Showing posts with label investasi. Show all posts
Showing posts with label investasi. Show all posts

Wanita Bisa Investasi




Wanita sekarang konsumtif sekali ya? Sekali belanja baju bisa ratusan ribu. Ya buat diri sendiri, ya buat anak juga. Tidak hanya di mal atau ITC, tapi juga di onlineshop.

Herannya, mereka yang konsumtif ini banyak yang tidak bekerja alias ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan. Uang bulanan pun dijatah oleh suami. Tapi kok bisa-bisanya belanja seperti uangnya tidak bernomor seri gitu?

Hasil pengamatan ke beberapa orang yang ada di sekitar saya, justru sistem "dijatahin" itu yang jadi penyebab utamanya. Loh kok bisa? Kan sudah dibatasi suami?! Eiits, jangan protes dulu. Coba deh tanya ke teman atau diri sendiri, kalau namanya "jatah" itu artinya boleh dihabiskan tidak? Nah, karena hanya "dijatah" bukan diminta mengelola keuangan keluarga, maka para IRT (Ibu Rumah Tangga) itu cenderung selalu menghabiskan jatahnya.

Seandainya saja mereka dikasih kesempatan untuk mengelola penghasilan suami, mungkin akhirnya justru akan belajar untuk lebih bijak membelanjakannya. Mengalokasikan penghasilan suami untuk semua kebutuhan rumah tangga yang ada itu susah-susah gampang.

Biasanya, pelunasan tagihan rutin jadi prioritas utama dan kemudian diikuti oleh kebutuhan konsumsi. Sedangkan menabung atau investasi tidak menjadi prioritas. Hanya bila ada sisanya. Kalau tidak ada sisa? Ya habis begitu saja gaji sebulan :(

Pernah tidak anda memikirkan, berapa pengeluaran sebulan untuk ke mal? Kalau dalam sebulan 2 kali ke mal, bisa habis minimal Rp.200.000/kunjungan, berarti sebulan habis Rp.400.000. Betul? Itu baru sebulan 2 kali. Bagaimana dengan yang tiap akhir pekan ke mal? Tinggal dikalikan 4 deh. Banyak yaaaa?

Padahal, bila kunjungan ke mal dikurangi menjadi 1 kali saja sebulan, dan uang yang Rp.200.000 tadi di investasikan ke reksadana saham (setiap bulan) yang memberikan hasil rata-rata 25% per tahun, maka 18 tahun kemudian jumlahnya menjadi 800juta lebih!

Sementara bila dibelanjakan, uang 200ribu tadi jadi apa? Makanan? 18 tahun kemudian sudah tidak berbekas. Baju? 18 tahun kemudian sudah usang. Benar tidak?

Tapi saya gak ngerti reksadana, banyak yang beralasan seperti itu. Ok, masih banyak cara lain untuk investasi. Salah satunya dengan emas. Investasi emas itu tidak perlu pakai mikir panjang. Beli saat ada uang, simpan, dan jual/gadai saat butuh uang. Tidak perlu melototin grafik setiap saat. Gampang sekali. Gak pakai ribet!

Penghasilan saya pas-pasan. Gak cukup untuk beli emas. Kan bisa menyicil melalui program nabung emas? Atau bisa juga melalui arisan emas. Daripada arisan uang, yang akhirnya habis tidak jelas untuk apa. Kalau dapat arisan emas, dijamin deh pasti merasa sayang untuk menjual Logam Mulia (LM)-nya. Menjual LM tidak semudah menggesek kartu debit atau mengambil ke ATM. Jadi godaannya lebih sedikit.

Tidak sulit untuk menyisihkan penghasilan demi berinvestasi. Anda pasti bisa! Yang penting, jauhkan sifat konsumtif. Bukan berarti harus hidup pelit. Hanya habiskan seperlunya, simpan sebanyak-banyaknya :D *mintadikeplak*

Seriously. Cara mudahnya, tentukan tujuan investasinya dulu. Jadikan itu sebagai motivasi. Misalnya tujuan investasi anda untuk uang sekolah anak. Pasti mau kan, melihat anak bisa sekolah di tempat yang terbaik sesuai dengan bakat dan minatnya? Atau saat pensiun nanti, tentunya anda ingin tetap bisa menikmati hidup dan mandiri, tidak merepotkan anak-anak kan?

Nah, sekarang, anda tinggal pilih: mau sekarang foya-foya nanti tua merana? Atau sekarang berinvestasi nanti tua bisa mandiri? >:)















Bisa Karena Biasa




Sudah beberapa bulan ini Zi mengumpulkan sisa uang makan siangnya untuk membeli dirham. Kalau ditanya untuk apa, Investasi! jawabnya. Kenapa dirham? Karena kalau emas atau dinar, tidak terjangkau oleh kantongnya. Inginnya sih beli saham atau reksadana, kata Zi. Sayang belum punya KTP dan NPWP :)))

Berhubung tidak diberikan uang jajan (Zi menolak, alasannya sudah membawa bekal dari rumah), hanya mendapat uang makan siang serta ditambah uang bulanan 50ribu, Zi hanya mampu membeli 1 dirham setiap 2 bulan. Setelah membongkar celengan di hari ulang tahunnya kemarin dan dibelikan dirham, sekarang total dirhamnya ada 6 koin atau bila dirupiahkan sekitar 400ribuan.

Zi mulai diberikan uang saku (dalam hal ini uang makan siang) sejak kelas 3 SD. Jumlahnya tidak berubah sampai sekarang. Sepuluh ribu rupiah saja. Baru setelah kelas 4 SD, Zi berhak mendapat uang bulanan sebesar 50ribu. Karena memang tidak dibiasakan, Zi tidak suka jajan. Membawa bekal roti dan air mineral dari rumah plus makanan dan minuman ringan tambahan bila ada ekskul di sekolah, sudah cukup baginya.

Keingintahuannya yang besar membuat Zi selalu pasang kuping bila kami, orangtuanya, berdiskusi. Termasuk saat mendiskusikan masalah keuangan. Saat itulah Zi mengenal istilah-istilah seperti investasi, reksadana, saham, logam mulia, dan sebagainya. Penasaran, Zi tidak sekedar nguping. Ikut nimbrung dan bertanya dari A-Z lalu ke A lagi, sering dilakukannya. Jadi jangan heran bila Zi sudah cukup fasih berbicara tentang investasi di usianya yang ke 11 ini.

Kok bisa, anak kelas 5 SD sudah mengerti investasi? Bisa saja, kan bisa karena biasa. Awalnya melihat, lalu mendengar, akhirnya meniru. Dengan menyediakan berbagai macam bacaan dan permainan, kami ingin mengakomodir rasa ingin tahu anak tanpa bermaksud mengarahkannya ke bidang tertentu.

Dari semua simulasi yang diberikan ke anak, pada akhirnya contoh yang dilihatnya sehari-harilah yang akan menempel di otaknya. Biar mulut sudah berbusa mengajarkan tentang hidup hemat, anak sulit menerapkannya bila orangtuanya sendiri boros. Demikian juga halnya dengan menabung dan berinvestasi. Anak meniru contoh yang diberikan oleh orangtuanya. Bisa karena biasa, kan? ;)



Penawaran Investasi Emas



Sejak jadi sentra penjualan emas dan no PIN diiklanin oleh supplier kemana-mana, banyak yang add. Selain teman bertambah dan network meluas, banyak juga penawaran yang saya dapatkan. Diantaranya, penawaran investasi emas.

Salah satu dari penawaran itu datang dari PT A di Jakarta, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jual beli emas sejak lebih dari 30 tahun lalu. Toko emasnya memiliki reputasi baik, info dari milis keuangan yang saya ikuti. Kalau dulu mereka memiliki produk pool account, sekarang mereka menawarkan investasi emas dalam bentuk lain.

Untuk berinvestasi, investor harus membeli emas dengan harga 30% di atas harga spot dan membuat kontrak minimal setahun. Sebagai imbalannya, investor menerima hasil investasi yang dibayar dimuka sebesar 10%, emas dengan ukuran sesuai yang dibayarkan dan jaminan pembelian kembali di harga yang sama. Jaminan ini maksudnya bila sampai akhir masa kontrak harga emas ternyata lebih rendah dari harga saat beli, maka investor dapat menjualnya kembali ke PT A seharga saat membelinya. Tapi bila ternyata lebih tinggi, investor bebas apakah ingin menjualnya/tidak.

Ilustrasinya begini: bila hari ini harga spot emas adalah Rp.500.000/gram, maka bila saya ingin berinvestasi harga yang harus dibayar adalah Rp.650.000/gram (30% diatas harga spot). Karena ingin berinvestasi senilai 100 gram emas, saya membayar ke PT A sebesar Rp65.000.000 (100gr x Rp650.000/gram). PT A kemudian akan memberikan 100 gram emas ditambah uang kontan Rp6.500.000 (10% dari Rp65juta) kepada saya sebagai bagi hasil yang dibayar dimuka.

Lalu dibuat kontrak kerjasama setahun di hadapan notaris, yang bila dilanggar (misalnya saya ingin menjual emas saya sebelum masa kontrak habis) maka saya harus mengembalikan emas yang 100 gram plus Rp6,5juta dan membayar denda sesuai yang telah ditetapkan dalam kontrak. Uang yang investasikan dikembalikan setelah dikurangi denda dan diberlakukan harga beli (buyback price) hari itu, saat kontrak dibatalkan.

Kedengarannya menguntungkan ya? Resikonya kecil, kan imbal hasilnya dibayar dimuka. Itu yang sedetik pertama terlintas di otak saya. Tapi saya segera sadar, keuntungan 10% yang dibayar dimuka itu sebenarnya adalah bagian dari 30% dari harga emas yang saya bayarkan. Jadi saya memberikan 20% ke PT X secara cuma-cuma. Enak bener yah? Cuma modal cuap-cuap mereka dapat modal gratis 20% dari para investornya. Ckckckck (ˇ_ˇ'!l)

Kalau memang mau investasi, untuk apa repot-repot pakai perjanjian notaris segala? Dengan uang Rp65juta saya bisa langsung membeli sekitar 130gram emas. Untuk apa bayar lebih mahal tapi malah dapat lebih sedikit?!

Bagi saya pribadi, investasi emas tidak untuk mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Saya membelinya untuk melindungi nilai harta yang kami miliki. Misalnya saat hubby dapat bonus dari kantor, uangnya langsung saya belikan emas bila memang tujuannya untuk uang sekolah anak-anak yang baru akan dipakai minimal setahun lagi. Kalau tidak segera diinvestasikan, pasti uang itu tidak akan bersisa akhirnya. Apalagi kalau hanya disimpan di rekening bank, sedikit-sedikit diambil melalui ATM. Habis deeeeeh.

Kenapa tidak deposito? Karena deposito itu hasilnya cuma 6%, dipotong pajak 20% dan buktinya hanya selembar kertas. Sedangkan bila dibelikan emas, hasilnya rata-rata bisa mengalahkan inflasi, tidak bayar pajak (tapi ada zakatnya) dan yang terpenting, saya pegang fisik emasnya tidak hanya selembar kertas.

Tapi jangan salah, emas bukan satu-satunya bentuk investasi yang kami jalankan saat ini. Kenapa? Karena kita tidak disarankan meletakkan semua telur di satu keranjang. Diversifikasi. Sudah sering ya saya bahas tentang diversifikasi disini. Intinya, semua instrumen investasi itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk masing-masing tujuan keuangan dan profil resiko, beda-beda instrumen investasinya.

Dengan semakin banyaknya penawaran investasi, calon investor harus semakin teliti dan bijak dalam memilih. Sebelum terlena dengan imbal hasil selangit yang dijanjikan, sebaiknya cari info sebanyak-banyaknya sebelum mengambil keputusan. Rajin-rajin googling, search di twitter atau gabung ke milis-milis keuangan. Jangan gampang percaya, walaupun yang menawarkan adalah orang yang telah lama anda kenal.



Investasi Bodong



Investasi bodong alias investasi bohongan sudah banyak memakan korban. Dari rakyat biasa sampai artis dan pejabat, banyak yang terperdaya. Masih ingat kan kasus penipuan investasi QSAR, Add Farm, TVI express atau Speedline? Kasus terkini adalah Koperasi Langit Biru dan investasi di bursa berjangka yang menawarkan saham preferen atas pertambangan-pertambangan emas di luar negeri.

Kenapa pemerintah tidak melakukan pengawasan terhadap penipuan model begini padahal sudah banyak korban? Sebenarnya, bukan salah pemerintah juga. Rakyatnya saja yang kurang rajin mencari informasi sebelum berinvestasi. Padahal di internet, semua informasi bisa di dapat dengan mudah. Jangan karena yang menawarkan investasi ini adalah teman/kerabat yang sudah dikenal lama, langsung percaya begitu saja.

Berikut ini ciri-ciri investasi bodong: 
1. Tidak tercatat
Usaha yang tidak sah, tidak tercatat di badan-badan pengawas investasi pemerintah diantaranya BAPEPAM-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) dan BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi). Untuk itu, sebelum memutuskan untuk berinvestasi di suatu usaha, masyarakat diharapkan untuk mengecek dulu apakah usaha tersebut sudah terdaftar di lembaga-lembaga yang berwenang.

2. Berkantor pusat atau menjalankan usaha di luar negeri
Usaha yang memiliki kantor pusat atau usaha yang dijalankan diluar Indonesia tentu saja menyulitkan bagi member-nya untuk mengecek keberadaannya. Beberapa bahkan setelah ditelusuri hanya berupa virtual office.  

3. Menggunakan skema Ponzi
Rata-rata penipuan investasi itu menggunakan skema Ponzi. PONZI adalah mekanisme money game piramida, dimana member lama mendapat keuntungan dari setoran member baru. Tidak ada kegiatan bisnis riil di situ. Terkadang, kalaupun ada barang yang diperjualbelikan, harganya sangat mahal bila dibandingkan barang sejenis di pasaran.

4. Mengklaim usaha syariah tetapi tidak syar'i
Kejanggalan lainnya adalah menggunakan embel-embel "syariah" tetapi tidak menjalankan usaha yang sesuai dengan syari'at Islam, misalnya memberikan riba. Dikategorikan riba karena memberikan iming-iming hasil yang pasti dari usaha yang tidak pasti hasilnya.

5. Menjanjikan laba yang sangat tinggi
Satu hal yang paling mencolok dari investasi bohongan ini adalah hasil yang dijanjikan sangat fantastis. Rata-rata keuntungan suatu investasi yang wajar adalah sekitar 20%-30% per tahun. Tapi investasi bohongan memberikan janji keuntungan berkali-kali lipat PER BULAN. Logikanya, kalau memang benar investasi tersebut menghasilkan sedemikian besarnya, maka dalam waktu singkat harusnya akan lahir banyak OKB (Orang Kaya Baru) dimana-mana.

Perlu diingat, usaha yang berkantor pusat diluar negeri tidak selalu berarti penipuan. Ada banyak juga MLM dari luar yang memang menjalankan bisnis riil dan anggotanya mendapat keuntungan dari hasil penjualan produknya.

Intinya, jadilah smart investor. Pahami dulu penawaran investasinya, periksa legalitasnya dan cari informasi sebanyak mungkin sebelum memutuskan untuk berinvestasi disitu. Saat ada penawaran investasi, segera waspada bila usaha yang ditawarkan memiliki ciri-ciri seperti tersebut diatas. Remember, when it's too good to be true, then IT IS TOO GOOD TO BE TRUE! Totally hoax! Stay away from it!



Investasi Dimana?



Sudah siap investasi, tapi masih bingung mau investasi dimana? Sebelum memutuskan, coba tetapkan dulu apa tujuan investasinya. Buat yang spesifik ya, agar bisa diukur jangka waktunya. Misalnya: liburan keluarga 1 tahun lagi, uang masuk sekolah anak 4 tahun lagi, atau dana pensiun 18 tahun lagi.

Dari jangka waktunya, investasi bisa dibagi 3: jangka pendek (sampai dengan 3 tahun), jangka menengah (3 s/d 5 tahun) dan jangka panjang (di atas 5 tahun). Untuk masing-masing jangka waktu itu gunakan instrumen investasi yang berbeda.

Untuk tujuan jangka pendek, bisa berinvestasi di deposito, ORI, emas, Reksadana Pasar Uang (RDPU) atau Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT). Kalau untuk tujuan jangka menengah bisa berinvestasi di Reksadana Campuran (RDC) atau emas. Sedangkan untuk tujuan jangka panjang bisa berinvestasi di saham, Reksadana Saham (RDS), emas, bisnis real atau properti.

Jangan lupa, pemilihan instrumen investasi ini juga tergantung pada profil resiko investor. Bila anda termasuk yang takut resiko, mau nyari aman walau return/imbal hasil yang didapat rendah berarti anda tipe investor konvensional. Berani mengambil resiko, tetapi yang tingkat resikonya tidak terlalu tinggi dengan mengharapkan return yang sedang-sedang saja, artinya anda termasuk tipe moderat. Terakhir, bila anda berani mengambil resiko (biasanya karena masih muda atau belum punya tanggungan) dan mengharapkan return yang tinggi, maka anda termasuk tipe agresif.

Tipe investor konvensional lebih memilih berinvestasi di deposito atau emas daripada reksadana. Reksadana lebih dipilih si moderat dalam berinvestasi, daripada saham. Sebaliknya, si agresif lebih suka berinvestasi di saham langsung atau berbisnis daripada membeli reksadana atau emas.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sebelum memutuskan mau investasi apa atau dimana, tentukan dulu tujuan yang spesifik, jangka waktunya dan profil resiko anda sebagai investor agar dapat memilih instrumen investasi yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal.




Menabung vs Investasi



Tidak semua orang paham tentang investasi. Sebagian orang memandang yang namanya investasi itu hal yang rumit. Lebih gampang menabung di bank atau paling top nya deposito. Tanpa perlu mikir panjang, simpan uangnya, trus tiap bulan ada hasilnya. Kita tidak menyadari sebenarnya nilai uang kita bukannya bertambah, justru berkurang karena termakan inflasi.

Jadi bagaimana agar nilai uang yang kita miliki dapat terus bertambah? Investasi jawabannya. Mau tahu lebih lanjut tentang investasi? Baca terus ya, dan temukan jawabannya.

Investasi adalah cara mengembangkan dana yang dimiliki sekarang, untuk mencapai tujuan keuangan masa depan, dengan memakai berbagai instrumen/produk investasi.

Kenapa kita perlu berinvestasi? Karena daya beli uang kita akan semakin turun dari hari ke hari. Contohnya: punya uang 10juta ditabung di bank dengan suku bunga 2% per tahun dan tingkat inflasi 13% per tahun maka dalam 10 tahun nilai uang kita akan menjadi sekitar 3,6juta. Artinya, bila sekarang dengan 10juta kita bisa membayar uang pangkal TK, maka 10 tahun lagi uang kita yang 3,6juta itu sudah tidak cukup untuk membayar di sekolah yang sama.

Siapkan lebih dahulu dana darurat (minimal sudah ada sebagian dari kuota yang ditargetkan) dan asuransi sebelum berinvestasi. Investasi untuk jangka panjang mengandung resiko hasil yang naik turun. Dana darurat dan asuransi dapat menutupi kebutuhan dana jangka pendek saat investasi kita belum maksimal hasilnya.

Jangan menunda untuk berinvestasi, karena waktu adalah salah satu faktor terpenting yang menentukan besar kecilnya hasil investasi kita. Tanpa adanya waktu yang cukup, investasi kita tidak bisa berkembang maksimal.

Tidak bisa dipungkiri, salah satu cara untuk menjadi cepat kaya adalah berinvestasi. Tetapi jangan berinvestasi bila Anda belum paham benar, cara kerja investasi tersebut. Besar kecilnya investasi dan hasilnya ditentukan oleh nominal yang diinvestasikan, imbal hasil (return), seberapa sering berinvestasi, dan berapa lama jangka waktunya.

Menurut Robert T. Kiyosaki: "Berinvestasilah dalam diri Anda terlebih dahulu, sebelum berinvestasi memakai uang Anda" Maksudnya, sebaiknya anda menginvestasikan waktu anda dulu untuk belajar sebelum menginvestasikan uang anda. Lebih baik mana, rugi waktu atau rugi uang? ;)

Berinvestasi pada produk apa, itu semua tergantung pada karakteristik seseorang dan tingkat ketahanannya dalam menanggung resiko. Setiap orang bisa berbeda pilihannya. Tapi selalu lakukan diversifikasi produk. Diversifikasi adalah menyebar investasi kita kedalam beberapa produk investasi sebagai upaya menurunkan resiko. Jadi disaat 1 produk investasi kita merugi, masih ada produk yang lainnya untuk dijadikan sandaran.

Dalam investasi berlaku hukum "Low Risk Low Return, High Risk High Return". Hindari penawaran investasi dengan iming-iming modal dengkul hasil selangit. Penawaran yang tidak masuk akal lebih baik abaikan saja. Biasanya itu hoax. Selalu lakukan cek dan re-check sebelum menginvestasikan uang anda bila tidak mau tertipu.

Tidak ada investasi tanpa resiko. Semua ada resiko. Pilih produk investasi yang tingkat resikonya sesuai dengan profil investor anda (konvensional, moderat atau agresif). Bila ingin investasi yang memberikan hasil yang tinggi, harus siap juga dengan resiko yang tinggi. Tetapi, resiko terbesar dari investasi adalah bila anda TIDAK berinvestasi.

Bagaimana, sudah siap untuk mulai berinvestasi?




Dana Darurat

Terkadang, dalam mengalokasikan dana yang ada, kita terlalu fokus pada pos-pos pemasukan, pengeluaran dan investasi. Padahal, ada pos penting yang tidak boleh dilupakan, yaitu Dana Darurat (DD).

Sesuai namanya, Dana Darurat adalah sejumlah dana yang kita simpan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat darurat. Misalnya: bila terkena PHK, DD ini diharapkan dapat menutupi kebutuhan hidup sampai mendapatkan pekerjaan yang baru. Atau bila terjadi kecelakaan atau mendadak harus dirawat di rumah sakit, DD ini dapat dipakai untuk membayar uang muka/deposit.

Karena untuk kebutuhan darurat, maka dalam penyimpanannya harus mengutamakan faktor kemudahan, kecepatan dan keamanan, bukan faktor return (hasil investasi). Disarankan untuk menyimpan DD dalam bentuk tabungan (dengan jaringan ATM yang luas), Deposito (cari yang bebas penalti), Reksadana Pasar Uang (RDPU) atau Emas LM.

Berapa jumlah DD yang ideal? Untuk 1 orang jumlahnya minimal 3 kali pengeluaran bulanan atau idealnya 3 bulan penghasilan. Sedangkan untuk lebih dari 2 orang, minimal 12 kali pengeluaran bulanan atau idealnya 12 kali penghasilan. Pada prakteknya, jarang ada yang sanggup memenuhi jumlah ideal ini.

Pisahkan DD dari dana investasi dan tabungan jangka pendek. Teorinya, sebelum mulai berinvestasi, sebaiknya kita sudah memiliki DD minimal 3 kali pengeluaran/penghasilan. Kenapa? Agar bila yang terburuk terjadi, investasi dan keuangan kita tidak terpengaruh. Tapi kalau harus menunggu DD terkumpul dulu baru mulai investasi, sayang waktu yang terbuang.

Kembali isi pos DD ini segera setelah digunakan, agar terhindar dari hutang. Kartu kredit bisa saja digunakan untuk keadaan darurat, tetapi harus segera dilunasi karena bunganya yang sangat tinggi.

Kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang. Sebaiknya siapkan DD sebelum anda membutuhkannya. Sisihkan penghasilan anda untuk pos Dana Darurat dari sekarang. Sedia payung sebelum hujan.


Diambil dari: http://bit.ly/rCjd0i

Jangan Menabung!

Di awal tahun, banyak yang bikin resolusi. Penting gak sih bikin resolusi itu? Bagi saya, resolusi itu semacam proposal hidup. Suatu perencanaan hidup kita selama setahun ke depan tentang what, when, where and how dari rencana yang ingin diwujudkan.


Resolusi ini mencakup resolusi pribadi, keluarga dan karir. Dalam resolusi itu juga termasuk resolusi yang ada hubungannya dengan keuangan, loh. Seperti ganti mobil, perbaikan rumah, anak masuk SD, berlibur dsb. Kalau resolusi sudah ditetapkan, mulailah menyusun kalender financial. Yang sudah pasti waktunya (misalnya liburan ditetapkan akhir tahun), bisa langsung dimasukkan ke kalender. Di kalender ini, buat jadwal kapan keuangan plus, kapan minus. Plus adalah saat ada penerimaan/pemasukan, seperti bonus, insentif, komisi dll. Minus adalah saat harus membayar kewajiban/pengeluaran, seperti asuransi, cicilan, biaya liburan dsb.

Bagaimana mewujudkan resolusi keuangan itu? Jangan menabung! Haiiiiss jangan protes dulu dong :) Jangan menabung, karena suku bunga tabungan tidak bisa mengalahkan inflasi. Memang sih, untuk tujuan-tujuan kecil dan jangka pendek, menabung masih bisa dilakukan. Tapi untuk tujuan yang baru akan direalisasikan minimal setahun lagi dan nominalnya di atas 1 juta, ada cara lain yang lebih tepat agar uang yang kita simpan nilainya tidak terus merosot, yaitu dengan berinvestasi. Jenis-jenis investasi adalah high return high risk, medium return medium risk, dan low return low risk. Rasanya tidak ada investasi yang high return low risk ya? ;)

Kalau anda tipe investor yang moderat (menginginkan hasil yang lumayan dengan resiko tidak terlalu tinggi), pilih reksadana dan emas sebagai keranjang investasi. Untuk tujuan keuangan diatas 10 tahun (seperti uang kuliah anak, dana pensiun) masukkan ke reksadana saham. Untuk tujuan keuangan 5-10th, dimasukkan ke reksadana campuran. Kenapa reksadana, bukan beli saham langsung? Reksadana dipilih bila anda memiliki keterbatasan dana (karena instrumen investasinya bisa dibeli secara kolektif), waktu (karena sudah ada manajer investasi yang mengelolanya, kita tidak perlu memantau pergerakan bursa sepanjang waktu) dan pengetahuan (kan tidak semua orang paham cara memilih saham yang baik atau kapan saat menentukan posisi sell/buy/hold yang tepat).

Untuk tujuan keuangan jangka pendek, menengah dan panjang, pilih berinvestasi di emas. Emas lebih likuid dan terbukti mengalahkan inflasi. Likuid karena bisa dijual kapan saja dengan segera. Investasikan dalam emas Logam Mulia (LM), emas kadar 99,999% berbentuk kepingan mulai dari 1gr sampai batangan 1kgan. Jangan membeli emas perhiasan untuk investasi, kecuali anda senang memakainya. Emas perhiasan lebih mahal belinya karena termasuk ongkos pembuatan, tapi nilainya bila dijual kembali atau digadaikan, lebih rendah dari emas LM.

Harga emas terus naik (th 2001 harga emas Rp100rb/gr sekarang th 2011 sudah hampir Rp400rb/gr). Kenaikan harga emas sekitar minimal 20% (pesimis) per tahun. Bandingkan dengan kalau anda menabung dalam rupiah yang bunganya hanya 3-5%, atau dalam deposito yang bunganya hanya 5-7% p.a. apakah bisa mengalahkan inflasi yang rata-rata pertahunnya minimal 10%? Namun demikian, tidak disarankan untuk berinvestasi hanya di emas saja. Ingat, don't put all of your eggs in one basket!

Investasi di reksadana dan emas, tidak harus punya modal besar. Seperti yang pernah saya bahas di bulan April 2010, sekarang di beberapa bank sudah ada sistem cicilan untuk membeli reksadana. Dengan setoran awal 500rb dan cicilan perbulan 100rb, sudah bisa punya reksadana saham. Sedangkan untuk yang reksadana campuran setoran awalnya 1jt dan cicilan perbulan 500rb. Begitu juga dengan emas. Beli saja kepingan ukuran kecil kalau uangnya pas-pasan. Tapi saat ada dana yang cukup, kenapa tidak beli sekalian yang besar? ;) IMO, untuk investasi sebaiknya beli emas mulai dari ukuran 5-100gr saja. Selain lebih mudah dijual, harganya akan semakin murah bila membeli yang ukuran besar.

Saat perlu uang dengan cepat, tapi bonus yang dinanti masih 4 bulan lagi baru masuk rekening? Gadaikan emasnya! Nilai gadai emas hingga 90%nya tapi ada biaya penitipannya. Bonus diterima, emas ditebus dan biaya penitipan dibayarkan. Bandingkan bila emas itu kita jual. Saat bonus ditangan, harga emas mungkin sudah melambung sehingga kalaupun dibelikan emas lagi, pasti tidak bisa sebanyak yang kita jual dulu.

Kesimpulannya, jangan menabung, berinvestasilah! :)







PS:
Untuk harga emas LM cek di sini www.logammulia.com

atau di http://beliemasyuk.blogspot.com
Untuk NAB reksadana cek di www.infovesta.com




Kenapa Tidak Unitlink?





Mau curhat sedikit, nih. Laptop lagi rusak. Belum ada kesempatan untuk membawanya ke tempat service. Terpaksa kali ini posting via blackberry. Jadi, maaf ya pembaca, kalau postingan kali ini dibacanya kurang enak, karena saya bingung ngeditnya (maklum gaptek *_O ).


Karena laptop yang rusak jugalah maka saya jadi rajin buka twitter. Fb untuk sementara dicuekin dulu, karena terlalu menyakitkan melihat newsfeed tentang farmville (lebay.com). Di twitter inilah saya menjadi pengikut beberapa financial planner (FP), karena finance/keuangan merupakan salah satu bidang, selain psikologi, yang saya minati. Setelah menjadi pengikut/follower mereka, kesimpulan saya adalah mereka TIDAK MEREKOMENDASIKAN untuk membeli unitlink atau asuransi. Kenapa?


Salah satu alat yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan finansial adalah investasi. Dalam berinvestasi, pastinya kita menginginkan produk investasi yang dapat memberikan return/hasil pengembalian yang tinggi. Di sinilah letak kelemahan produk unitlink. Produk ini bisa dibilang tidak sesuai dengan prinsip ekonomi, yaitu dengan biaya serendah mungkin menghasilkan keuntungan setinggi mungkin.


Unitlink yang merupakan perpaduan antara beberapa produk asuransi dan investasi (dalam hal ini, reksadana) yang memang pada akhirnya memberikan hasil yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan membeli asuransi dan reksadana secara terpisah. Hal ini dapat disebabkan karena bisa saja tidak semua asuransi yang terdapat di dalam unitlink itu kita perlukan. Misalnya, seorang yang belum menikah, belum perlu memiliki asuransi jiwa bila dia bukan tulang punggung keluarganya. Seseorang yang sudah menikah pun seharusnya hanya sang suami yang wajib memiliki asuransi jiwa. Jadi buat apa membayar lebih untuk produk yang tidak kita perlukan?


Untuk itulah FP lebih menyarankan agar si Pencari Nafkah membeli asuransi jiwa murni untuk perlindungan dan kemudian berinvestasi di reksadana saham sebagai tabungannya. Cara ini diyakini akan memberikan hasil yang jauh lebih tinggi nantinya, bila dibandingkan membeli unitlink.


Reksadana saham dipilih karena merupakan reksadana yang memberikan return paling tinggi dari reksadan jenis lainnya, seperti pendapatan tetap dan campuran. Tetapi, yang harus diingat, reksadana saham baru dipilih sebagai bentuk tabungan bila tujuannya adalah untuk digunakan >/= 10 tahun yang akan datang. Misalnya untuk biaya kuliah anak yang sekarang masih kecil-kecil.


Tujuan investasi dapat dibagi berdasarkan waktu perkiraan dana tersebut akan digunakan. Biasanya terdiri dari: <> 10 tahun (disarankan reksadana saham).


Kenapa reksadana? Karena dengan reksadana kita dapat berinvestasi dengan nominal yang lebih kecil dibandingkan dengam berinvestasi langsung (membuka usaha atau membeli saham langsung) dan dana kita dikelola oleh manajer investasi yang dapat kita pilih sesuai dengan kualitas yang kita inginkan.


Dalam memilih reksadana, anda juga perlu mencari tahu dulu, anda termasuk dalam kategori apa. Kalau anda tipe investor yang berani mengambil resiko(agresif), reksadana saham adalah jenis investasi yang tepat buat anda. Kalau anda tipe yang tidak berani mengambil resiko, alias selalu cari aman (pasif), maka investasi yang cocok adalah reksadana pendapatan tetap. Sedangkan bila anda termasuk kategori di tengah-tengah dari kedua kategori di atas, reksadana campuran adalah jawabannya.


Kalau alasannya dengan membeli asuransi unitlink/ asuransi pendidikan kan bisa lebih disiplin menyisihkan dananya setiap bulan atau tahunnya... Tidak masalah. Sekarang sudah ada reksadana yang bisa dibeli dengan setoran bulanan mulai dari Rp.100.000,- saja. Memanfaatkan fasilitas auto debet di bank anda, reksadana bisa dibeli rutin setiap bulan tanpa perlu repot.


Kalau ada yang menanyakan, apa investasi yang tidak tergerus inflasi, maka jawabnya adalah emas. Investasi emas sebaiknya beli dimana? Logam Mulia (LM). Kenapa bukan emas perhiasan? Karena kalau emas perhiasan, kita akan dirugikan pada biaya pembuatannya yang tidak dihitung saat menjualnya kembali. Selain itu, emas LM bersertifikat sehingga lebih terjamin.


Tapi ingat, apapun investasi pilihan anda, semua pasti ada resikonya. Bahkan emas sekalipun ada resiko hilang kan? Resiko bisa diminimalisasi dengan berbagai cara. Don't put all of your eggs in one basket. Jangan menginvestasikan semua uang anda pada satu produk,atau satu manajer investasi saja. Diversifikasi, itu kuncinya.


Ok, selamat memilih investasi yang paling tepat buat anda. Sebelumnya, jangan lupa untuk menetapkan tujuan investasinya dulu, kapan akan digunakan dan tipe investor seperti apa anda.