Showing posts with label anak-anak. Show all posts
Showing posts with label anak-anak. Show all posts

Pulang Ke Kotamu (5)





Taman Pintar

Selesai makan, kami berjalan kaki sampai ke ujung Jalan Widjilan lalu lanjut naik becak ke Taman Pintar. Hasil browsing menunjukkan tempat ini semacam tempat bermain anak dengan berbagai simulasi dan permainan yang murmer alias murah meriah. Dengan HTM 15rb utk dewasa dan 8rb utk anak diatas 2tahun, Taman Pintar merupakan tempat yang wajib dikunjungi kalau ke Jogja membawa anak. Disitu anak-anak bisa betah seharian bermain.

Dinding Berdendang
Taman Pintar terdiri dari beberapa zona, yaitu: playground, gedung heritage, gedung oval dan gedung kotak. Playground merupakan zona/arena terbuka yang gratis bagi pengunjung. Disini disediakan sejumlah wahana bermain untuk anak-anak seperti Pipa Bercerita, Parabola Berbisik, Dinding Berdendang, Rumah Pohon, Air Menari dan lain-lain. 

Ruang tunggu PAUD
Gedung Heritage diperuntukkan bagi pendidikan anak berusia dini (PAUD), yang terdiri dari anak-anak usia pra-sekolah hingga TK. Pengunjung harus membayar tiket lagi untuk masuk kesini. Dengan tiket dibawah 10rb/anak, mereka bisa puas bermain puzzle, mewarnai, membaca buku dan menonton video pendidikan. Orangtua/pengasuh dilarang masuk ke dalam, jadi pastikan anak anda mau masuk sendiri sebelum membeli tiketnya. Ada cctv dalam ruangan bermain anak yang tv monitornya dipasang di ruang tunggu, sehingga orangtua bisa memantau dari luar.

Patung dinosaurus
Gedung Oval adalah zona yang terdiri dari zona pengenalan lingkungan dan eksibisi ilmu pengetahuan, zona pemaparan, sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada patung dinosaurus, replika mobil innova, miniatur candi Borobudur dan masih banyak lagi.

Sedangkan Gedung Kotak terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama adalah zona sarana pelengkap Taman Pintar yang mencakup ruang pameran, ruang audiovisual, radio anak Jogja, food court, dan souvenier counter. Lantai kedua merupakan zona materi dasar dan penerapan iptek terdiri dari Indonesiaku, jembatan sains, teknologi populer, teknologi canggih, dan perpustakaan. Sedangkan lantai ketiga terdiri dari laboratorium sains, animasi dan tv, dan courses class. Disini pengunjung dapat menonton film 4D dengan membeli tiket tambahan sebelumnya. Sama seperti sinema 4D yang ada di Ancol, penonton bisa basah disemprot air disini :)

Alat simulasi gempa
Selain yang sudah disebutkan diatas, fasilitas lainnya yang tersedia di Taman Pintar adalah alat peraga iptek interaktif (ada alat simulasi gempa), ruang pameran dan audiovisual, Food court, Mushola, Toko souvenir dan Pusat Informasi.

Menurut saya, Taman Pintar ini sedikit banyak mirip Science Center di Singapur atau Petrosains di Kuala Lumpur. Sungguh bangga Indonesia punya tempat seperti ini, walau lokasinya bukan di Jakarta. Dibandingkan tempat permainan edukatif lain yang ada di ibukota, yang sudahlah tiketnya mahal, dibangunnya di mal bergensi lagi, sehingga tidak terjangkau bagi kalangan ekonomi lemah.

Dari Taman Pintar, kami melanjutkan perjalanan ke Benteng Vrederburg. Letaknya sebelum pasar Beringhardjo. Disini kami cuma numpang foto-foto di gerbangnya, karena 3pzh mulai kelelahan. Dari situ kami kemudian ke Toko Mirota untuk belanja oleh-oleh batik. Inginnya sih belanja batik ke pasar, tapi karena tidak piawai menawar, mendingan ke toko yang ada harga pasnya. Tidak pakai ribet, bisa pakai kartu (debit/kredit) dan adem lagi ;)

Toko Batik Mirota ini menjual berbagai jenis barang yang bisa dijadikan buah tangan. Mulai dari jamu sampai baju, mulai dari kipas sampai tas, sagala aya (segala ada) pokoknya. Harganya juga tidak mahal. Ikat pinggang yang sama persis saya lihat di Thamrin City seharga 50rb (sudah ditawar), disitu hanya 33ribu. Beli bahan batik untuk seragam lebaran, 10 meter cuma 180ribu. Waduh, untung ga kalap belanjanya :D

Tiga hari berlibur ke Jogja, rasanya kurang lama. Masih banyak lagi tempat yang belum sempat kami kunjungi. Museum Ullen Sentalu, Pantai Parangtritis, Istana Ratu Boko, Rumah Mbah Maridjan, Jejamuran, House of Raminten serta SGPC (SeGo PeCel alias nasi pecel). Jogja, someday we'll be back!


"...Pulang ke kotamu, 
ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi 
saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja..."

Alamat-alamat:
*Taman Pintar
Jalan Panembahan Senopati No. 1-3
Yogyakarta 55122
Telpon 62 274 583 631-583 713
Koordinat GPS: S7°48'4.6" E110°22'2.3" 

Jadwal Buka
Selasa - Jumat pk 09.00 -16.00 WIB
Sabtu - Minggu pk 08.30 - 20.00 WIB
Senin tutup (kecuali hari libur nasional dan musim liburan sekolah)

Harga Tiket
Playground: gratis
Gedung PAUD: Rp 2000 / anak (2-7 tahun)
Gedung Oval & Kotak: Rp. 8.000 / anak, Rp. 15.000 / dewasa
Gedung Memorabilia: Rp. 3.000 / anak, Rp. 5.000 / dewasa
Teater 3D: Rp. 15.000 / orang 

*Mirota Batik
Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 9 Malioboro Selatan
Yogyakarta



[Sharing] Potty Training



Potty Training atau melatih anak untuk BAK dan BAB di kloset, sebenarnya bisa dimulai di usia lebih muda dari Za sekarang kalau saja dia mau diam di tempat bila BAK/BAB. Ketakutan akan kemungkinan Za terjatuh karena licin dan najisnya bisa kemana-mana, yang membuat saya menunda-nunda terus program ini.

Mungkin bagi yang punya asisten atau sedikit cuek tentang najis, tidak akan terlalu susah untuk melaksanakan potty training ini. Kasur kena ompol cukup dijemur. Lantai kena pipis, cukup dipel 1-2x. Sementara saya, ribet banget membersihkannya. Takut wudhu dan shalat menjadi tidak sah, apalagi disekitar rumah sulit menemukan tanah bersih untuk membersihkan najis, saya jadi cenderung berlebihan membersihkan bekas ompol. Gak apa-apa repot, asal hati tenang, kan? ;)

Biasanya, saya membersihkannya dengan cara mengelap tempat yang terkena najis sampai 7x. Di lap 2x untuk mengangkat najisnya, 2x untuk mengelapkan dengan lap yang diberi sabun+air, dan terakhir 3x untuk mengangkat sabunnya sampai bersih. Lebay ya? X_X

Program potty training ini dimulai dari mengajak Za diskusi tentang keinginannya untuk masuk sekolah. Kami menjanjikan, Za boleh sekolah kalau sudah tidak minum susu dari botol dan sudah tidak pakai diaper. Botol sudah berhasil. Tinggal diaper nih, saya masih maju mundur. Soalnya, peraturan apapun yg diterapkan ke anak, baru akan efektif bila kita konsekuen menjalankannya. Jadi begitu program ini dimulai, gak bisa tuh berhenti 1-2 hari trus dilanjutin lagi. Nanti anaknya jadi bingung. Sementara saya takut repot harus mengawasi Za sepanjang hari.

Akhirnya, karena bulan depan Za sudah berulang tahun ke 3, saya memutuskan untuk segera memulai program potty training ini. Wooossaaaaahh!!

Hari pertama, Za lepas diaper sejak mandi pagi. Setiap 10-15 menit saya tanya, adik mau pipis? Mau pup? Jawabannya selalu tidak. Hasilnya? 3x BAK dan 1x BAB di celana X_X huhuhu. Jam 2 sore, saya menyerah. Pekerjaan saya keteteran karena saya berkali-kali mengepel. Cucian dan setrikaan sudah semakin menumpuk. Akhirnya Za dipakaikan diaper dengan janji besok akan dicoba lagi. Malamnya saya curhat ke hubby dan disarankan untuk mencoba program ini saat weekends, jadi dia bisa membantu mengawasi Za.

Hari kedua, entah kenapa, saya ingin mencoba lagi. Padahal, wiken masih 2 hari lagi. Kali ini, caranya sedikit saya ubah. Kalau kemarin saya hanya mengingatkan Za untuk memanggil saya bila mau ke toilet, hari ini berbeda. Setiap 10-15 menit, walau Za bilang tidak mau, saya dudukkan Za di kloset sambil berulang-ulang mengatakan, "hayo, adik kan sudah besar, sudah mau sekolah, berarti sudah bisa pipis di kloset. Bila 5 menit tetap tidak ada yang keluar, saya pakaikan lagi celananya. Begitu terus sampai akhirnya Za bisa BAK di kloset. Saat Za berhasil melakukannya, saya tepuk tangan, memuji dan memeluknya.

Siangnya, Za sudah bisa bilang bila mau BAK. Sorenya, Za bahkan berhasil BAB di kloset, walaupun dia masih sering tertukar antara BAK dan BAB. Seharian itu, program berhasil 80%. Belum 100% karena saat tidur siang dan malam, diaper tetap saya pakaikan supaya tidak mengompol. Itupun diapernya harus dipakaikan setelah Za tidur, karena merasa sudah besar dia menolak memakainya lagi. Tapi setelah Za bangun, segera saya buka diapernya dan mendudukkannya di kloset.

Hari ketiga, karena harus pergi ke suatu acara, Za terpaksa dipakaikan diaper lagi. Awalnya Za menolak karena merasa sudah besar :D Tapi akhirnya mau setelah diberi pengertian, di tempat yang akan didatangi jalanannya macet, mungkin akan susah mencari toilet.

Ternyata, pergi dari jam 4 sore dan sampai di rumah jam 10 malam, diapernya sama sekali tidak basah. Za rela menahan BAK karena dikiranya melakukannya di diaper sama artinya dengan mengompol. Sepertinya keinginan Za untuk sekolah sangat besar, sehingga dia benar-benar ingin menepati janjinya untuk tidak ngompol lagi.

Alhamdulillah, proses potty training ini hanya memakan waktu 4 hari. Hari pertama gagal total, hari ke 2 dan 3 penyesuaian, dan hari ke 4 dan seterusnya sudah lancar jaya *dancing*

Buat yang belum berhasil potty training-nya, tetap semangat ya. Coba diganti caranya. Berikan rewards agar anak merasa dihargai usahanya. Pasti selalu ada cara untuk melatih si kecil meninggalkan kebiasaan "bayi"-nya. Anak yang pintar, hasil didikan orangtua yang pintar kan? ;)


#BERBAGI di RS Dharmais


Keterangan foto:
1. Sebagian dari relawan #BERBAGI yang ikut pada kegiatan tanggal 14 Agustus 2011 di RS Dharmais
2. Noval sedang memamerkan kepiawaiannya bermain sulap kepada mbak Ina
3. Alika, gadis kecil pemberani yang suka menyanyi
4. Putri, Dimas dan Ajeng sedang menikmati hidangan berbuka puasa
5. Vita, Acho dan Bagas sedang mewarnai tokoh kartun favorit mereka
6. Alika yang senang musik sedang mencoba memainkan keyboard
7. Hasil karya pasien dari Bangsal Anak

----------------------------


Minggu sore 14 Agustus 2011. Sudah hampir 15 menit saya duduk dalam mobil, di parkiran RS Dharmais. Masih 30 menit lagi dari waktu yang ditentukan untuk berkumpul. Tapi bukan itu yang menahan kaki saya untuk turun dan masuk ke rumah sakit beraura suram itu.

Terus terang, saya takut tidak dapat menahan air mata di dalam sana. Melihat anak-anak berkepala plontos itu dengan infus di tangan dan masker di mulut, sungguh menyesakkan dada. Ya, sore itu saya berencana untuk mengikuti kegiatan #BERBAGI di Bangsal Anak RS Dharmais. Berbuka puasa dan berbagi kasih dengan anak-anak penderita kanker yang di rawat di situ.

Mengunjungi penderita kanker, terutama yang masih anak-anak, perlu nyali yang kuat. Mereka masih seumuran 3pzh, tetapi sudah menanggung beban sedemikian berat. Membayangkan rasa sakit yang harus dirasakannya, rasa mual dan lemas setelah kemoterapi, harapan orangtuanya atas kesembuhan anaknya, perjuangan mereka mengalahkan penyakit ini.... tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semoga Allah selalu memberikan mereka dan keluarganya kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Seperti juga anak-anak normal lainnya, anak-anak penderita kanker juga memiliki hobi dan cita-cita. Kemarin saya berkenalan dengan Noval yang hobi bermain sulap, Alika (4) yang suka menyanyi dan Bagas (6) yang pintar mewarnai. Walau harus membawa tiang infus kemana-mana, mereka tetap ceria. Bahkan Dimas (11), Putri (11) dan Ajeng (10) puasanya penuh dari Ramadhan hari pertama. Semangat mereka sangat luar biasa!

Pertemuan yang hanya beberapa jam itu mengajarkan kepada saya tentang arti kesabaran, kepasrahan dan bersyukur. Tiga pelajaran tersulit dari sekolah kehidupan. Saya merasa malu karena selama ini terlalu gampang mengeluh. Dibandingkan penderitaan mereka, apalah artinya ketidaknyamanan yang saya rasakan?

Jangan menunggu terjadi pada kita atau orang terdekat kita dulu, baru mau perduli dengan penderitaan mereka. Ada banyak cara untuk membantu meringankan beban mereka. Anda bisa membantu mereka dengan menjadi dondar siaga, relawan, atau donatur.

Menjadi dondar siaga berarti anda harus memenuhi beberapa persyaratan khusus, lulus screening dan harus siap bila sewaktu-waktu dipanggil untuk donor. Bila ingin menjadi relawan, anda dapat berbagi kasih dengan bermain, membacakan cerita dan berinteraksi dengan anak-anak penderita kanker tersebut. Selain itu juga bisa membantu dalam bentuk materi. Sumbangan anda akan digunakan untuk membeli kebutuhan rutin mereka, seperti susu dan popok.

Ingin mengetahui lebih jauh tentang gerakan #BERBAGI? Cekidot link dibawah ini ya:


Twitter : @inagibol dan @berbagisharing



Untuk BERBAGI donasi 
*Bank Mandiri 101-00-0651364-0
a/n Amalia Medina
*BCA 2371528450
a/n Eric Gunawan




Family Holiday: Malaysia

Family Holiday atau Liburan Keluarga, siapa yang tidak mau? Biasanya, acara liburan ini dilakukan dua kali setahun, saat liburan sekolah.
Itu, biasanya. Keluarga kami tidak biasa. Keluarga kami, liburan kapan ada kesempatan dan ada uangnya. Kalau sakit-sakit sedikit, tetap dipaksain jalan. Soalnya, ayahnya anak-anak susah sekali cuti. Biasanya, liburan sekolah, saya dan anak-anak berlibur ke kota kelahiran saya di Sumatra, tanpa didampingi ayahnya. Kalau pun ayahnya datang, biasanya satu atau dua hari menjelang kami pulang. Itu pun biasanya Sabtu sore dia datang, Minggu malam kami pulang.
Jadi, sewaktu hubby bilang akan mengajak kami ke Malaysia dalam perjalanan dinasnya, saya malah ragu-ragu. Masalahnya, pertama: walaupun hari Kamis tanggal 21 Mei itu adalah tanggal merah, tetapi hari Jumat si sulung tetap masuk sekolah. Kedua, ini kan baru bulan Mei! Uang dari mana? Gesek lagi? Wah.... saya kok kurang setuju liburan yang terlalu maksa begini. Kalau cuma dalam kota, paling cuma 1-2 juta yang di gesek.... kalau ke luar negri?
Ternyata, suami saya punya penyelesaiannya. Untuk masalah pertama, katanya dia akan menulis surat izin ke guru sekolah si abang. Sementara masalah keuangan, katanya ada solusinya. Uang perjalanan dinas yang diperolehnya dari kantor, bisa dipakai untuk membeli tiket pesawat dan membayar sewa hotel. Asal beli tiket murah dan cari hotel yang murah juga, insya Allah bisa cukup. Fiskal kan sudah gratis.
Sampai di sini, saya masih tetap ragu-ragu. Bukannya apa-apa. Bagi saya, kalau ada uang lebih, sebaiknya mendahului pelunasan hutang (dalam kasus kami, hutang kartu kredit). Tapi suami saya meyakinkan, belum tentu ada kesempatan seperti ini lagi. Memang sih, biasanya dia berangkat untuk perjalanan dinas, pergi Minggu sore, pulang Jumat malam. Kali ini kan beda. Kamis sampai Jumat kerja, Sabtu dan Minggu bisa dipakai untuk jalan-jalan, demikian alasannya.
Setelah browsing di internet, akhirnya dapatlah tiket lumayan murah dari Airasia dan hotel paling reasonable, yaitu Corus Hotel. Dipilihnya hotel itu, karena tidak mahal (alasan utama) dan terletak di tengah kota, sehingga dekat dengan tourist attractions. Jadi bisa menghemat biaya transportasi kan?
Tiket dipesan hampir sebulan sebelum berangkat. Begitu juga hotel. Padahal, saat itu saya dan anak-anak belum punya paspor (saya sih punya, tapi sudah expired!). Saya sampai tidak berani cerita ke siapa-siapa tentang rencana kami ini, karena takut gagal. Seminggu sebelum berangkat, barulah paspor ada di tangan.
Sebelum Berangkat
Begitu sudah 80% pasti akan jalan, saya pun mulai sibuk membuat lists of things to do dan things to bring. Ribet. Bayangkan, saya harus menyiapakan barang yang harus dibawa untuk 4 orang (suami membuat daftarnya sendiri)! Seminggu sebelum berangkat, maraton mencuci dan menyetrika pun dimulai. Saya bilang maraton, karena kami tidak mempunyai pembantu, apalagi tukang cuci. Normalnya, saya mencuci tiga kali seminggu diselingi menyetrika yang juga tiga kali seminggu. Karena mau liburan 4 hari, berarti saya harus menyelesaikan cucian dan setrikaan minggu ini, sebelum kami berangkat. Dalam 1 hari, yang biasanya saya mencuci saja atau menyetrika saja, sekarang harus hari ini mencuci dan kemudian menyetrika baju yang kemarin sudah dicuci. Begitu terus selama seminggu. Harapannya, pulang liburan nanti, tidak banyak cucian dan setrikaan yang harus dikerjakan lagi.
Sampai malam sebelum keberangkatan, saya belum selesai packing! Waaaks! Mulai panik! Kepanikan bertambah dengan tertinggalnya tas kantor suami yang isinya itinerary dan print out tiket pesawat! Akhirnya jam 2 malam, urusan packing selesai juga. Itinerary dan tiket, di print ulang di rumah. Tidur sebentar, tahu-tahu sudah jam 3.30 sedangkan jam 4-an kami harus sudah meninggalkan rumah karena pesawat dijadwalkan jam 6.15.
Hari Pertama
Saya lalu membangunkan suami, cepat-cepat mandi, membangunkan anak-anak dan mengganti pakaian mereka. Lalu turun ke bawah bikin susu, loading barang-barang ke mobil, dan akhirnya.... periksa pintu, jendela dan stop kontak listrik sebelum meninggalkan rumah.
Setelah sampai di pesawat baru terasa mata berat.... sekali. Namanya juga cuma sempat tidur kurang dari 2 jam. Bagaimana tidak mengantuk? Tapi berhubung anak-anak baru mulai 'on', jadi ya dengan mata sepat terpaksalah saya meladeni keceriwisan mereka. Oiya, mereka tidak saya dan suami beri tahu bahwa kami akan liburan ke Malaysia. Sampai check in, mereka tahunya akan mengantar ayahnya ke bandara. Si abang mulai curiga waktu kami masuk ke bagian yang ada pemeriksaan koper dengan bea&cukai. Rencana ini memang sengaja kami sembunyikan dari anak-anak, karena kami takut mengecewakan mereka kalau ternyata batal berangkat.
Di pesawat, si abang sibuk membaca leaflet tentang keamanan penerbangan, si kakak sibuk menggambar, sementara si adik asyik tidur. Alhamdulillah, anak-anak kami buka tipe yang rewel dan penakut saat naik pesawat. Bahkan mereka terlihat sangat menikmatinya. Si adik yang baru pertama kali naik pesawat pun sama sekali tidak rewel sepanjang perjalanan.
Sampai di Malaysia sekitar jam 9-an. Setelah clearance, kami naik taksi ke hotel. Karena belum bisa masuk kamar, terpaksa koper kami titipkan di concierge. Sementara itu kami langsung jalan kami ke Suria KLCC. Tujuannya ke Petrosains dan makan siang. Ternyata cukup dekat dari hotel. Kalau jalan santai, tidak sampai 30 menit sudah sampai. Sekitar 300 meter dari hotel.
Mengunjungi Petrosains, saya jadi menyayangkan mengapa Indonesia tidak bisa membuat tempat semacam itu. Petrosains bisa dibilang seperti Kidzania. Tetapi kalau Kidzania memberikan kesempatan kepada pengunjungnya untuk merasakan bekerja dalam berbagai profesi, Petronas memberikan kesempatan untuk melakukan simulasi dan percobaan sains (ilmu pengetahuan alam) yang berhubungan dengan petroleum atau minyak. Kita juga bisa mengetahui bagaimana rasanya berada di oil rig atau tempat pengeboran minyak. Anak saya yang sulung kebetulan sangat menyukai sains. Di tempat ini, dua jam belum cukup buatnya bereksplorasi.
Belum puas di Petrosains (kami tidak sempat mencoba Dino Trek), kami harus segera mencari tempat makan siang. Sudah jam 1-an. Harus buru-buru, karena suami masih harus mengejar pesawat yang ke Labuan sore itu. Selesai makan siang dan sekalian membeli makanan buat malamnya (rasanya saya tidak akan kuat keluar hotel lagi mencari makan malam kalau suami tidak ada), kami langsung ke hotel untuk check in.
Hari Kedua
Keesokan harinya, semua bangun kesiangan. Kami sarapan di hotel karena sudah termasuk harga kamar. Setelah sarapan dan mandi, saya dan anak-anak jalan kaki kembali ke Suria KLCC mall. Tujuan hari ini adalah Aquaria dan Suria KLCC Park. Tanpa suami yang mendampingi, saya tidak berani membawa baby trolley. Susah membawanya melewati tangga jalan. Jadi si bungsu harus saya gendong sepanjang perjalanan hari itu.
Tadinya saya malas ke Aquaria, karena beranggapan bahwa tempatnya akan sama saja dengan Sea World. Tapi si abang memaksa. Dia memang hobi sekali mengamati hal-hal semacam ini. Demi anak, akhirnya saya turuti juga. Ternyata, saya tidak menyesal sama sekali! Tempatnya jauh lebih bagus dari Sea World! Terdiri dari 2 lantai, koleksi hewan lautnya banyak dan bervariasi. Disini ada satu kejadian yang cukup memalukan sekaligus mengesalkan. Sewaktu di bagian Education, saya dengan semangat menunjuk ke arah tulisan tentang sea horse (kuda laut) jantan yang hamil. Lihat, bang! Ternyata kuda laut itu yang hamil justru yang jantan! kata saya dengan takjub. Mau tahu apa jawaban si abang? Lho, bunda baru tahu? Abang sudah lama tahu, bun. Makanya baca ensiklopedia, dong.... Gubrak!!!
Dari Aquaria, kami makan siang di food court. Sudah jam 2 lebih, tapi mungkin karena tadi sarapan juga terlambat, anak-anak belum begitu lapar. Sambil makan, saya menyuapi si kakak dan menyusui si adik. Untung si abang sudah bisa makan sendiri. kalau tidak, pusiiiiiiingg!!
Selesai makan, kami keluar gedung mencari taman yang terletak di bagian belakang Suria KLCC mall tadi. Ternyata tamannya luas sekali. Dari melihat peta yang ada di taman, kami tahu ada children playground di situ. Setelah sedikit tersasar (ada perbaikan, jadi beberapa area ditutup, sehingga harus jalan sedikit memutar), akhirnya ketemu juga yang dicari. Ternyata yang namanya children playground itu adalah sejumlah permainan little tikes (ayunan, perosotan, dll) dalam satu area yang luas. Wah.... anak-anak saya langsung kegirangan. Mereka main tanpa mempedulikan panas matahari yang menyengat. Sekitar satu jam disitu, terpaksa saya ajak mereka pulang. Takut sakit. Di antara rengekan si kakak yang belum mau pulang, kami pun masuk kembali ke dalam mal untuk memotong jalan menuju ke hotel.
Sampai di hotel, setelah anak-anak mandi dan minum susu, kami semua pun tertidur kelelahan. Sehabis maghrib, saya siap-siap lagi untuk membeli makan malam. Si abang tidak mau ikut karena merasa kurang enak badan. Pusing, katanya. Akhirnya saya kembali ke mal tadi bersama kakak dan adik. Setelah membeli makan malam dan air mineral di supermarket di dalam mal, kami pun pulang. Kali ini, pulang pergi kami melewati jembatan penyeberangan. Kebayangkan rasanya menggendong bayi, membawa belanjaan sambil menuntun anak kecil? Wuiiiiihhh...... mantaff!!
Si abang ternyata panas suhu badannya. Dia tadinya tidak mau makan, tapi saya paksa. Takutnya tambah parah sakitnya. Beberapa kali muntah, akhirnya saya buatkan minuman sereal agar ada serat yang bisa membuat kenyang. Setelah minum obat demam dan dibaluri minyak kayu putih, dia pun akhirnya tidur. Ayahnya datang saat hampir larut malam. Akhirnya.... bala bantuan datang juga!
Hari Ketiga
Selesai sarapan di hotel, rencananya kami akan istirahat saja di kamar. Si abang masih hangat badannya. Tapi ternyata ada yang protes kalau seharian di kamar terus. Siapa lagi kalau bukan si kakak? Akhirnya, ayahnya menemaninya berenang di kolam renang hotel. Kebetulan kamar kami menghadap ke kolam. Jadi si abang bisa melihat adiknya berenang dari kamar. Maksudnya sih, supaya dia tidak terlalu marah karena tidak dibolehkan berenang.... ternyata malah ngambek! Dasar anak-anak....
Untuk makan siang, hanya suami yang keluar cari makanan di restoran Nasi Kandar di seberang hotel. Nasi kandar itu semacam nasi padang di Indonesia. Hanya saja rasa rempahnya lebih berasa dan bau karinya lebih menyengat. Porsinya pun sama dengan nasi padang. Buanyakk!!!
Malamnya, karena si abang mulai merasa sehat, kami putuskan untuk jalan-jalan ke Bukit Bintang, memanfaatkan free shuttle dari hotel. Ternyata dalam perjalanan, hujan lebat. Kami terpaksa diturunkan di depan Ritz Carlton Hotel. Dari situ, kami naik taksi ke Sungai Wang Mall. Terpaksa naik taksi, karena hujan masih sangat deras. Padahal kalau jalan kaki dari Ritz Carlton tadi cuma 10 menit!
Di Sungai Wang Mall, tujuannya adalah mencari gerai sepatu Vincci yang ngetop itu. Setelah bertanya ke orang-orang akhirnya ketemu, letaknya satu lantai di atas Mc Donalds. Sibuk milih-milih buat oleh-oleh, akhirnya saya memborong 5 pasang sendal..... dan tidak satupun untuk saya! Huaaaaa...... Kenapa ini selalu terjadi sama saya ya? Setiap kali belanja, pasti untuk diri sendiri tidak sempat terbeli! Sudah terlalu malam untuk mencari-cari lagi. Anak-anak belum makan malam. Akhirnya kami makan di Mc D saja, supaya cepat.
Selesai makan, ayahnya anak-anak mau mengajak kami mencoba naik MRT. Akhirnya, kami pun naik MRT ke hotel. Dua kali ganti kereta ditambah jalan kaki beberapa kilometer, akhirnya sampai juga di hotel. Kaki rasanya sudah sebesar kaki Yeti karena capeknya jalan jauh.... Tapi minimal hati sudah tenang, oleh-oleh (sebagian) sudah ditangan.....
Hari Keempat
Hari terakhir. Mulai packing lagi. Pagi-pagi sekali, ayahnya anak-anak sudah ke Petronas untuk antri tiket masuk Skybridge. Tiketnya sih, gratis. Tapi terbatas, jadi harus mengantri dari jam 7.30. Selesai semuanya mandi, kami sarapan di hotel. Ayahnya menyusul. Ternyata dapat tiket yang untuk jam 10.30. Kami putuskan untuk langsung check out dari hotel. Jadi selesai sarapan, kami check out dan menitipkan koper di concierge, lalu langsung berlari-lari ke Twin Towers.
Sampai di sana, ternyata kami sudah terlambat setengah jam. Untung masih dibolehkan masuk. Mungkin mereka kasihan melihat kami yang membawa bayi.... Seperti biasa, yang paling tertarik berada di tempat ini adalah si abang. Berulang kali dia minta difoto sambil memegang brosurnya :) Kekagumannya bertambah saat melihat ada alat yang bisa mengukur tinggi badan secara digital..... Sampai berulang kali dia mencobanya :)
Keluar dari situ, gift shop adalah tujuan berikutnya. Harus mencari oleh-oleh buat teman-teman dan guru kelas si abang, begitu permintaannya. Dari sana, kami langsung ke Suria KLCC mall untuk makan siang dan jalan-jalan menghabiskan waktu sambil menunggu waktu ke bandara jam 5 sorenya.
Jam 4 kurang kami sudah sampai di hotel lagi. Anak-anak berganti baju dan ke kamar kecil dulu sebelum berangkat ke bandara. Taksi yang sudah dipesan lewat concierge menjemput tepat jam 5. Selama satu jam perjalanan menuju bandara, kami semua tertidur di mobil.
Di Bandara sempat makan dan beli oleh-oleh (lagi)..... kali ini coklat buat para keponakan dan kaos buat abang ipar.... tidak lama kemudian, pesawat boarding. Seperti juga perjalanan sewaktu berangkat, kali ini pun anak-anak tidak rewel. Tapi kali ini si adik bangun, jadi sedikit lebih repot. Waktu makan harus gantian memegangnya kalau tidak mau ada yang tumpah. Sementara itu si kakak sibuk ngobrol dengan penumpang yang duduk di belakangnya. Jangan dikira dengan anak seumurannya loh.... Tapi dengan orang dewasa! Sempat terdengar dia menanyakan, om punya pet coiti gak? aku punya... pet ku namanya hula..... Anak zaman sekarang..... obrolannya facebook!!
Sampai di rumah, sudah hampir tengah malam. Anak-anak sudah tertidur di mobil. Tapi tetap semua digantikan bajunya sebelum dinaikkan ke tempat tidur. Bahkan si abang sempat menjamak shalat isya sebelum tidur.
Akhirnya..... home sweet home! Senang rasanya liburan keluarga kali ini sukses. Walaupun harus jadi nanny on duty selama liburan, si abang sempat sakit dan liburan ini merupakan low-cost vacation.... tapi alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan liburan bersama. Terima kasih ya, Rabb.... untuk segala nikmat yang Kau berikan.... :)