Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

PR Sekolah: Tugas Anak Atau Orangtua?

PR Zu
Entah karena kurikulum yang semakin berat atau memang guru dituntut untuk banyak melatih muridnya dengan soal-soal, sekarang PR (pekerjaan rumah) bukan main banyaknya. Satu pelajaran, satu PR. Kalau dalam 1 hari ada 3 pelajaran, berarti ada 3 PR. Kasihan anak-anak jadi kekurangan waktu bermain.

Untungnya, Zi bersekolah di tempat yang tidak membebani murid-muridnya dengan banyak PR. Biasanya PR diberikan sebelum libur. Bisa mengerjakan worksheets atau membuat materi presentasi atau mading. Tapi bagi Zu yang di sekolah negri, PR selalu ada setiap hari, minimal 1 pelajaran sehari. Sedangkan Za, walau dari les calistung-nya juga ada PR tetapi tidak wajib dikerjakan. Bila tidak dikerjakan di rumah, gurunya membolehkan Za mengerjakannya di tempat les.

PR Zi
Saat mengerjakan tugas dari sekolah, dari Za sampai Zi, kami sebagai orangtua hanya mendampingi, tidak membantu secara keseluruhan. Untuk Zi yang sudah kelas 6, bantuan yang diberikan hanya sebatas mengingatkan, brain storming untuk menggali ide dan mendampingi saat harus browsing internet. Zu yang baru kelas 1, masih dibantu saat browsing karena belum familiar dengan aplikasi komputer. Tetapi untuk menggunting, menempel dan menulis tetap menjadi tugas Zu. Sedangkan Za yang belum genap 4 tahun usianya, masih ditanya kapan mau bikin PR (waktu Za yang tentukan sendiri, tidak setiap hari) dan saat mengerjakannya dibantu saat mengeja, menghitung dan diawasi penulisannya.

Saya kaget waktu dengar ibu-ibu di sekolah dengan ringannya menceritakan bagaimana mereka mengerjakan PR anaknya, sementara si anak tidak melakukan apapun. Yup, benar. Ti-dak me-la-ku-kan a-pa-pun! Orangtuanya yang browsing, nyari bahan di koran/majalah, menggunting, menempel sampai menuliskannya. Parahnya lagi, orangtuanya merasa sangat bangga bila PR tersebut mendapat nilai tinggi!

Kalau tugas atau PR dikerjakan semua oleh orangtua, lalu anak dapat pembelajaran apa? Si anak akan belajar untuk mengandalkan bantuan orang lain dan tidak percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Memangnya kenapa kalau nilainya jelek? Itu kan hasil buah pikirnya sendiri, bukan orang lain. Apakah nilai yang tinggi jauh lebih penting dari menumbuhkan rasa percaya diri anak?

Jadi, PR sekolah itu tugas anak atau orangtua? You -- parents, decide.









Tak Kenal Maka Tak Sayang


Wiken kemarin dari Bandung dapat oleh-oleh batuk pilek (bapil) sekeluarga. Senin pagi, Zu dan Za demam tinggi, jadi sekolah dan lesnya diliburkan dulu. Zi walau masih pilek dan batuk (tapi tidak demam) tetap ke sekolah, karena hari pertama UTS (Ujian Tengah Semester). Hubby pun begitu, harus tetap ngantor karena ada breakfast meeting tiap Senin. Dan saya... well, the show must goes on. Mau meriang, batuk pilek, demam, kalau masih bisa berdiri tanpa pusing, antar jemput anak tetap harus jalan, kan?

Kebetulan, karena mengabaikan setrikaan selama demam ini, saya jadi punya waktu untuk baca-baca email dari milis di tengah hari. Biasanya waktu cek email milis itu malam hari, setelah semuanya tidur. Eeeh nemu artikel yang pas dengan keadaan saya. Ibu Rumah Tangga (IRT) tanpa Asisten Rumah Tangga (ART) yang anaknya sakit. Duh, jadi berasa ada teman sependeritaan :)

Mengikuti thread-nya, ternyata ada komentar dari seseorang yang persis dengan komen teman saya dulu tentang milis sehat. Komentar tersebut intinya SPs (smart parents) disitu jadi takut dengan AB (antibiotik) dan parcet (paracetamol) setelah join milis itu. Bahkan ada yang menceritakan anaknya kena infeksi telinga karena terlambat dibawa ke dokter.

Saya yang tadinya sangat minder untuk nimbrung (SPs disana tuh pinter-pinter banget, jauh banget ilmu saya dari mereka), kok ya tergelitik untuk menanggapi. Akhirnya postingan perdana saya pun terkirim ke milis sehat.

Hampir setahun jadi anggota milis sehat, banyaaaaaakkk sekali ilmu yang saya dapat di sana. Dari semua ilmu itu, tidak satupun yang mengajarkan: jangan ke dokter, jangan pakai AB, dan jangan kasih parcet kalau demam. Justru saya belajar bagaimana mengamati tanda-tanda kegawatdaruratan, masa observasi 72jam, bapil dan GE (Gastro Enteritis) tidak perlu AB, no puyer, serta KD (Kejang Demam) itu tidak dapat dicegah dan tidak membahayakan.

Mengutip komen seorang dokter disitu: pengetahuan yang setengah-setengah, (hampir) sama bahayanya dengan tidak tahu. Setuju sekali. Justru itulah, jangan men-judge milis sehat dan orang-orang yang tergabung di dalamnya sebelum tahu persis apa dan bagaimana milis sehat itu.

Terlambat dibawa ke dokter? Kan ada tanda-tanda kegawatdaruratan yang harus diawasi. Masa observasi 72jam belum lewat tapi sudah ada tanda darurat yang muncul, artinya apa? Segera bawa ke dokter! Bapil diresepin AB? Bapil itu penyebab umumnya adalah virus. Tidak ada obatnya. Self limiting, bisa sembuh sendiri. Tapi bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Ya anaknya saja dibikin nyaman.

Kata dokter ingusnya hijau jadi ada bakterinya, makanya dikasih AB. Kalau mau tahu itu bakteri atau bukan, harus lakukan swab tenggorok. Jangan bilang ada bakteri kalau belum lakukan swab. Anak demam kasih parcet, turun panasnya. Nanti beberapa jam panas lagi, kasih parcet lagi. Begitu terus berulang-ulang. Sudah memikirkan dampaknya ke ginjal dan hati anak karena pemberian parcet atau ibuprofen? Kalau anak sudah dibikin nyaman, tapi masih rewel, boleh dikasih parcet. Tapi tidak rewel atau belum diusahakan nyaman, HT (home treatment) dulu, dong. Why no puyer? Karena pembuatan puyer rentan human error, kontrol kualitas sulit dilaksanakan, toksisitas obat dapat meningkat dengan proses pencampuran (compounding) seperti ini, dan masih banyak alasan lainnya. 

Anak pernah KD, saat panas tinggi belum kejang, sudah dikasih obat kejang. Kalau sudah baca file-file milis sehat harusnya tahu KD itu tidak bisa dicegah dan tidak berbahaya. Tidak sempat ngubek-ngubek arsip, lagi panik anak sakit! Dibacanya pas anak sehat, dong. Jadi saat anak sakit, tidak panik. Saya bekerja, tidak bisa mendampingi anak 24jam, jadi kalau sudah kelamaan sakitnya, saya terpaksa menyerah pada AB. Ooo jadi yang mau diobati itu ibunya toh? Bukan anaknya?

Anak diare dan tidak mau makan, bawa ke rumah sakit supaya dapat cairan dari infus. Memangnya ada tanda-tanda gawat darurat dehidrasi? Klinis anak bagaimana? Coba buka-buka lagi arsip milisnya, yuk dibaca apa itu tanda-tanda dehidrasi.

Tidak ada orangtua yang tidak sayang anaknya, kecuali yang tidak waras, menurut saya. Tapi saat kita memasukkan obat-obatan ke dalam tubuh kecilnya, dan melakukan serangkaian tes yang menyakitkan (cek darah dll), sudah kah kita mempertimbangkan risks dan benefitnya? Kalau lebih banyak risks-nya, apakah tidak over treatment namanya? RUM itu Rational Use of Medicine, alias penggunaan obat yang tepat guna, BUKAN anti obat.

Kalau belum gabung milis, yuk gabung. Kita sama-sama belajar di sana. Jangan sampai anak over/under treatment hanya karena orangtuanya terlalu malas untuk belajar. Tak kenal, maka tak sayang ;)



Links:


* Gabung milis:
Kirim email kosong ke sehat-subscribe@yahoogroups.com nanti akan dapat kuisioner yang harus diisi dan dikirim balik. Kalau tidak dapat, coba cek Spam Folder. Biasanya nyelip disitu.

* Twitter: @milis sehat

* Website:





Why no puyer? http://bit.ly/eI40AA

Ilustrasi: http://bit.ly/xvA7JO

Ketika Anak Bicara Seks



Beberapa hari lalu di bbg sempat heboh. Semuanya berawal dari "girls talk" yang sampai ke telinga para orangtua. Pembicaraan diantara murid-murid perempuan yang bikin geger dunia persilatan itu topiknya seputar seks dan bahasa gaulnya.

Ada orangtua yang menyalahkan sekolah karena dianggap tidak mendidik anak jadi lebih baik, malahan merusak. Ada yang takut anaknya mendapat pengaruh buruk di sekolah. Tapi sebagian malah santai saja, karena memang maklum anak-anak umur segitu (kelas 5-6 SD) sudah waktunya untuk belajar tentang seks. Dan saya adalah salah satu orangtua yang santai itu :D

Umur pra-remaja (10-12 tahun) itu adalah masanya penuh keingintahuan, termasuk tentang seks. Jadi jangan kaget kalau anak bertanya, "Ma, **ent** itu apa sih?" atau "Kok kondom bisa melindungi kita dari HIV/AIDS?" Pertanyaan anak-anak itu mungkin bagi sebagian orangtua, tabu untuk ditanyakan. Risih kuping mendengarnya. Tapi kalau bukan kita, orangtuanya, yang menjawab pertanyaan itu, maka si anak akan mencari tahu ke tempat lain. Bisa teman, internet, atau media lain. Kalau nanti informasi yang di dapatnya benar, ya no prob. Tapi kalau salah?

Saya pernah membaca, sebagian besar remaja putri yang hamil diluar nikah pada usia belasan itu adalah mereka yang tidak tahu bahwa hubungan seks pertama kali itu bisa menyebabkan kehamilan. Jadi pendidikan seks itu penting bu-ibu! Jangan disepelekan. Beri anak-anak kita pendidikan seks yang mereka butuhkan agar nanti tidak terjerumus karena kurangnya pengetahuan.

Tapi saya malu ngebahas seks dengan anak. Risih mendengar istilah-istilah "ajaib" itu. Oh my god! Ini tahun 2012, jeung! Masa ngomongin seks saja risih? Lah, curhat tentang masalah ranjang di bbg kok gak risih?!

Anak saya tidak mungkin bicara dengan bahasa tidak sopan seperti itu. Pasti teman-temannya yang ngajarin! Kita tidak bisa melindungi anak selama 24/7 kan? Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkannya agar saat menghadapi situasi semacam itu, dia tidak ikut terbawa arus.

Dulu waktu SMA, teman dekat saya suka nyimeng (merokok ganja). Perempuan loh, jangan salah. Tapi saya sampai detik ini tidak pernah tergoda untuk mencobanya, alhamdulillah. Begitu juga saat kuliah, ada teman-teman wanita yang kalau kumpul jumat malam selalu minum-minum wine dan miras. Saya juga ogah tuh ikutan minum-minum, tapi saya tetap bergaul dengan mereka. Jauh dari pengawasan orangtua tidak membuat saya jadi liar, karena saya sudah menyadari dampak negatifnya kalau saya melakukan itu.

Menurut saya sih, seburuk apapun lingkungan disekitarnya, anak tidak akan mudah terpengaruh bila memiliki landasan yang kuat. Jangan sampai anak tidak melakukannya hanya karena takut sama orangtua atau pun Tuhan. Orangtua mah gampang dibohongin, dan dosa toh gak berjendol kan? Berbeda bila anak bisa menyadari dampak atau konsekuensi dari perbuatan mereka. Misalnya, mengkonsumsi alkohol dapat mengurangi tingkat kesadaran (mabuk). Orang mabuk tidak akan sadar kalau sedang melakukan kesalahan atau diapa-apain orang. Ceritakan kasus tugu tani yang memakan korban 9 nyawa atau kasus pemerkosaan akibat pengaruh alkohol. Bukti-bukti dan kasus yang nyata terjadi akan lebih mudah diserap oleh nalar anak daripada sekedar kata "dosa".

Saya mengajarkan 3pzh tentang seks sejak mereka lahir. Diawali dengan menyebutkan alat kelamin mereka sesuai namanya: penis atau vagina. Maksudnya supaya mereka nantinya terbiasa mendengar kata-kata ini dan tidak menganggap alat kelamin itu sesuatu yang kotor. Diajarkan juga untuk menutup aurat, sambil bilang,"Nak, pakai bajunya ya, malu kan kalau auratnya keliatan". Umur 3-4tahunan, mulai tuh 3pzh nanya: "aurat itu apa? Kenapa harus ditutup? Kalau tidak ditutup kenapa?" Dosa itu apa? dll.

Sewaktu Zi umur 7 tahun, di dekat kasir supermarket dia melihat kotak kondom warna-warni bergambar buah. Pertanyaannya saat itu,"Itu vitamin ya?" Kelas 4 Zi sudah mulai bertanya,"Kondom itu untuk apa, Bun?" Saya jawab, "Untuk alat kontrasepsi, yang dipakai di penis." Pertanyaan berlanjut. "Kontrasepsi itu apa? Apa gak sakit penisnya ditutup karet ketat gitu?" Saya jawab lagi,"Kontrasepsi itu alat untuk mencegah kehamilan yang bisa dipakai perempuan dan laki-laki. Kondom itu untuk laki-laki. Kalau sakit, gak mungkin dijual kan, Bang?" Tidak puas, pertanyaan akan berlanjut lagi dengan: kenapa kehamilan dicegah? Kan anak itu anugrah?... dan masih banyak lagi pertanyaan berikutnya. Sikap saya tetap sama: menjawab dengan to the point, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan memakai istilah yang benar.

Banyak orangtua yang menyebutkan istilah-istilah seks dengan kata kiasan atau pengganti. Istilah yang tidak ilmiah seperti ti**t untuk penis, atau nunuk untuk payudara, yang ujung-ujungnya akan membuat orangtua dan anak sama-sama kebingungan. Ajarkan juga hal yang sama dengan pengasuhnya, bila anda bekerja. Karena pengasuh yang tidak mendukung pola didik orangtua justru akan "merusak" anak.

Ingat, anak itu kan ibarat kertas putih. Bagaimana dia nantinya, tergantung apa dan siapa yang menulisnya. Jadi jangan biarkan anak anda mendapat informasi seks dan lainnya dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Selalu siapkan diri anda dan pasangan sebagai tempat anak bertanya, diskusi dan mendapat kenyamanan.





Selamat Jalan, Vanka



Setengah harian bb saya off karena charging. Setelah maghrib baru bisa dinyalain. Bbm pertama yang masuk, ternyata berita duka. Berita yang membuat saya menangis sambil bbm-an sama mbak ina, setelah membacanya :'(

Dhevanka, gadis kecil berusia 3 tahun, akhirnya harus menyerah kalah pada kanker yang membuatnya pendarahan di hari-hari terakhirnya. Malam ini, seorang ibu sedang berduka. Kehilangan putri kesayangannya. Doa saya untuk mama Dhevanka. Semoga beliau diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi cobaan ini.

Beberapa hari lalu, saya posting permintaan donatur aferesis di status bb, fb, dan 2 akun twitter. Hasilnya? 1 orang meng-RT dan 1 orang lagi japri via bbm. Tapi tidak ada yang menghubungi untuk benar-benar mendonorkan darahnya.

Saya percaya, memang ini sudah takdir Dhevanka. Tapi saya penasaran, apa memang tidak ada yang membaca status saya waktu itu? Atau memang tidak perduli?

Maaf kalau saya jadi larut dalam kesedihan ini. Mungkin karena Vanka seumuran dengan Za. Sungguh saya tidak bisa membayangkan kesedihan mamanya. Pedihnya melihat tubuh kurus anaknya tersambung selang-selang, ditusuki jarum-jarum. Penuh harap akan sekantung aferesis yang bisa menyelamatkan putrinya. Atau setidaknya, memperpanjang waktu untuk memeluk putri kecilnya :'(

Vanka, maafin saya ya, Nak
Saya kurang keras berusaha membantu kamu :(
Sekarang kamu sudah di tempat yang lebih baik, Sayang
Kanker itu tidak akan bisa menyakiti kamu lagi
Selamat jalan, Dhevanka



Link:
Dondar Aferesis

Ilustrasi: http://bit.ly/wCqpgv


[Sharing] Belajar RUM


Sebelum mulai cerita, saya mau menjelaskan dulu apa yang dimaksud dengan RUM atau Rational Use of Medicine. RUM pengertiannya bukan anti obat loh ya. Tapi menggunakan obat pada situasi, kondisi dan dosis yang tepat. Jadi bukan dikala sakit, menolak obat lalu beralih ke pengobatan alternatif. Sama sekali bukan. Untuk lebih jelasnya bisa jalan-jalan ke web-nya milis sehat dkk.

Yuuuk kita mulai ngedongengnya ;)

Sewaktu kecil, kata ibu, kalau sakit saya jarang diberi obat. Demam tinggi, dibawa ke dokter naik becak, eeeh baru sampai depan pagar rumah dokternya, panas saya sudah turun :D Sementara abang saya yang beda umurnya 11 bulan 2 minggu, selalu kena batpil (batuk pilek) bergantian atau bersamaan dengan saya (mungkin virusnya ping-pong) biasanya baru sembuh setelah minum obat dari dokter.

Sebagai single parent, dan juga karena kurang pengetahuan, ibu selalu gampang panik kalau anaknya sakit. Apalagi abang saya selalu kejang demam. Ditengah malam bila abang kejang, ibu akan menggedor pintu tetangga sambil berteriak minta tolong (kalau yang ini, masih lekat diingatan saya kejadiannya). Jadi harap maklum kalau anaknya sakit, pasti ibu segera membawanya berobat ke dokter (kecuali saya, tentunya).

Karena tidak terbiasa minum obat, sampai sekarang pun saya paling malas minum obat dan ke dokter. Alhamdulillah, belum pernah sakit parah sampai harus dirawat di rumah sakit, kecuali saat melahirkan :D

Sampai anak ketiga lahir pun, saya belum tahu apa itu RUM. Tidak punya akses ke internet, kurang gaul karena masih sibuk dengan keluarga dan baby baru, diperparah dengan dikelilingi oleh orang-orang non RUM yang super panik kalau melihat Zi sakit. Pokoknya masih jaman jahiliyah banget lah waktu itu :(

Ketiga anak saya terlahir dengan jaundice yang angka bilirubin-nya cukup tinggi dan semakin tinggi di anak ketiga. Zi bili-nya sampai 12. Saat akan periksa darah, saya nangis bombay di ruang tunggu lab sambil melukin Zi. Waktu itu ada seorang ibu yang menanyakan kenapa saya nangis. Kepadanya saya ceritakan tentang Zi yang harus dirawat inap bila bili-nya dianggap terlalu tinggi.

Ibu itu bilang, dulu waktu anak pertamanya lahir, dia pun mengalami hal yang sama. Awalnya dia merasa senang anaknya anteng, tidur terus. Tapi setelah kontrol ke dokter dan dibilang jaundice, akhirnya bayinya dibangunkan "paksa" tiap satu jam agar menyusu. Setelah beberapa hari, alhamdulillah bili-nya normal. Intinya, harus sering disusui dan dijemur, nasehatnya lagi. Merasa lega ada alternatif untuk Zi tidak dirawat, saya langsung bertekad akan mencoba tips yang diberikan ibu tadi sepulangnya dari RS.

Setelah membujuk dokter agar merelakan Zi dirawat di rumah, sampai di rumah pun saya mulai jadi "raja tega". Tiap sejam, Zi yang lagi nyenyak tidur saya bangunin dengan cara dikelitikin kakinya, diusap pakai wash lap mukanya supaya segar bahkan yang terekstrim pipinya saya usapin es batu x_x

Hasilnya? Saya kewalahan menyusui Zi. Sudah disusui sepanjang malam, PD kanan kiri sudah kosong, Zi nangis menjerit-jerit kelaparan. Dan dengan tololnya, saya pun menambahkan sufor karena takut ASI saya gak cukup :'( Waktu itu belum ngerti soal ASIP (ASI peras). Saya pikir, ASI yang diperas itu hanya untuk ibu yang bekerja. Setiap malam, Zi menyusu 10 botol ukuran 120ml plus ASI, barulah dia bisa tidur nyenyak sampai pagi. Walau ASI saya kemudian membanjir, tetapi setelah 10 bulan saya mulai melepaskan Zi dari ketergantungan ASI karena berencana ingin bekerja. Setelah Zi lepas ASI, saya malah urung bekerja karena Zi ngambek di sekolah setelah tahu saya kerja. Di tengah ruangan kelas Zi berbaring di lantai tidak mau melakukan apapun selama 45 menit sampai habis waktu pelajarannya :(

Itu baru cerita Zi. Cerita Zu lain lagi. Zu lahir dengan bili sampai 15. Tidak mau menyusu, kalau pun mau hanya sebentar. Hiks. ASI saya banyak sampai menetes-netes. Sama sekali tidak terpikir bahwa mungkin saja derasnya ASI saya lah yang tidak disukai Zu. Seharusnya saya peras dan suapin dengan sendok agar Zu tidak gampang tersedak. Lagi-lagi karena ketololan saya, akhirnya Zu pun menyerah pada sufor diusianya 4 bulan :'(

Sama seperti abang dan kakaknya, Za lahir jaundice, dengan bili sampai 17. Dokter tidak membolehkan Za di bawa pulang dari RS. Tapi saya keukeuh ingin membawa Za pulang bersama saya setelah perawatan persalinan selesai. Pemikiran saya saat itu sama sekali bukan karena sudah RUM. Tapi karena pertimbangan, kalau terburuk yang terjadi, saya ingin Za ada di pelukan saya bukannya terkapar sendirian di box-nya yang kecil di RS :'( Selain itu Zu masih 2 tahun. Tanpa pembantu, bila saya harus bolak-balik ke RS pasti jadwal makan-tidur dll-nya akan terganggu. Akhirnya Za berhasil dibawa pulang setelah hubby menandatangani surat pernyataan pulang paksa dari RS.

Za jaundice-nya bertahan sampai sebulan. Selama sebulan itu juga saya galaaauu setiap ada yang komen: "Kok bayinya kuning? Kok kecil banget ya? Gak apa-apa nih gak di rawat? Kuning itu bahaya loh, nanti nyesel!" Astaghfirullah... Rasanya hati ini teriris-iris setiap kali mendengar komen seperti itu :'( Saya takut sekali keputusan saya salah dan Za harus menanggung resikonya.

Untung saya tidak menuruti kata dokter yang bilang Za kuning karena ASI. Malah Za diresepkan vitamin padahal umurnya masih 1 bulan. Walau DSA-nya memaksa saya untuk menghentikan pemberian ASI dan beralih ke sufor, saya bertekad, kali ini saya harus berhasil memberikan ASI eksklusif minimal sampai 6 bulan. Alhamdulillah, 6 bulan terlewati dengan sukses walau saya harus tutup kuping setiap kali kontrol ke DSA.

Umur Za 1 tahunan, saya mulai menggunakan bb dengan semestinya, yaitu untuk mencari info bermanfaat daripada sekedar haha-hihi di bbg. Dimulai saat hubby di screening darahnya di RS Dharmais. Disana hubby menanyakan penyebab kanker anak pada suster yang mengambil darahnya. Kata suster itu, selain keturunan, gaya hidup dan polusi, pemberian obat-obatan over the counter alias obat yang dijual bebas akan membuat imunitas tubuh berkurang. Apalagi pemberian antibitiok yang tidak tepat.

Pulang dari Dharmais itulah, saya mulai googling mencari tahu dampak antibiotik. Lalu saya ketemu artikel "no puyer". Membaca semua artikel itu, rasanya ingin menjedut-jedutkan kepala ke dinding. Selama ini kalau 3pzh sakit, saya bawa ke DSA yang menurut saya waktu itu paling tidak gampang ngasih obat. DSA ini selalu memberikan 2 resep. Resep pertama bila 3 hari tidak menunjukkan tanda-tanda membaik, lanjutkan dengan resep kedua (ada antibiotiknya). Dan semua resepnya itu selalu terdapat puyer! Ya Allah, what have I done to my children? Saya sudah meracuni anak-anak saya selama ini :'(

Sejak itu saya berusaha sebisa mungkin menghindari antibiotik dan puyer. Semua stok obat termasuk paracetamol saya buang dari kulkas dan lemari penyimpanan. Kalau ada yang terkena common colds, saya cuma bikinkan minuman hangat dan perbanyak konsumsi cairan. Berat loh berjuang untuk RUM itu. Apalagi kalau lingkungan tidak mendukung. Harus siap tutup kuping dan stok sabar yang banyak.

Akhirnya saya tahu tentang milis sehat dan langsung join setelah menemukannya secara tidak sengaja di twitter. Disini saya merasa menemukan teman, keluarga, supporting group yang belum pernah saya temui sebelumnya. Walau hanya sebagai anggota pasif, tapi semua info penting selalu saya save di memopad. Begitu juga email-email berisi sharing para smart parents yang bisa menjadi obat galau di kala bimbang. Terima kasih bunda Wati, para dokter dan smart parents yang mau terus berbagi ilmu dan pengalaman untuk mencerdaskan orangtua cupu seperti saya, melalui milis sehat.

Sejak kenal milis sehat itulah saya sering berbagi info kesehatan ke teman-teman yang membutuhkan. Tetapi memang dalam berbagi kita harus ikhlas dan sabar, terutama bila ditolak, bahkan dituduh yang tidak-tidak. Saya menyesal karena anak-anak hampir menjadi korban dari ketidaktahuan saya. Semoga pengalaman dan info yang saya bagikan dapat membuat teman-teman saya belajar tanpa harus mengalaminya lebih dulu.
Ini cerita RUM-ku, apa ceritamu? :)


Mau Curhat

Pengen curhaaaaattt!!! Sesak banget nih dada rasanya :'(

Untuk yang kenal saya, mungkin banyak yang menilai saya ini orangnya terlalu perhatian sama orang lain, bahkan gak jarang juga dituduh kepo alias wontunoooo ajah :D Bagi saya pribadi sih, dinilai apapun terserah saja. Tapi saya memang paling tidak bisa cuek saja bila melihat kesusahan orang lain, kenal ataupun tidak.

Maaf yaaa kalau ada yang sebel setelah saya baca statusnya di bb trus saya japri dan menanyakan, "are you ok?" Demi Allah, I did that because I care, not kepo. Boleh percaya, boleh nggak. Dan bila tidak di jawab pun, saya gak keberatan. Kan memberi itu harus ikhlas. Termasuk memberikan perhatian. Ditanggapi alhamdulillah, gak ditanggapin ya sutralaaaah.

Nah tadi tuh, ada temen yang cerita di bbg kalau anaknya sakit. Seperti biasa, saya pun membagikan "ilmu milis sehat" yang sudah tersimpan di memopad. Tanggapannya? Dia bilang gak usah ngelarang, biar dia ambil resiko ini demi anaknya.

Oh my God! Siapa yang ngelarang? Memangnya saya siapa ngelarang-larang? Saya hanya menanyakan kondisi klinis anaknya saat ini. Lalu menanyakan apa sudah mempertimbangkan antara manfaat dan efek samping dari tes yang akan dilakukan. Itupun tidak lupa menekankan, anak itu tanggung jawab orangtuanya, jadi keputusan ada di tangan ortunya.

Akhirnya, untuk mengakhiri perdebatan saya bbm ke teman saya itu. "Berbagi ilmu is a must, tapi gak boleh maksa. Di dengar ok, gak di dengar ya gak apa-apa."

Kalau orang berhenti berbagi ilmu karena ada orang yang menolaknya, apa yang akan terjadi? Mungkin kita semua sekarang tidak beragama. Bukankah agama itu disampaikan secara turun temurun, tetapi pada akhirnya orang berhak memutuskan agama mana yang dia anut?

Maka saya putuskan untuk terus berbagi termasuk berbagi ilmu, diterima atau ditolak. Karena saya percaya, berbagi itu harus ikhlas. Tidak boleh mengharapkan apa pun.

Terima kasih sudah membaca curhatan saya ini. Maaf kalau saya curhat disini karena saya bukan tipe orang yang suka curhat di status bb. Mari melanjutkan hidup kita dan terus berbagi dengan ikhlas. Semoga kita semua selalu diberkahi-Nya.




Sayap Ibu Bintaro



Keterangan foto:
1. Anak-anak penghuni Sayap Ibu Bintaro
2. Merayakan ulang tahun Berti (lagi)
3. Umay yang cantik menggemaskan (˘⌣˘)ε˘`)
4. Ayu yang manja minta disuapin :)
5. Sebagian dari tim #BERBAGI yang hadir


Tulisan ini seharusnya di posting saat bulan Ramadhan kemarin. Tapi entah kenapa, saya ragu untuk memposting foto-fotonya. Bagi orang lain, berfoto dengan anak-anak cacat mungkin biasa saja. Sementara bagi saya, kok rasanya seperti mengeksploitasi kekurangan mereka ya? Kalau akhirnya tulisan ini saya posting sekarang, pertimbangannya adalah karena ingin mengajak pembaca IdenyaDini untuk lebih perduli kepada mereka yang kurang beruntung agar kita selalu bersyukur dengan nikmat yang sudah diberikan Tuhan YME.

Minggu, 27 Agustus 2011

Bintaro itu jauuuuuh dari tebet. Kalau tidak ada kepentingan yang benar-benar mendesak, rasanya malas ke daerah ini. Wilayahnya yang luas, menurut saya sangat membingungkan. Buktinya, walau sudah kedua kali saya ke Sayap Ibu Bintaro, tapi tetap saja nyasar (ˇ_ˇ'!l) (alasan, padahal memang saya saja yang error).

Petunjuk jalan dari teman yang tinggal di Bintaro, Ayu, sudah saya simpan di memopad tetapi tetap tidak menolong. Kami sempat nyasar di sekitar Driving Range. Untungnya, kali ini Ayu juga akan ikut ke Sayap Ibu, jadi kami bisa konvoi. Alhamdulillah, biarpun sempat nyasar, kami bisa sampai dengan selamat sebelum adzan maghrib. Jadi puding coklat yang saya bawa tidak sia-sia :)

Karena acaranya adalah buka puasa bersama, peserta diharapkan membawa 1 jenis makanan untuk potluck. You know me laaah, cooking is definitely not my cup of tea. Harap maklum kalau puding coklat adalah menu andalan saya untuk potluck karena bikinnya gak ribet :D

Panti Asuhan Sayap Ibu Bintaro mengasuh 30 anak cacat ganda (tuna daksa). Mereka diantaranya adalah penderita Hidrocephalus, Microcephalus, Autis, Down Syndrome (DS) dan Celebral Palsy yang berusia antara 1 tahun hingga anak berusia 22 tahun.

Seperti biasa, penyakit cengeng saya mendadak kumat melihat anak-anak penghuni di sana. Sudah berusaha ditahan, tapi air mata ini terus saja mengucur tanpa kompromi. Bukan fisik mereka yang membuat saya sedih, tapi nasib mereka yang ditelantarkan oleh keluarganya. Anak-anak itu banyak yang dibuang oleh orangtuanya yang menganggap mereka sebagai aib keluarga. Ada yang dibuang di tempat sampah. Ada yang dititipkan ibunya ke supir taksi dari Cirebon agar dibawa ke Jakarta :(

Hari itu, Berti, salah satu penghuni panti dirayakan ulang tahunnya. Sebenarnya ulang tahunnya beberapa hari yang lalu, tapi banyak sekali yang ingin membawakan hadiah dan kue untuknya. Jadi kata mbak Ina, ulang tahun Berti akan dirayakan selama seminggu penuh. Berti, penderita hidrocephalus berusia 8 tahun, terlihat senang ketika semua menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya.

Sebelumnya, saya ke Yayasan Sayap Ibu hanya bertiga dengan Zi dan Za. Waktu itu Zu ikut ayahnya ke acara kantor. Kali ini paket komplit alias bersama hubby dan 3pzh. Senang melihat 3pzh menikmati kunjungan mereka ke Sayap Ibu hari ini. Zi sibuk memotret dengan kameranya, Zu asyik bermain dengan pengunjung anak-anak seumurannya, sementara Za terus nempel ke bundanya.

Walau terlihat jealous setiap kali saya menggendong anak lain, Za tetap mau memeluk dan menciumnya. Terutama saat saya menggendong Umay. Humaira nama panjangnya. usianya sepantaran dengan Za, tapi badannya jauh lebih kecil, entah ada hubungannya atau tidak dengan DS yang dideritanya. Pertama ketemu, saya langsung jatuh cinta dengan senyumnya yang cantik dan pipinya yang merah menggemaskan.

Ternyata tidak hanya Za yang posesif ke bundanya. Ayu, penderita DS, juga tidak mau saya berbagi perhatian dengan yang lain. Dengan manjanya Ayu minta disuapin puding dan minta dibacakan buku cerita. Setiap kali mau beranjak, tangan saya ditarik agar duduk kembali disisinya :)

Anak-anak Sayap Ibu Bintaro selalu membuat saya kangen untuk sering datang mengunjungi mereka. Sayang keterbatasan waktu dan tenaga menghalangi keinginan itu :( Kalau ada pembaca yang berminat main-main kesana, ini alamatnya:

Yayasan Sayap Ibu Bintaro
Jl. Raya Graha Bintaro No. 33 B
Pondok Kacang Barat - Bintaro,
Tangerang 15226
(dekat Apotik Century)

Berikut daftar barang kebutuhan anak-anak panti. Daftar ini saya dapat dari BM mbak Ina (maaf menyebut merk):
Susu Pediasure, NAN 2 DHA, Enfakid 4, SGM 2, SGM 4, Frisian Flag 123, Bubur Susu ( Nestle, Promina 6+, SUN 6+ Rasa Beras Merah + Kacang Hijau ), Quaker / Havermout Tissue Basah, Mamy Poko Biasa ( XXL ), Pampers / Diapers ( S ), Mamy Poko Celana ( XL ), dan Force Magic.

Jika pembaca ingin ikut #BERBAGI dapat menghubungi:

Twitter : @inagibol dan @berbagisharing


[Sharing] Potty Training



Potty Training atau melatih anak untuk BAK dan BAB di kloset, sebenarnya bisa dimulai di usia lebih muda dari Za sekarang kalau saja dia mau diam di tempat bila BAK/BAB. Ketakutan akan kemungkinan Za terjatuh karena licin dan najisnya bisa kemana-mana, yang membuat saya menunda-nunda terus program ini.

Mungkin bagi yang punya asisten atau sedikit cuek tentang najis, tidak akan terlalu susah untuk melaksanakan potty training ini. Kasur kena ompol cukup dijemur. Lantai kena pipis, cukup dipel 1-2x. Sementara saya, ribet banget membersihkannya. Takut wudhu dan shalat menjadi tidak sah, apalagi disekitar rumah sulit menemukan tanah bersih untuk membersihkan najis, saya jadi cenderung berlebihan membersihkan bekas ompol. Gak apa-apa repot, asal hati tenang, kan? ;)

Biasanya, saya membersihkannya dengan cara mengelap tempat yang terkena najis sampai 7x. Di lap 2x untuk mengangkat najisnya, 2x untuk mengelapkan dengan lap yang diberi sabun+air, dan terakhir 3x untuk mengangkat sabunnya sampai bersih. Lebay ya? X_X

Program potty training ini dimulai dari mengajak Za diskusi tentang keinginannya untuk masuk sekolah. Kami menjanjikan, Za boleh sekolah kalau sudah tidak minum susu dari botol dan sudah tidak pakai diaper. Botol sudah berhasil. Tinggal diaper nih, saya masih maju mundur. Soalnya, peraturan apapun yg diterapkan ke anak, baru akan efektif bila kita konsekuen menjalankannya. Jadi begitu program ini dimulai, gak bisa tuh berhenti 1-2 hari trus dilanjutin lagi. Nanti anaknya jadi bingung. Sementara saya takut repot harus mengawasi Za sepanjang hari.

Akhirnya, karena bulan depan Za sudah berulang tahun ke 3, saya memutuskan untuk segera memulai program potty training ini. Wooossaaaaahh!!

Hari pertama, Za lepas diaper sejak mandi pagi. Setiap 10-15 menit saya tanya, adik mau pipis? Mau pup? Jawabannya selalu tidak. Hasilnya? 3x BAK dan 1x BAB di celana X_X huhuhu. Jam 2 sore, saya menyerah. Pekerjaan saya keteteran karena saya berkali-kali mengepel. Cucian dan setrikaan sudah semakin menumpuk. Akhirnya Za dipakaikan diaper dengan janji besok akan dicoba lagi. Malamnya saya curhat ke hubby dan disarankan untuk mencoba program ini saat weekends, jadi dia bisa membantu mengawasi Za.

Hari kedua, entah kenapa, saya ingin mencoba lagi. Padahal, wiken masih 2 hari lagi. Kali ini, caranya sedikit saya ubah. Kalau kemarin saya hanya mengingatkan Za untuk memanggil saya bila mau ke toilet, hari ini berbeda. Setiap 10-15 menit, walau Za bilang tidak mau, saya dudukkan Za di kloset sambil berulang-ulang mengatakan, "hayo, adik kan sudah besar, sudah mau sekolah, berarti sudah bisa pipis di kloset. Bila 5 menit tetap tidak ada yang keluar, saya pakaikan lagi celananya. Begitu terus sampai akhirnya Za bisa BAK di kloset. Saat Za berhasil melakukannya, saya tepuk tangan, memuji dan memeluknya.

Siangnya, Za sudah bisa bilang bila mau BAK. Sorenya, Za bahkan berhasil BAB di kloset, walaupun dia masih sering tertukar antara BAK dan BAB. Seharian itu, program berhasil 80%. Belum 100% karena saat tidur siang dan malam, diaper tetap saya pakaikan supaya tidak mengompol. Itupun diapernya harus dipakaikan setelah Za tidur, karena merasa sudah besar dia menolak memakainya lagi. Tapi setelah Za bangun, segera saya buka diapernya dan mendudukkannya di kloset.

Hari ketiga, karena harus pergi ke suatu acara, Za terpaksa dipakaikan diaper lagi. Awalnya Za menolak karena merasa sudah besar :D Tapi akhirnya mau setelah diberi pengertian, di tempat yang akan didatangi jalanannya macet, mungkin akan susah mencari toilet.

Ternyata, pergi dari jam 4 sore dan sampai di rumah jam 10 malam, diapernya sama sekali tidak basah. Za rela menahan BAK karena dikiranya melakukannya di diaper sama artinya dengan mengompol. Sepertinya keinginan Za untuk sekolah sangat besar, sehingga dia benar-benar ingin menepati janjinya untuk tidak ngompol lagi.

Alhamdulillah, proses potty training ini hanya memakan waktu 4 hari. Hari pertama gagal total, hari ke 2 dan 3 penyesuaian, dan hari ke 4 dan seterusnya sudah lancar jaya *dancing*

Buat yang belum berhasil potty training-nya, tetap semangat ya. Coba diganti caranya. Berikan rewards agar anak merasa dihargai usahanya. Pasti selalu ada cara untuk melatih si kecil meninggalkan kebiasaan "bayi"-nya. Anak yang pintar, hasil didikan orangtua yang pintar kan? ;)


#BERBAGI di RS Dharmais


Keterangan foto:
1. Sebagian dari relawan #BERBAGI yang ikut pada kegiatan tanggal 14 Agustus 2011 di RS Dharmais
2. Noval sedang memamerkan kepiawaiannya bermain sulap kepada mbak Ina
3. Alika, gadis kecil pemberani yang suka menyanyi
4. Putri, Dimas dan Ajeng sedang menikmati hidangan berbuka puasa
5. Vita, Acho dan Bagas sedang mewarnai tokoh kartun favorit mereka
6. Alika yang senang musik sedang mencoba memainkan keyboard
7. Hasil karya pasien dari Bangsal Anak

----------------------------


Minggu sore 14 Agustus 2011. Sudah hampir 15 menit saya duduk dalam mobil, di parkiran RS Dharmais. Masih 30 menit lagi dari waktu yang ditentukan untuk berkumpul. Tapi bukan itu yang menahan kaki saya untuk turun dan masuk ke rumah sakit beraura suram itu.

Terus terang, saya takut tidak dapat menahan air mata di dalam sana. Melihat anak-anak berkepala plontos itu dengan infus di tangan dan masker di mulut, sungguh menyesakkan dada. Ya, sore itu saya berencana untuk mengikuti kegiatan #BERBAGI di Bangsal Anak RS Dharmais. Berbuka puasa dan berbagi kasih dengan anak-anak penderita kanker yang di rawat di situ.

Mengunjungi penderita kanker, terutama yang masih anak-anak, perlu nyali yang kuat. Mereka masih seumuran 3pzh, tetapi sudah menanggung beban sedemikian berat. Membayangkan rasa sakit yang harus dirasakannya, rasa mual dan lemas setelah kemoterapi, harapan orangtuanya atas kesembuhan anaknya, perjuangan mereka mengalahkan penyakit ini.... tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semoga Allah selalu memberikan mereka dan keluarganya kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Seperti juga anak-anak normal lainnya, anak-anak penderita kanker juga memiliki hobi dan cita-cita. Kemarin saya berkenalan dengan Noval yang hobi bermain sulap, Alika (4) yang suka menyanyi dan Bagas (6) yang pintar mewarnai. Walau harus membawa tiang infus kemana-mana, mereka tetap ceria. Bahkan Dimas (11), Putri (11) dan Ajeng (10) puasanya penuh dari Ramadhan hari pertama. Semangat mereka sangat luar biasa!

Pertemuan yang hanya beberapa jam itu mengajarkan kepada saya tentang arti kesabaran, kepasrahan dan bersyukur. Tiga pelajaran tersulit dari sekolah kehidupan. Saya merasa malu karena selama ini terlalu gampang mengeluh. Dibandingkan penderitaan mereka, apalah artinya ketidaknyamanan yang saya rasakan?

Jangan menunggu terjadi pada kita atau orang terdekat kita dulu, baru mau perduli dengan penderitaan mereka. Ada banyak cara untuk membantu meringankan beban mereka. Anda bisa membantu mereka dengan menjadi dondar siaga, relawan, atau donatur.

Menjadi dondar siaga berarti anda harus memenuhi beberapa persyaratan khusus, lulus screening dan harus siap bila sewaktu-waktu dipanggil untuk donor. Bila ingin menjadi relawan, anda dapat berbagi kasih dengan bermain, membacakan cerita dan berinteraksi dengan anak-anak penderita kanker tersebut. Selain itu juga bisa membantu dalam bentuk materi. Sumbangan anda akan digunakan untuk membeli kebutuhan rutin mereka, seperti susu dan popok.

Ingin mengetahui lebih jauh tentang gerakan #BERBAGI? Cekidot link dibawah ini ya:


Twitter : @inagibol dan @berbagisharing



Untuk BERBAGI donasi 
*Bank Mandiri 101-00-0651364-0
a/n Amalia Medina
*BCA 2371528450
a/n Eric Gunawan




Pengalaman Saat Berhaji (3)

Setelah berbagai cobaan yang datang silih berganti, akhirnya teman saya itu berangkat juga ke tanah suci. Labaik Allahumma labaik...
Di Tanah Suci
Sebelum keberangkatannya, teman saya sempat membaca di surat kabar bahwa daerah penginapan haji tempat tinggalnya nanti (di Misfalah) kondisinya kurang bagus. Dari lift yang rusak, kamar mandi yang mampet sampai letaknya yang cukup jauh dari Masjidil Haram. Saat itu, dia hanya bisa berdoa, semoga diberi kekuatan selama menjalani ibadah di sana.
Ternyata saat tiba di penginapan, yang terjadi justru sebaliknya. Penginapan yang didapat justru penginapan baru, kondisinya bersih dan rapi, serta letaknya hanya 15 menitan bila jalan kaki. Kalau pun naik taxi, hanya membayar 5 real. Dikelilingi pertokoan dan banyaknya tukang makanan di sekitar penginapan, memudahkannya menyiapkan konsumsi bagi suami, mertua dan tantenya setiap hari. Katanya pada saya, Alhamdulillah, saat membaca surat kabar itu saya tidak suudzon (berburuk sangka). Saya hanya berdoa minta dikuatkan dalam menjalani ibadah ini. Mungkin kalau saya sudah suudzon, yang terjadi justru sebaliknya.
Setiap hari, dia dan suaminya tidak pernah lupa menelpon gadis kecil mereka. Walau hanya 5 menit, tetapi mendengar suara lucu menggemaskan itu lumayan mengobati rasa rindu. Kelegaan luar biasa mendengar laporan pengasuhnya yang mengatakan si kecil tidak rewel mencari bundanya. Hati yang tenang meringankan langkahnya menjalani ritual ibadah di tanah suci.
Dari semua pengalaman luar biasa yang dialaminya di sana, ada satu pengalaman yang benar-benar tidak dapat dilupakannya. Waktu itu, teman saya sedang berkumpul bersama rombongannya di lobby hotel tempat mereka menginap di Madina. Seorang jamaah haji laki-laki bercerita, dia baru saja ikut mengantarkan jenazah ke pekuburan dekat situ. Jenazah wanita asal China (kalau tidak salah).
Pada umumnya, mereka yang ke Madinah, ingin melaksanakan ibadah arba'in. Arba'in adalah melaksanakan 40 waktu shalat wajib berturut-turut, dilakukan secara berjamaah di Masjid Nabawi, selama (kira-kira 8 hari) di sana. Nah, jamaah dari China ini tidak pernah dilihatnya shalat berjamaah. Dan shalatnya tidak berhenti-berhenti. Jadi selesai salam, shalat lagi. Begitu terus beberapa kali. Wah, aliran baru nih, kata bapak itu sedikit sinis.
Tapi saat mengangkat keranda yang super ringan itu, bapak itu langsung istighfar. Selama ini, dia sering mengkritik cara shalat orang lain. Menurutnya aneh bila caranya tidak sama dengan yang dilakukannya. Dia jadi malu karena sering merasa paling benar dalam beribadah, paling tahu ilmu agama. Mungkin bukan bagaimana cara shalatnya yang dinilai Allah SWT, tapi yang paling penting adalah nawaitu (niat)-nya, ujar bapak itu menutup kisahnya.
Tidak terasa, 40 hari berlalu dengan cepat. Tiba waktunya kembali ke tanah air. Kata teman saya, rasanya campur aduk antara senang ingin segera bertemu dengan gadis kecilnya dan sedih akan segera meninggalkan tanah suci. Ya Allah, ijinkan aku mengunjungi rumah-Mu lagi suatu saat nanti, doanya.
Kembali Ke Rumah
Sujud syukur segera dilakukannya begitu kakinya menginjak terminal haji, Bandara Soekarno-Hatta. Tidak sabar teman saya ingin melihat wajah anaknya yang tidak ikut menjemput di bandara saat itu.
Air mata bahagia pun tidak terbendung lagi ketika akhirnya teman saya melihat anaknya keluar dari rumah mertuanya. Dipeluknya tubuh kecil itu seperti tidak ingin dilepaskannya lagi. Ya Allah, terima kasih telah Kau berikan kesempatan bagi kami untuk bertemu kembali, ujarnya dalam hati.
Di akhir ceritanya, teman saya menganjurkan, apabila sudah punya niat baik, jangan menunda. Segala kendala, serahkan pada Allah SWT. Insya Allah, akan baik hasil akhirnya.
Well, pembaca blog Idenyadini yang dirahmati Allah SWT, mari wujudkan niat baik kita dengan segera. Jangan menunda. Mulailah dengan bismillah. Jangan bilang belum mendapat panggilan. Allah SWT selalu memanggil kita untuk datang ke rumah-Nya, tetapi banyak dari kita yang tidak mau memenuhi undangan-Nya dengan berbagai alasan.
Bagi yang sedang menunaikan ibadah haji, semoga menjadi haji yang mabrur dan kembali dengan selamat ke tanah air :)