Showing posts with label resiko. Show all posts
Showing posts with label resiko. Show all posts

Penawaran Investasi Emas



Sejak jadi sentra penjualan emas dan no PIN diiklanin oleh supplier kemana-mana, banyak yang add. Selain teman bertambah dan network meluas, banyak juga penawaran yang saya dapatkan. Diantaranya, penawaran investasi emas.

Salah satu dari penawaran itu datang dari PT A di Jakarta, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jual beli emas sejak lebih dari 30 tahun lalu. Toko emasnya memiliki reputasi baik, info dari milis keuangan yang saya ikuti. Kalau dulu mereka memiliki produk pool account, sekarang mereka menawarkan investasi emas dalam bentuk lain.

Untuk berinvestasi, investor harus membeli emas dengan harga 30% di atas harga spot dan membuat kontrak minimal setahun. Sebagai imbalannya, investor menerima hasil investasi yang dibayar dimuka sebesar 10%, emas dengan ukuran sesuai yang dibayarkan dan jaminan pembelian kembali di harga yang sama. Jaminan ini maksudnya bila sampai akhir masa kontrak harga emas ternyata lebih rendah dari harga saat beli, maka investor dapat menjualnya kembali ke PT A seharga saat membelinya. Tapi bila ternyata lebih tinggi, investor bebas apakah ingin menjualnya/tidak.

Ilustrasinya begini: bila hari ini harga spot emas adalah Rp.500.000/gram, maka bila saya ingin berinvestasi harga yang harus dibayar adalah Rp.650.000/gram (30% diatas harga spot). Karena ingin berinvestasi senilai 100 gram emas, saya membayar ke PT A sebesar Rp65.000.000 (100gr x Rp650.000/gram). PT A kemudian akan memberikan 100 gram emas ditambah uang kontan Rp6.500.000 (10% dari Rp65juta) kepada saya sebagai bagi hasil yang dibayar dimuka.

Lalu dibuat kontrak kerjasama setahun di hadapan notaris, yang bila dilanggar (misalnya saya ingin menjual emas saya sebelum masa kontrak habis) maka saya harus mengembalikan emas yang 100 gram plus Rp6,5juta dan membayar denda sesuai yang telah ditetapkan dalam kontrak. Uang yang investasikan dikembalikan setelah dikurangi denda dan diberlakukan harga beli (buyback price) hari itu, saat kontrak dibatalkan.

Kedengarannya menguntungkan ya? Resikonya kecil, kan imbal hasilnya dibayar dimuka. Itu yang sedetik pertama terlintas di otak saya. Tapi saya segera sadar, keuntungan 10% yang dibayar dimuka itu sebenarnya adalah bagian dari 30% dari harga emas yang saya bayarkan. Jadi saya memberikan 20% ke PT X secara cuma-cuma. Enak bener yah? Cuma modal cuap-cuap mereka dapat modal gratis 20% dari para investornya. Ckckckck (ˇ_ˇ'!l)

Kalau memang mau investasi, untuk apa repot-repot pakai perjanjian notaris segala? Dengan uang Rp65juta saya bisa langsung membeli sekitar 130gram emas. Untuk apa bayar lebih mahal tapi malah dapat lebih sedikit?!

Bagi saya pribadi, investasi emas tidak untuk mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Saya membelinya untuk melindungi nilai harta yang kami miliki. Misalnya saat hubby dapat bonus dari kantor, uangnya langsung saya belikan emas bila memang tujuannya untuk uang sekolah anak-anak yang baru akan dipakai minimal setahun lagi. Kalau tidak segera diinvestasikan, pasti uang itu tidak akan bersisa akhirnya. Apalagi kalau hanya disimpan di rekening bank, sedikit-sedikit diambil melalui ATM. Habis deeeeeh.

Kenapa tidak deposito? Karena deposito itu hasilnya cuma 6%, dipotong pajak 20% dan buktinya hanya selembar kertas. Sedangkan bila dibelikan emas, hasilnya rata-rata bisa mengalahkan inflasi, tidak bayar pajak (tapi ada zakatnya) dan yang terpenting, saya pegang fisik emasnya tidak hanya selembar kertas.

Tapi jangan salah, emas bukan satu-satunya bentuk investasi yang kami jalankan saat ini. Kenapa? Karena kita tidak disarankan meletakkan semua telur di satu keranjang. Diversifikasi. Sudah sering ya saya bahas tentang diversifikasi disini. Intinya, semua instrumen investasi itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk masing-masing tujuan keuangan dan profil resiko, beda-beda instrumen investasinya.

Dengan semakin banyaknya penawaran investasi, calon investor harus semakin teliti dan bijak dalam memilih. Sebelum terlena dengan imbal hasil selangit yang dijanjikan, sebaiknya cari info sebanyak-banyaknya sebelum mengambil keputusan. Rajin-rajin googling, search di twitter atau gabung ke milis-milis keuangan. Jangan gampang percaya, walaupun yang menawarkan adalah orang yang telah lama anda kenal.



Menabung vs Investasi



Tidak semua orang paham tentang investasi. Sebagian orang memandang yang namanya investasi itu hal yang rumit. Lebih gampang menabung di bank atau paling top nya deposito. Tanpa perlu mikir panjang, simpan uangnya, trus tiap bulan ada hasilnya. Kita tidak menyadari sebenarnya nilai uang kita bukannya bertambah, justru berkurang karena termakan inflasi.

Jadi bagaimana agar nilai uang yang kita miliki dapat terus bertambah? Investasi jawabannya. Mau tahu lebih lanjut tentang investasi? Baca terus ya, dan temukan jawabannya.

Investasi adalah cara mengembangkan dana yang dimiliki sekarang, untuk mencapai tujuan keuangan masa depan, dengan memakai berbagai instrumen/produk investasi.

Kenapa kita perlu berinvestasi? Karena daya beli uang kita akan semakin turun dari hari ke hari. Contohnya: punya uang 10juta ditabung di bank dengan suku bunga 2% per tahun dan tingkat inflasi 13% per tahun maka dalam 10 tahun nilai uang kita akan menjadi sekitar 3,6juta. Artinya, bila sekarang dengan 10juta kita bisa membayar uang pangkal TK, maka 10 tahun lagi uang kita yang 3,6juta itu sudah tidak cukup untuk membayar di sekolah yang sama.

Siapkan lebih dahulu dana darurat (minimal sudah ada sebagian dari kuota yang ditargetkan) dan asuransi sebelum berinvestasi. Investasi untuk jangka panjang mengandung resiko hasil yang naik turun. Dana darurat dan asuransi dapat menutupi kebutuhan dana jangka pendek saat investasi kita belum maksimal hasilnya.

Jangan menunda untuk berinvestasi, karena waktu adalah salah satu faktor terpenting yang menentukan besar kecilnya hasil investasi kita. Tanpa adanya waktu yang cukup, investasi kita tidak bisa berkembang maksimal.

Tidak bisa dipungkiri, salah satu cara untuk menjadi cepat kaya adalah berinvestasi. Tetapi jangan berinvestasi bila Anda belum paham benar, cara kerja investasi tersebut. Besar kecilnya investasi dan hasilnya ditentukan oleh nominal yang diinvestasikan, imbal hasil (return), seberapa sering berinvestasi, dan berapa lama jangka waktunya.

Menurut Robert T. Kiyosaki: "Berinvestasilah dalam diri Anda terlebih dahulu, sebelum berinvestasi memakai uang Anda" Maksudnya, sebaiknya anda menginvestasikan waktu anda dulu untuk belajar sebelum menginvestasikan uang anda. Lebih baik mana, rugi waktu atau rugi uang? ;)

Berinvestasi pada produk apa, itu semua tergantung pada karakteristik seseorang dan tingkat ketahanannya dalam menanggung resiko. Setiap orang bisa berbeda pilihannya. Tapi selalu lakukan diversifikasi produk. Diversifikasi adalah menyebar investasi kita kedalam beberapa produk investasi sebagai upaya menurunkan resiko. Jadi disaat 1 produk investasi kita merugi, masih ada produk yang lainnya untuk dijadikan sandaran.

Dalam investasi berlaku hukum "Low Risk Low Return, High Risk High Return". Hindari penawaran investasi dengan iming-iming modal dengkul hasil selangit. Penawaran yang tidak masuk akal lebih baik abaikan saja. Biasanya itu hoax. Selalu lakukan cek dan re-check sebelum menginvestasikan uang anda bila tidak mau tertipu.

Tidak ada investasi tanpa resiko. Semua ada resiko. Pilih produk investasi yang tingkat resikonya sesuai dengan profil investor anda (konvensional, moderat atau agresif). Bila ingin investasi yang memberikan hasil yang tinggi, harus siap juga dengan resiko yang tinggi. Tetapi, resiko terbesar dari investasi adalah bila anda TIDAK berinvestasi.

Bagaimana, sudah siap untuk mulai berinvestasi?