Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Bangkok Trip (5)



Sebagai penutup, di bagian terakhir dari tulisan Bangkok Trip series, saya ingin berbagi beberapa tips selama liburan di Bangkok:

1. Bila tujuan anda ke Bangkok untuk berbelanja, menginaplah di daerah Pratunam. Sedangkan bila anda membawa keluarga atau tidak suka daerah yang ramai, Soi Rambuttri adalah pilihan yang tepat. Wisatawan kelas backpacker atau yang senang keramaian akan menyukai daerah Banglamphoo atau Khaosan Road.

2. Selalu memakai pakaian yang sopan/tertutup bila ingin berkunjung ke kuil atau istana. Celana/rok pendek, kaus tanpa lengan/tipis, sendal jepit adalah sebagian dari contoh pakaian yang dilarang dipakai bila mengunjungi tempat-tempat tersebut.

3. Pilih selalu taksi berargo warna pink. Berdasarkan pengalaman selama disana, hanya taksi pink yang supirnya jujur. Taksi yang lain kalau tidak minta uang ekstra dengan alasan macet, biasanya hanya mau charteran alias tidak pakai argo.

4. Kalau naik tuktuk, tolak bila supirnya mau mengantarkan ke toko-toko tertentu atau bilang ada diskon kalau naik perahu di Chao Praya yang hanya berlaku hari itu. Lebih baik beli paket tour dari hotel atau biro perjalanan yang banyak terdapat di sekitar hotel.

5. Beli peta yang ada bahasa Inggris dan Thailand-nya sekaligus agar orang lokal mengerti saat kita menanyakan tempat yang dituju. Tunjukkan saja petanya. Praktis, kan?

6. Burger King, KFC atau makanan fast food lain yang biasanya halal di Indonesia, di Thailand, tidak halal. Tapi tergantung apa definisi halal bagi anda. Apakah hanya sekedar "Bukan Babi" atau harus terbuat dari bahan yang halal dan dimasak dengan cara halal juga.

7. Makanan halal memang tidak mudah ditemukan, tetapi pasti ada karena banyak juga orang Thailand yang beragama Islam. Biasanya di restoran atau warung/gerobaknya ada gambar Kabah, tulisan Arab atau si penjual memakai jilbab yang menandakan makanan itu halal.

8. Copas tulisan Thai ฉันไม่กินหมู yang di baca Mai Ao Muu Khaa artinya saya tidak makan babi, print dan di laminating, supaya tidak mudah lecek karena akan sering ditunjukkan saat membeli makanan. Atau save di handphone dan tunjukkan kepada penjual makanan jika meragukan ke halalannya.

9. Membawa kamus percakapan sehari-hari bahasa Thailand akan sangat membantu selama di sana. Atau menghafal beberapa kata yang mungkin digunakan, seperti kata sapa, ucapan terima kasih, dan sebagainya.


10. Kalau anda menanyakan mushola, tanya saja: 
"Hong lamard, yoo ti nai, ka/kap?" 
(hong lamard = musholla/surau; yoo ti nai = di mana; kaa/krap = tak bermakna literal, hanya penyopan. Pakai "ka" kalau anda sebagai penanya adalah wanita, dan pakai "krap" kalau anda pria).


11. Udara dan cuaca Bangkok hampir sama dengan Jakarta. Kadang panas terik, tapi bisa juga hujan. Jadi selalu siapkan topi, payung/jas hujan dan botol air minum.


12. Selalu membawa camilan, terutama bila membawa anak-anak. Camilan ini juga sangat berguna untuk mengganjal perut sampai mendapatkan tempat yang menjual makanan halal.

Demikianlah cerita perjalanan kami selama di Bangkok beserta tips-nya. Semoga bermanfaat. Selamat liburan, jangan lupa oleh-olehnya ;)

















Pulang Ke Kotamu (3)


Taman Sari

Hari kedua di Jogja rencananya akan mengunjungi ke beberapa tempat wisata dengan naik becak/andong. Setelah sarapan di hotel, kami pun berjalan kaki ke Malioboro untuk mencari andong/delman. Tanpa perlu tawar-menawar yang alot, disepakati ongkos ke Taman Sari Rp20ribu. Delmannya cantik di cat warna hijau terang.

Tujuan pertama hari ini adalah Taman Sari. Sebuah taman pemandian yang dulunya eksklusif bagi raja/sultan beserta keluarganya. Sekarang tempat ini dibuka untuk umum. Di dalamnya kita bisa melihat 3 kolam pemandian (untuk raja, selir-selir dan putra-putrinya) serta beberapa ruangan seperti ruang salin/ganti baju para selir, ruang peristirahatan raja dan ruang sayembara.

Tempat istirahat Raja
Ruang sayembara terletak di lantai atas dengan jendela besar menghadap ke kolam. Konon raja memberikan sayembara untuk memilih selir yang akan menemaninya beristirahat. Diberikan kepada para selir yang sedang berkumpul di kolam bawah, sayembaranya dapat berupa pertanyaan atau menangkap bunga yang dilempar raja dari atas.


Ada yang unik di ruang salin selir. Sebuah wadah air terbuat dari keramik yang dulunya digunakan sebagai kaca untuk berdandan. Cermin ini memiliki makna bahwa manusia harus selalu menunduk dan berkaca, tidak boleh sombong.

Cermin
Rak baju di ruang salin











Kolam anak-anak
Kolam pertama yang letaknya pas di bawah ruang sayembara, adalah kolam pemandian Raja dan selir pilihannya. Kolam satunya lagi yang lebih besar adalah untuk para selir yang tidak terpilih mendampingi Raja beristirahat. Sementara kolam bagi putra-putri Raja letaknya terpisah dari 2 kolam lainnya dan airnya lebih dangkal.


Bila mengunjungi Taman Sari, sebaiknya memakai guide. Selain menceritakan sejarahnya, guide juga dapat membawa turisnya ke lorong-lorong bawah tanah yang dulu dilalui Raja bila ke Taman Sari. Terletak di antara perumahan penduduk, lorong bawah tanah ini sebagian sudah tertutup. Di dalam lorong terdapat 5 buah tangga yang mencerminkan Rukun Islam. Ditengah tangga inilah Muadzin berdiri saat mengumandangkan adzan.

Lorong bawah tanah
Tangga tempat muadzin














Alamat: 
Jl. Taman, Kraton, 
Yogyakarta 55133


Koordinat GPS: S7°48'36.4" E110°21'34.2"  

Jam Buka: Senin - Minggu, pukul 09.00 - 15.30 WIB

Tiket:
    * Wisatawan Domestik: Rp 3.000
    * Wisatawan Mancanegara: Rp 7.000
    * Guide: nego (Rp 10.000 - Rp 20.000)




Pulang Ke Kotamu (2)


Makan malam pertama di Jogja kali ini tujuannya ke Angkringan Nasi Kucing Lek Man. Berjalan kaki dari hotel, melalui Malioboro ke arah Stasiun Tugu. Setelah melewati rel kereta api, jalan lagi sedikit sampai ketemu belokan kiri pertama (bukan yang masuk ke stasiun), letaknya di sebelah kiri jalan, sekitar 20 meteran dari belokan tadi.

Di sini tersedia meja dan kursi untuk duduk, tapi bila ingin merasakan "the real Jogja" ada tempat lesehan pas di seberangnya. Nasi kucing dengan berbagai lauk gorengan tersedia menggoda selera. Bagi yang suka kopi, ada Kopi Joss yang merupakan kopi tubruk dicemplungin arang yang masih menyala. Katanya sih, enak. Tapi berhubung bukan penggemar kopi hitam, saya lewatkan menu unik yang satu ini.

Di angkringan Lek Man ini nasi kucing ada 2 pilihan: pedas dan tidak pedas. Yang pedas ada sambal kerang di dalamnya. 3pzh tentu memilih yang tidak pedas. Lauk berupa sate telur puyuh, baceman tempe, aneka gorengan bisa minta dipanaskan sama si mas yang melayani. Zi sampai nambah. Makan berlima plus minum 2 jeruk panas dan 2 teh manis panas tidak sampai Rp.30ribu.


Ingin rasanya mencoba tongseng asli Jogja, makanan favorit saya dan hubby. Tapi berhubung tidak tahu jalan dan ada pesan dari Pak Poniman agar hati-hati dengan "tongseng jamu" jadi tidak berani deh. Tongseng jamu adalah tongseng yang isinya daging anjing. Tidak disebut tongseng asu (bahasa jawanya anjing) karena kedengarannya kasar. Banyak dijual seputaran Jogja karena digemari bahkan oleh mereka yang muslim. Astaghfirullah.


Jalan kaki pulang ke hotel, kami menemukan penjual wedang ronde dan sate ayam di jalan Dagen. Zi yang sudah ribut kelaparan (lagi), minta dibungkuskan untuk dimakan di hotel. Sambil menunggu pesanan selesai, kami nongkrong menikmati wedang ronde yang ukuran rondenya nyaris sebesar bola golf. Tapi di foto tidak terlihat rondenya karena tertutup kolang-kaling, kacang goreng dan potongan roti yang hampir memenuhi mangkok. Untuk harga, mungkin karena jualannya dekat hotel, sama seperti di Jakarta. Wedang ronde Rp5ribu/mangkok dan sate ayam Rp10ribu/porsi.

Badan yang lelah setelah seharian jalan-jalan, ditambah dengan perut yang kenyang, menyempurnakan istirahat malam pertama di Jogja. Besok, masih ada Taman Sari, Keraton, dan Taman Pintar yang akan dijelajahi. Ikuti ceritanya di bagian ketiga yaaa ;)




Alamat:

Angkringan Lek Man
Jl wongsodirjan di sisi stasiun KA Tugu 
HP 081578487778

Pulang Ke Kotamu (1)





"...Pulang ke kotamu,
ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja..."

Lirik lagu Yogyakarta dari KLa Project ini selalu terngiang di telinga setiap kali kata Jogja atau Yogyakarta terucap. Kota yang masih memelihara warisan budaya leluhurnya ini memiliki penduduk yang ramah dan selalu berhasil membuat saya kangen walau bukan orang Jogja.

Ini adalah kunjungan kami yang kedua. Bedanya dengan yang pertama, kali ini naik pesawat dan sudah ada Za. Tiket pesawat, seperti biasa, dibeli saat ada promo Big Sale setahun lalu sehingga dapat yang 500ribu untuk berlima, PP. Seminggu sebelum berangkat baru tahu ternyata tanggal yang dipilih pas saatnya liburan UAN SD. Kebetulan yang menyenangkan, karena Zi tidak harus bolos sekolah.

Tiba di bandara Adi Sutjipto jam 7 pagi, kami sudah dijemput mobil sewaan yang dipesan melalui kenalan orang lokal disana. Untuk mobil Avanza (termasuk supir, diluar bensin) rate-nya 350ribu untuk 12 jam. Hari ini rencananya kami akan mengunjungi Borobudur, museum Ullen Sentalu, Kaliurang, markas Dagadu dan bakpia Merlino.

Sempat kaget waktu tahu tidak ada penjualan makanan di pesawat, kecuali yang sudah memesan via online booking. Hal ini dikarenakan waktu penerbangan yang sangat singkat. Akibatnya, gembel di perut sudah mulai protes saat jam 8 belum diisi. Kami pun mampir dulu di Soto Kadipiro Pito, cabang jalan Wates, untuk sarapan sebelum ke tujuan pertama.

Soto Kadipiro adalah rumah makan sederhana yang menyediakan soto ayam dan daging beserta makanan pendamping seperti ayam goreng, tahu bacem dan hati ampela. Semua makanan di situ patoet dipoejikeun rasanya, kecuali ayam gorengnya. Sotonya terasa gurih dan bacemannya enak-enak,tapi ayam gorengnya alot (mungkin karena ayam kampung jantan). Entah karena lapar atau memang beneran doyan, 3pzh terlihat lahap sekali menghabiskan makanan mereka. Untuk 5 nasi, 4 soto, 1 ayam, 3 tempe, 2 tahu, 1 kerupuk, 3 teh manis panas, dan 1 tape panas totalnya hanya 60ribu. Pas di lidah, pas di kantong lah pokoknya :D

Perjalanan pun dilanjutkan. Sepanjang perjalanan menuju Borobudur, di kanan kiri jalan tampak bekas aliran muntahan merapi di sungai-sungai di bawah jembatan. Pak supir yang bernama Poniman ini sangat ramah dan pandai bercerita. Beliau mengemudi sambil menceritakan peristiwa meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu lalu yang memakan banyak korban. Sementara itu Zi terlihat sibuk mengabadikan semuanya dengan kamera saku yang selalu tergantung di lehernya dan membuat catatan perjalanan di buku tulis yang selalu dibawanya di dalam "tas kerja" (istilah Zi untuk tas sagala aya-nya).

Pak Poniman menyarankan bila ingin ke Borobudur waktu yang tepat adalah sebelum jam 12 pagi. Kalau tidak, di atas candi nanti akan terasa panas sekali. Jadi sebaiknya siapkan topi dan payung untuk melindungi kepala dari teriknya matahari.

HTM (Harga Tiket Masuk) Borobudur adalah untuk dewasa @30rb dan anak2 @12.500 jadi untuk kami berlima total 103rb sudah termasuk mobil. Sebelum naik ke candi, pengunjung dewasa diwajibkan memakai kain batik dulu, tanpa dipungut biaya. Berbeda dengan tahun 2008 waktu pertama kali kami ke sana, sekarang ada kereta yang mengantarkan pengunjung sampai ke dekat candi dengan hanya membayar @5rb (dibawah 3 tahun gratis). Asyiknya, tiap tiket mendapatkan 1 botol air mineral gratis. Lumayaaan :)

Ada banyak penjual topi dan berbagai souvenir di kawasan wisata itu. Karena mengikuti saran Pak Poniman, kami tidak membeli apapun disitu. Katanya, bila kita membeli, maka akan diikuti oleh serombongan penjual yang menawarkan dagangannya dengan setengah memaksa. Gak nyaman banget kan? Jadi kami hanya menyewa payung seharga Rp5ribu untuk 2 payung karena lupa membawa topi untuk anak-anak.

Borobudur sekarang lebih teratur dan bersih dibandingkan 4 tahun lalu. Mungkin karena para penjual dilarang naik sampai ke pelataran candi. Banyaknya satpam yang patroli juga menambah rasa aman. Senang melihat tempat sampah di beberapa sudut candi. Semoga wisatawan mau membuang sampah pada tempatnya. Miris saat melihat relief dan stupa-stupa yang rusak, tapi syukurlah perbaikan sedang dalam proses.

Dari Borobudur, kami langsung meluncur ke Ullen Sentalu. Museum unik ini berada di daerah Kaliurang. Sayangnya, saya lupa peraturan museum yang selalu buka di hari Sabtu dan Minggu, tetapi tutup di hari Senin. Hadeeeh, kecewa banget rasanya. Padahal sudah sampai di depan pintunya :'(

Mengobati kekecewaan, mobil pun diarahkan ke kawasan wisata Merapi di Kaliurang. Melewati pemandangan yang sawah yang hijau dan udaranya yang sejuk, benar-benar bikin hati adem. Jendela mobil sengaja dibuka agar kami bisa merasakan sejuknya udara pegunungan.

Parkir di depan warung-warung yang menyediakan oleh-oleh dan makanan, mata saya mencari-cari sebuah warung rekomendasi dari TL-nya @arieparikesit, salah seorang member milis Jalan Sutra yang juga pemilik Kelana Rasa. Akhirnya saya menemukannya, Warung Mbah Carik.

Warung ini menyediakan makanan khas daerah Kaliurang, yaitu jadah tempe yang dimakan dengan cabe rawit. Perpaduan ketan putih (jadah) dengan tempe bacem yang rasanya antara gurih, manis dan pedas ini cukup enak dan mengenyangkan. Harganya pun sangat murah, hanya Rp.1.200/porsi (1jadah+1tempebacem). Selain itu juga tersedia wajik dan beberapa camilan lainnya. Wajiknya enak, tidak terlalu manis seperti rasa wajik pada umumnya. Harganya hanya Rp.400/potong. Cocok disantap sebagai teman minum teh atau kopi panas di udara dingin seperti saat itu.

Kawasan wisata kaliurang sebenarnya tidak hanya terbatas di pelataran parkir itu. Pengunjung bisa naik ke atas gunung, seperti yang dilakukan Zi seorang diri dengan hanya bermodalkan HT untuk berkomunikasi dengan kami. Zi the explorer berjalan-jalan sendiri (tapi diikuti oleh ayahnya dari jauh) sambil mengambil foto-foto hewan liar yang banyak terdapat di pepohonan sekitar situ, seperti monyet dan tupai.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Dagadu dan Bakpia Merlino untuk membeli oleh-oleh. Kalau anda naik becak di tengah kota, biasanya dengan hanya membayar Rp.10.000 sudah bisa keliling kota Jogja dan diantar ke toko oleh-oleh. Tapi hati-hati, biasanya anda akan diantar ke toko Dagadu palsu yang produknya overpriced (karena mereka harus memberikan tip pada tukang becak/andong yang mengantarkan wisatawan ke sana). Dagadu tidak memiliki cabang, tapi punya outlet di Malioboro mal. Diluar itu sudah dapat dipastikan, palsu.

Mendapat rekomendasi dari teman, saya berburu bakpia terenak (tapi tidak banyak yang tahu) yang lokasinya tidak jauh dari Dagadu. Bakpia Merlino, namanya. Menjual berbagai macam oleh-oleh khas Jogja, termasuk coklat Monggo. Sayang saat itu bakpia kejunya belum matang. Oleh penjaga tokonya disarankan untuk ke pusatnya saja. Meluncur lah kami ke sana untuk berburu bakpia keju idaman. Alhamdulillah, stok tersedia. Kalau disini, jangan lupa sekalian beli minuman secang instan. Semacam wedang berwarna merah, yang rasanya enak bila diminum hangat-hangat.

Jalan-jalan dan oleh-oleh sudah, sekarang waktunya check in hotel. Mencari hotel di Jogja tidaklah mudah. Kata Pak Poniman, sering penuh karena di Jogja banyak diadakan international events. Jadi harus book jauh-jauh hari. Go show sangat tidak disarankan. Saat ini ada 3 hotel bintang 5 yang sedang dalam tahap pembangunan untuk mengantisipasi kebutuhan akomodasi wisatawan Jogja.

Bagi kami yang memiliki 3 anak masih kecil-kecil dan tidak mungkin tidur terpisah, perlu triple room atau family room. Sayangnya kamar jenis ini susah di dapat di hotel-hotel tengah kota, biasanya banyak terdapat di cottage luar Jogja. Bermodalkan browsing akhirnya kami mendapatkan hotel dengan kriteria idaman: triple room, ada kolam renang, dan hanya 5 menit jalan kaki ke Malioboro. Hotel Petimas di Jalan Dagen.

Hotel kecil berlantai 2 yang asri dengan karyawannya yang ramah dan sangat membantu. Cocok sebagai hotel keluarga yang punya anak kecil. Untuk triple room rate-nya Rp.648ribu/malam. Harga kamar sudah termasuk snack sore (teh+camilan diantar ke kamar) dan sarapan untuk 2 orang di restorannya. Rasa makanannya pun enak, untuk nasi goreng dan mi gorengnya. Tapi untuk sarapan yang free (termasuk harga kamar), harus pesan dulu dari sore mau sarapan apa (pilihannya: buryam, nasgor dan migor). Pesannya ke petugas yang mengantarkan snack sore ke kamar.

Dari hotel jalan kaki ke Malioboro hanya 5 menit kurang. Strategis sekali. Dekat kemana-mana. Bahkan di mulut gang ada cabang Gudeg Yu Djum yang terkenal itu. Sekitar jalan Dagen sendiri ada minimart, atm Mandiri, pangkalan becak dan mobil charteran. Jajanan seperti sate ayam dan nasi kucing juga ada. Lingkungannya yang selalu ramai sampai larut malam, memberikan rasa aman untuk wisatawan yang harus pulang larut ke hotel.

Bagaimana kisah selanjutnya? Naik apa keliling Jogja? Ada apa di Taman Sari? Apa itu Taman Pintar? Ikuti terus kisah perjalanan kami di Jogja selanjutnya ;)




Alamat-alamat:

1.Soto Kadipiro Pito
Cabang Jalan Wates
Jl. Magelang KM 9,5
Mulungan, Sleman, Jogja

2.Borobudur
Magelang, Jawa Tengah
Koordinat GPS: S7°36'28.3" E110°12'13.5"

3.Museum Ullen Sentalu
Jl Boyong, Kaliurang
Telpon 0274-895161/880158


4.Dagadu
di Malioboro Mall, di Jalan Pakuningratan, dan di Ambarukmo Plaza. 

5.Bakpia Merlino
Jl RE Martadinata 24B, telpon 0274588036
Jl Panuningratan 55, telpon 0274562334
Buka jam 7-20

6.Coklat Monggo
*Mirota Batik Malioboro
Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 9 (Malioboro Selatan) Yogyakarta
*Hero Malioboro
Jl. Malioboro ( Malioboro Mall) Yogyakarta
*KF Malioboro
Jl Malioboro 21 

7.Hotel Petimas
Jl. Dagen 27
Yogyakarta
Telp. 0274-561938 - 513191
Fax. 0274-580188
www.yogyes.com/peti-mas
petimas@yahoo.com




I Have A Dream

Saya punya mimpi. Tidak disebut cita-cita, karena masih belum berani melangkah untuk mewujudkannya. Masih mimpi. Mimpi setinggi langit.

Awalnya karena saya gemas dengan banyaknya orang yang mengeluhkan tanggal tua lewat status di fb, bb atau TL. Padahal, saya kenal orang-orangnya, dan tahu banget kalau orang-orang itu pengunjung tetap mal, klinik kecantikan, salon, spa bahkan online shop. Artinya, dari sisi pendapatan, mereka berkecukupan. Tapi, mereka tidak atau belum bisa mengelolanya dengan baik. Buktinya, tiap akhir bulan selalu merasa tersiksa dengan isi dompet dan rekening tabungan yang nyaris nol.

Maaf kalau tersinggung, tapi menurut saya, banyak istri yang hanya berperan sebatas PGS (Penikmat Gaji Suami). Suami menjatahkan istrinya sebagian dari penghasilannya tiap bulan untuk kebutuhan rumah tangga. Sisanya dipegang suami. Hal seperti inilah yang mendorong para istri cenderung tidak mau tahu, kemana sisa penghasilan itu. Pokoknya saat perlu uang untuk beli sesuatu diluar jatahnya, tinggal minta suami. Sebaliknya suami merasa heran, kenapa uang belanja yang dijatahkan tidak pernah ada sisanya?

Pernah gak sih terpikir, bagaimana kalau si kepala keluarga tiba-tiba mengalami musibah? Sakit atau bahkan meninggal. Apa yang terjadi dengan istri dan anak-anaknya? Tenaaaang, ada asuransi jiwa (asji) dan asuransi pendidikan (aspen), mungkin begitu jawab anda. Yakin tenang? Memang berapa UP (Uang Pertanggungan)-nya? Aspend-nya cukup untuk biaya sekolah anak sampai kuliah? #mendadakhening

Believe or not, beberapa teman saya bahkan tidak tahu apakah suaminya punya asji atau tidak. Beberapa malah tidak tahu apakah suaminya sudah menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak mereka, atau belum. Terus terang, hal ini membuat saya sedih sekaligus geregetan mendengarnya. Mereka yang memiliki pola keuangan tertutup seperti ini di keluarganya, umumnya cenderung memiliki sistem komunikasi tertutup juga :(
Kalau Freddy Pielor bilang, dalam suatu pernikahan itu harus mau buka-bukaan. Buka hati, buka dompet dan buka celana (maaf). Arti ringkasnya, tidak boleh ada yang ditutupi dalam pernikahan. Kalau suami belum mempercayakan penghasilannya untuk dikelola istrinya, jangan ngambek dong, Jeung. Coba intropeksi diri dulu. Anda sudah pantas belum diangkat jadi mentri keuangan keluarga? Punya ilmunya? Bisa disiplin dan tidak boros? Apakah anda impulsive buyer?

Nah, rasa gemas dan geregetan saya tadi yang membuat saya punya mimpi ini. Mimpi ingin mengedukasi para ibu rumah tangga agar mereka melek finansial. Jadi tidak sekedar sebagai PGS, tapi juga bisa dipercaya sebagai mentri keuangan keluarga. Bersama suami, bekerja sama mengelola keuangan keluarga sehingga bisa mengantarkan anak-anak mewujudkan cita-citanya dan menikmati masa pensiun dengan nyaman.

Doakan ya, mimpi ini suatu saat akan terwujud. Belum bisa dimulai sekarang. Saya masih harus mendahulukan prioritas utama dulu, suami dan anak-anak. Insya Allah 2 tahun lagi, langkah pertama untuk mewujudkan mimpi ini akan saya mulai. Masih ada 2 tahun untuk menabung mengumpulkan dananya. Wish me luck! :)