi setelah sarapan dan kembali malam, setelah makan malam. Cuma untuk numpang tidur dan mandi, untuk apa bayar mahal? Ditengah kota atau minimal dekat stasiun kereta, akan memudahkan bila ingin kemana-mana. Adanya penjual makanan halal dekat penginapan akan memudahkan bila tengah malam tiba-tiba kelaparan :))

Tas yang kami bawa terdiri dari 1 ransel besar untuk baju, 2 ransel kecil (untuk snacks dan pakaian ganti kalau keringatan) dan 2 tas selempang (untuk dompet, dokumen dan tisu). Masing-masing anak membawa botol air sendiri dan topi.

Baju di dalam ransel besar dibagi dalam 6 kantong plastik. Lima kantong baju masing-masing untuk 1 hari keperluan sekeluarga, dan 1 kantong khusus baju tidur dan peralatan shalat. Maksudnya, selain agar ringkas juga bila hujan baju tidak akan basah, walau bahan ransel lebih tipis dari koper.

Dari Jakarta - Penang dan Singapore - Jakarta naik AA. Sementara dari Penang-KL, KL-Malaka, Malaka-JB dan JB-Singapore naik bis. Di masing-masing kota tersebut, kami lebih banyak naik bis dan jalan kaki. Hanya 3-4 kali naik taksi. Sunscreen harus siap di tas agar terhindar dari sunburn.

Over all, walau melelahkan, pengalaman liburan kali ini lebih seru dan menyenangkan. Anak-anak puas sekali bermain dan mencoba hal baru. Liburan ini juga mengajarkan kami sekeluarga untuk lebih banyak bersabar, bertoleransi dan tepat waktu. Liburan berikutnya, kemana lagi yaaa?



P.S.:
Catatan perjalanan kami di tiap kota akan saya tulis di posting-an berikutnya. Ditunggu yaa ;)




Family Holiday: Malaysia

Family Holiday atau Liburan Keluarga, siapa yang tidak mau? Biasanya, acara liburan ini dilakukan dua kali setahun, saat liburan sekolah.
Itu, biasanya. Keluarga kami tidak biasa. Keluarga kami, liburan kapan ada kesempatan dan ada uangnya. Kalau sakit-sakit sedikit, tetap dipaksain jalan. Soalnya, ayahnya anak-anak susah sekali cuti. Biasanya, liburan sekolah, saya dan anak-anak berlibur ke kota kelahiran saya di Sumatra, tanpa didampingi ayahnya. Kalau pun ayahnya datang, biasanya satu atau dua hari menjelang kami pulang. Itu pun biasanya Sabtu sore dia datang, Minggu malam kami pulang.
Jadi, sewaktu hubby bilang akan mengajak kami ke Malaysia dalam perjalanan dinasnya, saya malah ragu-ragu. Masalahnya, pertama: walaupun hari Kamis tanggal 21 Mei itu adalah tanggal merah, tetapi hari Jumat si sulung tetap masuk sekolah. Kedua, ini kan baru bulan Mei! Uang dari mana? Gesek lagi? Wah.... saya kok kurang setuju liburan yang terlalu maksa begini. Kalau cuma dalam kota, paling cuma 1-2 juta yang di gesek.... kalau ke luar negri?
Ternyata, suami saya punya penyelesaiannya. Untuk masalah pertama, katanya dia akan menulis surat izin ke guru sekolah si abang. Sementara masalah keuangan, katanya ada solusinya. Uang perjalanan dinas yang diperolehnya dari kantor, bisa dipakai untuk membeli tiket pesawat dan membayar sewa hotel. Asal beli tiket murah dan cari hotel yang murah juga, insya Allah bisa cukup. Fiskal kan sudah gratis.
Sampai di sini, saya masih tetap ragu-ragu. Bukannya apa-apa. Bagi saya, kalau ada uang lebih, sebaiknya mendahului pelunasan hutang (dalam kasus kami, hutang kartu kredit). Tapi suami saya meyakinkan, belum tentu ada kesempatan seperti ini lagi. Memang sih, biasanya dia berangkat untuk perjalanan dinas, pergi Minggu sore, pulang Jumat malam. Kali ini kan beda. Kamis sampai Jumat kerja, Sabtu dan Minggu bisa dipakai untuk jalan-jalan, demikian alasannya.
Setelah browsing di internet, akhirnya dapatlah tiket lumayan murah dari Airasia dan hotel paling reasonable, yaitu Corus Hotel. Dipilihnya hotel itu, karena tidak mahal (alasan utama) dan terletak di tengah kota, sehingga dekat dengan tourist attractions. Jadi bisa menghemat biaya transportasi kan?
Tiket dipesan hampir sebulan sebelum berangkat. Begitu juga hotel. Padahal, saat itu saya dan anak-anak belum punya paspor (saya sih punya, tapi sudah expired!). Saya sampai tidak berani cerita ke siapa-siapa tentang rencana kami ini, karena takut gagal. Seminggu sebelum berangkat, barulah paspor ada di tangan.
Sebelum Berangkat
Begitu sudah 80% pasti akan jalan, saya pun mulai sibuk membuat lists of things to do dan things to bring. Ribet. Bayangkan, saya harus menyiapakan barang yang harus dibawa untuk 4 orang (suami membuat daftarnya sendiri)! Seminggu sebelum berangkat, maraton mencuci dan menyetrika pun dimulai. Saya bilang maraton, karena kami tidak mempunyai pembantu, apalagi tukang cuci. Normalnya, saya mencuci tiga kali seminggu diselingi menyetrika yang juga tiga kali seminggu. Karena mau liburan 4 hari, berarti saya harus menyelesaikan cucian dan setrikaan minggu ini, sebelum kami berangkat. Dalam 1 hari, yang biasanya saya mencuci saja atau menyetrika saja, sekarang harus hari ini mencuci dan kemudian menyetrika baju yang kemarin sudah dicuci. Begitu terus selama seminggu. Harapannya, pulang liburan nanti, tidak banyak cucian dan setrikaan yang harus dikerjakan lagi.
Sampai malam sebelum keberangkatan, saya belum selesai packing! Waaaks! Mulai panik! Kepanikan bertambah dengan tertinggalnya tas kantor suami yang isinya itinerary dan print out tiket pesawat! Akhirnya jam 2 malam, urusan packing selesai juga. Itinerary dan tiket, di print ulang di rumah. Tidur sebentar, tahu-tahu sudah jam 3.30 sedangkan jam 4-an kami harus sudah meninggalkan rumah karena pesawat dijadwalkan jam 6.15.
Hari Pertama
Saya lalu membangunkan suami, cepat-cepat mandi, membangunkan anak-anak dan mengganti pakaian mereka. Lalu turun ke bawah bikin susu, loading barang-barang ke mobil, dan akhirnya.... periksa pintu, jendela dan stop kontak listrik sebelum meninggalkan rumah.
Setelah sampai di pesawat baru terasa mata berat.... sekali. Namanya juga cuma sempat tidur kurang dari 2 jam. Bagaimana tidak mengantuk? Tapi berhubung anak-anak baru mulai 'on', jadi ya dengan mata sepat terpaksalah saya meladeni keceriwisan mereka. Oiya, mereka tidak saya dan suami beri tahu bahwa kami akan liburan ke Malaysia. Sampai check in, mereka tahunya akan mengantar ayahnya ke bandara. Si abang mulai curiga waktu kami masuk ke bagian yang ada pemeriksaan koper dengan bea&cukai. Rencana ini memang sengaja kami sembunyikan dari anak-anak, karena kami takut mengecewakan mereka kalau ternyata batal berangkat.
Di pesawat, si abang sibuk membaca leaflet tentang keamanan penerbangan, si kakak sibuk menggambar, sementara si adik asyik tidur. Alhamdulillah, anak-anak kami buka tipe yang rewel dan penakut saat naik pesawat. Bahkan mereka terlihat sangat menikmatinya. Si adik yang baru pertama kali naik pesawat pun sama sekali tidak rewel sepanjang perjalanan.
Sampai di Malaysia sekitar jam 9-an. Setelah clearance, kami naik taksi ke hotel. Karena belum bisa masuk kamar, terpaksa koper kami titipkan di concierge. Sementara itu kami langsung jalan kami ke Suria KLCC. Tujuannya ke Petrosains dan makan siang. Ternyata cukup dekat dari hotel. Kalau jalan santai, tidak sampai 30 menit sudah sampai. Sekitar 300 meter dari hotel.
Mengunjungi Petrosains, saya jadi menyayangkan mengapa Indonesia tidak bisa membuat tempat semacam itu. Petrosains bisa dibilang seperti Kidzania. Tetapi kalau Kidzania memberikan kesempatan kepada pengunjungnya untuk merasakan bekerja dalam berbagai profesi, Petronas memberikan kesempatan untuk melakukan simulasi dan percobaan sains (ilmu pengetahuan alam) yang berhubungan dengan petroleum atau minyak. Kita juga bisa mengetahui bagaimana rasanya berada di oil rig atau tempat pengeboran minyak. Anak saya yang sulung kebetulan sangat menyukai sains. Di tempat ini, dua jam belum cukup buatnya bereksplorasi.
Belum puas di Petrosains (kami tidak sempat mencoba Dino Trek), kami harus segera mencari tempat makan siang. Sudah jam 1-an. Harus buru-buru, karena suami masih harus mengejar pesawat yang ke Labuan sore itu. Selesai makan siang dan sekalian membeli makanan buat malamnya (rasanya saya tidak akan kuat keluar hotel lagi mencari makan malam kalau suami tidak ada), kami langsung ke hotel untuk check in.
Hari Kedua
Keesokan harinya, semua bangun kesiangan. Kami sarapan di hotel karena sudah termasuk harga kamar. Setelah sarapan dan mandi, saya dan anak-anak jalan kaki kembali ke Suria KLCC mall. Tujuan hari ini adalah Aquaria dan Suria KLCC Park. Tanpa suami yang mendampingi, saya tidak berani membawa baby trolley. Susah membawanya melewati tangga jalan. Jadi si bungsu harus saya gendong sepanjang perjalanan hari itu.
Tadinya saya malas ke Aquaria, karena beranggapan bahwa tempatnya akan sama saja dengan Sea World. Tapi si abang memaksa. Dia memang hobi sekali mengamati hal-hal semacam ini. Demi anak, akhirnya saya turuti juga. Ternyata, saya tidak menyesal sama sekali! Tempatnya jauh lebih bagus dari Sea World! Terdiri dari 2 lantai, koleksi hewan lautnya banyak dan bervariasi. Disini ada satu kejadian yang cukup memalukan sekaligus mengesalkan. Sewaktu di bagian Education, saya dengan semangat menunjuk ke arah tulisan tentang sea horse (kuda laut) jantan yang hamil. Lihat, bang! Ternyata kuda laut itu yang hamil justru yang jantan! kata saya dengan takjub. Mau tahu apa jawaban si abang? Lho, bunda baru tahu? Abang sudah lama tahu, bun. Makanya baca ensiklopedia, dong.... Gubrak!!!
Dari Aquaria, kami makan siang di food court. Sudah jam 2 lebih, tapi mungkin karena tadi sarapan juga terlambat, anak-anak belum begitu lapar. Sambil makan, saya menyuapi si kakak dan menyusui si adik. Untung si abang sudah bisa makan sendiri. kalau tidak, pusiiiiiiingg!!
Selesai makan, kami keluar gedung mencari taman yang terletak di bagian belakang Suria KLCC mall tadi. Ternyata tamannya luas sekali. Dari melihat peta yang ada di taman, kami tahu ada children playground di situ. Setelah sedikit tersasar (ada perbaikan, jadi beberapa area ditutup, sehingga harus jalan sedikit memutar), akhirnya ketemu juga yang dicari. Ternyata yang namanya children playground itu adalah sejumlah permainan little tikes (ayunan, perosotan, dll) dalam satu area yang luas. Wah.... anak-anak saya langsung kegirangan. Mereka main tanpa mempedulikan panas matahari yang menyengat. Sekitar satu jam disitu, terpaksa saya ajak mereka pulang. Takut sakit. Di antara rengekan si kakak yang belum mau pulang, kami pun masuk kembali ke dalam mal untuk memotong jalan menuju ke hotel.
Sampai di hotel, setelah anak-anak mandi dan minum susu, kami semua pun tertidur kelelahan. Sehabis maghrib, saya siap-siap lagi untuk membeli makan malam. Si abang tidak mau ikut karena merasa kurang enak badan. Pusing, katanya. Akhirnya saya kembali ke mal tadi bersama kakak dan adik. Setelah membeli makan malam dan air mineral di supermarket di dalam mal, kami pun pulang. Kali ini, pulang pergi kami melewati jembatan penyeberangan. Kebayangkan rasanya menggendong bayi, membawa belanjaan sambil menuntun anak kecil? Wuiiiiihhh...... mantaff!!
Si abang ternyata panas suhu badannya. Dia tadinya tidak mau makan, tapi saya paksa. Takutnya tambah parah sakitnya. Beberapa kali muntah, akhirnya saya buatkan minuman sereal agar ada serat yang bisa membuat kenyang. Setelah minum obat demam dan dibaluri minyak kayu putih, dia pun akhirnya tidur. Ayahnya datang saat hampir larut malam. Akhirnya.... bala bantuan datang juga!
Hari Ketiga
Selesai sarapan di hotel, rencananya kami akan istirahat saja di kamar. Si abang masih hangat badannya. Tapi ternyata ada yang protes kalau seharian di kamar terus. Siapa lagi kalau bukan si kakak? Akhirnya, ayahnya menemaninya berenang di kolam renang hotel. Kebetulan kamar kami menghadap ke kolam. Jadi si abang bisa melihat adiknya berenang dari kamar. Maksudnya sih, supaya dia tidak terlalu marah karena tidak dibolehkan berenang.... ternyata malah ngambek! Dasar anak-anak....
Untuk makan siang, hanya suami yang keluar cari makanan di restoran Nasi Kandar di seberang hotel. Nasi kandar itu semacam nasi padang di Indonesia. Hanya saja rasa rempahnya lebih berasa dan bau karinya lebih menyengat. Porsinya pun sama dengan nasi padang. Buanyakk!!!
Malamnya, karena si abang mulai merasa sehat, kami putuskan untuk jalan-jalan ke Bukit Bintang, memanfaatkan free shuttle dari hotel. Ternyata dalam perjalanan, hujan lebat. Kami terpaksa diturunkan di depan Ritz Carlton Hotel. Dari situ, kami naik taksi ke Sungai Wang Mall. Terpaksa naik taksi, karena hujan masih sangat deras. Padahal kalau jalan kaki dari Ritz Carlton tadi cuma 10 menit!
Di Sungai Wang Mall, tujuannya adalah mencari gerai sepatu Vincci yang ngetop itu. Setelah bertanya ke orang-orang akhirnya ketemu, letaknya satu lantai di atas Mc Donalds. Sibuk milih-milih buat oleh-oleh, akhirnya saya memborong 5 pasang sendal..... dan tidak satupun untuk saya! Huaaaaa...... Kenapa ini selalu terjadi sama saya ya? Setiap kali belanja, pasti untuk diri sendiri tidak sempat terbeli! Sudah terlalu malam untuk mencari-cari lagi. Anak-anak belum makan malam. Akhirnya kami makan di Mc D saja, supaya cepat.
Selesai makan, ayahnya anak-anak mau mengajak kami mencoba naik MRT. Akhirnya, kami pun naik MRT ke hotel. Dua kali ganti kereta ditambah jalan kaki beberapa kilometer, akhirnya sampai juga di hotel. Kaki rasanya sudah sebesar kaki Yeti karena capeknya jalan jauh.... Tapi minimal hati sudah tenang, oleh-oleh (sebagian) sudah ditangan.....
Hari Keempat
Hari terakhir. Mulai packing lagi. Pagi-pagi sekali, ayahnya anak-anak sudah ke Petronas untuk antri tiket masuk Skybridge. Tiketnya sih, gratis. Tapi terbatas, jadi harus mengantri dari jam 7.30. Selesai semuanya mandi, kami sarapan di hotel. Ayahnya menyusul. Ternyata dapat tiket yang untuk jam 10.30. Kami putuskan untuk langsung check out dari hotel. Jadi selesai sarapan, kami check out dan menitipkan koper di concierge, lalu langsung berlari-lari ke Twin Towers.
Sampai di sana, ternyata kami sudah terlambat setengah jam. Untung masih dibolehkan masuk. Mungkin mereka kasihan melihat kami yang membawa bayi.... Seperti biasa, yang paling tertarik berada di tempat ini adalah si abang. Berulang kali dia minta difoto sambil memegang brosurnya :) Kekagumannya bertambah saat melihat ada alat yang bisa mengukur tinggi badan secara digital..... Sampai berulang kali dia mencobanya :)
Keluar dari situ, gift shop adalah tujuan berikutnya. Harus mencari oleh-oleh buat teman-teman dan guru kelas si abang, begitu permintaannya. Dari sana, kami langsung ke Suria KLCC mall untuk makan siang dan jalan-jalan menghabiskan waktu sambil menunggu waktu ke bandara jam 5 sorenya.
Jam 4 kurang kami sudah sampai di hotel lagi. Anak-anak berganti baju dan ke kamar kecil dulu sebelum berangkat ke bandara. Taksi yang sudah dipesan lewat concierge menjemput tepat jam 5. Selama satu jam perjalanan menuju bandara, kami semua tertidur di mobil.
Di Bandara sempat makan dan beli oleh-oleh (lagi)..... kali ini coklat buat para keponakan dan kaos buat abang ipar.... tidak lama kemudian, pesawat boarding. Seperti juga perjalanan sewaktu berangkat, kali ini pun anak-anak tidak rewel. Tapi kali ini si adik bangun, jadi sedikit lebih repot. Waktu makan harus gantian memegangnya kalau tidak mau ada yang tumpah. Sementara itu si kakak sibuk ngobrol dengan penumpang yang duduk di belakangnya. Jangan dikira dengan anak seumurannya loh.... Tapi dengan orang dewasa! Sempat terdengar dia menanyakan, om punya pet coiti gak? aku punya... pet ku namanya hula..... Anak zaman sekarang..... obrolannya facebook!!
Sampai di rumah, sudah hampir tengah malam. Anak-anak sudah tertidur di mobil. Tapi tetap semua digantikan bajunya sebelum dinaikkan ke tempat tidur. Bahkan si abang sempat menjamak shalat isya sebelum tidur.
Akhirnya..... home sweet home! Senang rasanya liburan keluarga kali ini sukses. Walaupun harus jadi nanny on duty selama liburan, si abang sempat sakit dan liburan ini merupakan low-cost vacation.... tapi alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan liburan bersama. Terima kasih ya, Rabb.... untuk segala nikmat yang Kau berikan.... :)