Showing posts with label keuangan. Show all posts
Showing posts with label keuangan. Show all posts

Dana Darurat

Terkadang, dalam mengalokasikan dana yang ada, kita terlalu fokus pada pos-pos pemasukan, pengeluaran dan investasi. Padahal, ada pos penting yang tidak boleh dilupakan, yaitu Dana Darurat (DD).

Sesuai namanya, Dana Darurat adalah sejumlah dana yang kita simpan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat darurat. Misalnya: bila terkena PHK, DD ini diharapkan dapat menutupi kebutuhan hidup sampai mendapatkan pekerjaan yang baru. Atau bila terjadi kecelakaan atau mendadak harus dirawat di rumah sakit, DD ini dapat dipakai untuk membayar uang muka/deposit.

Karena untuk kebutuhan darurat, maka dalam penyimpanannya harus mengutamakan faktor kemudahan, kecepatan dan keamanan, bukan faktor return (hasil investasi). Disarankan untuk menyimpan DD dalam bentuk tabungan (dengan jaringan ATM yang luas), Deposito (cari yang bebas penalti), Reksadana Pasar Uang (RDPU) atau Emas LM.

Berapa jumlah DD yang ideal? Untuk 1 orang jumlahnya minimal 3 kali pengeluaran bulanan atau idealnya 3 bulan penghasilan. Sedangkan untuk lebih dari 2 orang, minimal 12 kali pengeluaran bulanan atau idealnya 12 kali penghasilan. Pada prakteknya, jarang ada yang sanggup memenuhi jumlah ideal ini.

Pisahkan DD dari dana investasi dan tabungan jangka pendek. Teorinya, sebelum mulai berinvestasi, sebaiknya kita sudah memiliki DD minimal 3 kali pengeluaran/penghasilan. Kenapa? Agar bila yang terburuk terjadi, investasi dan keuangan kita tidak terpengaruh. Tapi kalau harus menunggu DD terkumpul dulu baru mulai investasi, sayang waktu yang terbuang.

Kembali isi pos DD ini segera setelah digunakan, agar terhindar dari hutang. Kartu kredit bisa saja digunakan untuk keadaan darurat, tetapi harus segera dilunasi karena bunganya yang sangat tinggi.

Kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang. Sebaiknya siapkan DD sebelum anda membutuhkannya. Sisihkan penghasilan anda untuk pos Dana Darurat dari sekarang. Sedia payung sebelum hujan.


Diambil dari: http://bit.ly/rCjd0i

I Have A Dream

Saya punya mimpi. Tidak disebut cita-cita, karena masih belum berani melangkah untuk mewujudkannya. Masih mimpi. Mimpi setinggi langit.

Awalnya karena saya gemas dengan banyaknya orang yang mengeluhkan tanggal tua lewat status di fb, bb atau TL. Padahal, saya kenal orang-orangnya, dan tahu banget kalau orang-orang itu pengunjung tetap mal, klinik kecantikan, salon, spa bahkan online shop. Artinya, dari sisi pendapatan, mereka berkecukupan. Tapi, mereka tidak atau belum bisa mengelolanya dengan baik. Buktinya, tiap akhir bulan selalu merasa tersiksa dengan isi dompet dan rekening tabungan yang nyaris nol.

Maaf kalau tersinggung, tapi menurut saya, banyak istri yang hanya berperan sebatas PGS (Penikmat Gaji Suami). Suami menjatahkan istrinya sebagian dari penghasilannya tiap bulan untuk kebutuhan rumah tangga. Sisanya dipegang suami. Hal seperti inilah yang mendorong para istri cenderung tidak mau tahu, kemana sisa penghasilan itu. Pokoknya saat perlu uang untuk beli sesuatu diluar jatahnya, tinggal minta suami. Sebaliknya suami merasa heran, kenapa uang belanja yang dijatahkan tidak pernah ada sisanya?

Pernah gak sih terpikir, bagaimana kalau si kepala keluarga tiba-tiba mengalami musibah? Sakit atau bahkan meninggal. Apa yang terjadi dengan istri dan anak-anaknya? Tenaaaang, ada asuransi jiwa (asji) dan asuransi pendidikan (aspen), mungkin begitu jawab anda. Yakin tenang? Memang berapa UP (Uang Pertanggungan)-nya? Aspend-nya cukup untuk biaya sekolah anak sampai kuliah? #mendadakhening

Believe or not, beberapa teman saya bahkan tidak tahu apakah suaminya punya asji atau tidak. Beberapa malah tidak tahu apakah suaminya sudah menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak mereka, atau belum. Terus terang, hal ini membuat saya sedih sekaligus geregetan mendengarnya. Mereka yang memiliki pola keuangan tertutup seperti ini di keluarganya, umumnya cenderung memiliki sistem komunikasi tertutup juga :(
Kalau Freddy Pielor bilang, dalam suatu pernikahan itu harus mau buka-bukaan. Buka hati, buka dompet dan buka celana (maaf). Arti ringkasnya, tidak boleh ada yang ditutupi dalam pernikahan. Kalau suami belum mempercayakan penghasilannya untuk dikelola istrinya, jangan ngambek dong, Jeung. Coba intropeksi diri dulu. Anda sudah pantas belum diangkat jadi mentri keuangan keluarga? Punya ilmunya? Bisa disiplin dan tidak boros? Apakah anda impulsive buyer?

Nah, rasa gemas dan geregetan saya tadi yang membuat saya punya mimpi ini. Mimpi ingin mengedukasi para ibu rumah tangga agar mereka melek finansial. Jadi tidak sekedar sebagai PGS, tapi juga bisa dipercaya sebagai mentri keuangan keluarga. Bersama suami, bekerja sama mengelola keuangan keluarga sehingga bisa mengantarkan anak-anak mewujudkan cita-citanya dan menikmati masa pensiun dengan nyaman.

Doakan ya, mimpi ini suatu saat akan terwujud. Belum bisa dimulai sekarang. Saya masih harus mendahulukan prioritas utama dulu, suami dan anak-anak. Insya Allah 2 tahun lagi, langkah pertama untuk mewujudkan mimpi ini akan saya mulai. Masih ada 2 tahun untuk menabung mengumpulkan dananya. Wish me luck! :)