Showing posts with label wisata kuliner. Show all posts
Showing posts with label wisata kuliner. Show all posts

Pulang Ke Kotamu (2)


Makan malam pertama di Jogja kali ini tujuannya ke Angkringan Nasi Kucing Lek Man. Berjalan kaki dari hotel, melalui Malioboro ke arah Stasiun Tugu. Setelah melewati rel kereta api, jalan lagi sedikit sampai ketemu belokan kiri pertama (bukan yang masuk ke stasiun), letaknya di sebelah kiri jalan, sekitar 20 meteran dari belokan tadi.

Di sini tersedia meja dan kursi untuk duduk, tapi bila ingin merasakan "the real Jogja" ada tempat lesehan pas di seberangnya. Nasi kucing dengan berbagai lauk gorengan tersedia menggoda selera. Bagi yang suka kopi, ada Kopi Joss yang merupakan kopi tubruk dicemplungin arang yang masih menyala. Katanya sih, enak. Tapi berhubung bukan penggemar kopi hitam, saya lewatkan menu unik yang satu ini.

Di angkringan Lek Man ini nasi kucing ada 2 pilihan: pedas dan tidak pedas. Yang pedas ada sambal kerang di dalamnya. 3pzh tentu memilih yang tidak pedas. Lauk berupa sate telur puyuh, baceman tempe, aneka gorengan bisa minta dipanaskan sama si mas yang melayani. Zi sampai nambah. Makan berlima plus minum 2 jeruk panas dan 2 teh manis panas tidak sampai Rp.30ribu.


Ingin rasanya mencoba tongseng asli Jogja, makanan favorit saya dan hubby. Tapi berhubung tidak tahu jalan dan ada pesan dari Pak Poniman agar hati-hati dengan "tongseng jamu" jadi tidak berani deh. Tongseng jamu adalah tongseng yang isinya daging anjing. Tidak disebut tongseng asu (bahasa jawanya anjing) karena kedengarannya kasar. Banyak dijual seputaran Jogja karena digemari bahkan oleh mereka yang muslim. Astaghfirullah.


Jalan kaki pulang ke hotel, kami menemukan penjual wedang ronde dan sate ayam di jalan Dagen. Zi yang sudah ribut kelaparan (lagi), minta dibungkuskan untuk dimakan di hotel. Sambil menunggu pesanan selesai, kami nongkrong menikmati wedang ronde yang ukuran rondenya nyaris sebesar bola golf. Tapi di foto tidak terlihat rondenya karena tertutup kolang-kaling, kacang goreng dan potongan roti yang hampir memenuhi mangkok. Untuk harga, mungkin karena jualannya dekat hotel, sama seperti di Jakarta. Wedang ronde Rp5ribu/mangkok dan sate ayam Rp10ribu/porsi.

Badan yang lelah setelah seharian jalan-jalan, ditambah dengan perut yang kenyang, menyempurnakan istirahat malam pertama di Jogja. Besok, masih ada Taman Sari, Keraton, dan Taman Pintar yang akan dijelajahi. Ikuti ceritanya di bagian ketiga yaaa ;)




Alamat:

Angkringan Lek Man
Jl wongsodirjan di sisi stasiun KA Tugu 
HP 081578487778

Pulang Ke Kotamu (1)





"...Pulang ke kotamu,
ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja..."

Lirik lagu Yogyakarta dari KLa Project ini selalu terngiang di telinga setiap kali kata Jogja atau Yogyakarta terucap. Kota yang masih memelihara warisan budaya leluhurnya ini memiliki penduduk yang ramah dan selalu berhasil membuat saya kangen walau bukan orang Jogja.

Ini adalah kunjungan kami yang kedua. Bedanya dengan yang pertama, kali ini naik pesawat dan sudah ada Za. Tiket pesawat, seperti biasa, dibeli saat ada promo Big Sale setahun lalu sehingga dapat yang 500ribu untuk berlima, PP. Seminggu sebelum berangkat baru tahu ternyata tanggal yang dipilih pas saatnya liburan UAN SD. Kebetulan yang menyenangkan, karena Zi tidak harus bolos sekolah.

Tiba di bandara Adi Sutjipto jam 7 pagi, kami sudah dijemput mobil sewaan yang dipesan melalui kenalan orang lokal disana. Untuk mobil Avanza (termasuk supir, diluar bensin) rate-nya 350ribu untuk 12 jam. Hari ini rencananya kami akan mengunjungi Borobudur, museum Ullen Sentalu, Kaliurang, markas Dagadu dan bakpia Merlino.

Sempat kaget waktu tahu tidak ada penjualan makanan di pesawat, kecuali yang sudah memesan via online booking. Hal ini dikarenakan waktu penerbangan yang sangat singkat. Akibatnya, gembel di perut sudah mulai protes saat jam 8 belum diisi. Kami pun mampir dulu di Soto Kadipiro Pito, cabang jalan Wates, untuk sarapan sebelum ke tujuan pertama.

Soto Kadipiro adalah rumah makan sederhana yang menyediakan soto ayam dan daging beserta makanan pendamping seperti ayam goreng, tahu bacem dan hati ampela. Semua makanan di situ patoet dipoejikeun rasanya, kecuali ayam gorengnya. Sotonya terasa gurih dan bacemannya enak-enak,tapi ayam gorengnya alot (mungkin karena ayam kampung jantan). Entah karena lapar atau memang beneran doyan, 3pzh terlihat lahap sekali menghabiskan makanan mereka. Untuk 5 nasi, 4 soto, 1 ayam, 3 tempe, 2 tahu, 1 kerupuk, 3 teh manis panas, dan 1 tape panas totalnya hanya 60ribu. Pas di lidah, pas di kantong lah pokoknya :D

Perjalanan pun dilanjutkan. Sepanjang perjalanan menuju Borobudur, di kanan kiri jalan tampak bekas aliran muntahan merapi di sungai-sungai di bawah jembatan. Pak supir yang bernama Poniman ini sangat ramah dan pandai bercerita. Beliau mengemudi sambil menceritakan peristiwa meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu lalu yang memakan banyak korban. Sementara itu Zi terlihat sibuk mengabadikan semuanya dengan kamera saku yang selalu tergantung di lehernya dan membuat catatan perjalanan di buku tulis yang selalu dibawanya di dalam "tas kerja" (istilah Zi untuk tas sagala aya-nya).

Pak Poniman menyarankan bila ingin ke Borobudur waktu yang tepat adalah sebelum jam 12 pagi. Kalau tidak, di atas candi nanti akan terasa panas sekali. Jadi sebaiknya siapkan topi dan payung untuk melindungi kepala dari teriknya matahari.

HTM (Harga Tiket Masuk) Borobudur adalah untuk dewasa @30rb dan anak2 @12.500 jadi untuk kami berlima total 103rb sudah termasuk mobil. Sebelum naik ke candi, pengunjung dewasa diwajibkan memakai kain batik dulu, tanpa dipungut biaya. Berbeda dengan tahun 2008 waktu pertama kali kami ke sana, sekarang ada kereta yang mengantarkan pengunjung sampai ke dekat candi dengan hanya membayar @5rb (dibawah 3 tahun gratis). Asyiknya, tiap tiket mendapatkan 1 botol air mineral gratis. Lumayaaan :)

Ada banyak penjual topi dan berbagai souvenir di kawasan wisata itu. Karena mengikuti saran Pak Poniman, kami tidak membeli apapun disitu. Katanya, bila kita membeli, maka akan diikuti oleh serombongan penjual yang menawarkan dagangannya dengan setengah memaksa. Gak nyaman banget kan? Jadi kami hanya menyewa payung seharga Rp5ribu untuk 2 payung karena lupa membawa topi untuk anak-anak.

Borobudur sekarang lebih teratur dan bersih dibandingkan 4 tahun lalu. Mungkin karena para penjual dilarang naik sampai ke pelataran candi. Banyaknya satpam yang patroli juga menambah rasa aman. Senang melihat tempat sampah di beberapa sudut candi. Semoga wisatawan mau membuang sampah pada tempatnya. Miris saat melihat relief dan stupa-stupa yang rusak, tapi syukurlah perbaikan sedang dalam proses.

Dari Borobudur, kami langsung meluncur ke Ullen Sentalu. Museum unik ini berada di daerah Kaliurang. Sayangnya, saya lupa peraturan museum yang selalu buka di hari Sabtu dan Minggu, tetapi tutup di hari Senin. Hadeeeh, kecewa banget rasanya. Padahal sudah sampai di depan pintunya :'(

Mengobati kekecewaan, mobil pun diarahkan ke kawasan wisata Merapi di Kaliurang. Melewati pemandangan yang sawah yang hijau dan udaranya yang sejuk, benar-benar bikin hati adem. Jendela mobil sengaja dibuka agar kami bisa merasakan sejuknya udara pegunungan.

Parkir di depan warung-warung yang menyediakan oleh-oleh dan makanan, mata saya mencari-cari sebuah warung rekomendasi dari TL-nya @arieparikesit, salah seorang member milis Jalan Sutra yang juga pemilik Kelana Rasa. Akhirnya saya menemukannya, Warung Mbah Carik.

Warung ini menyediakan makanan khas daerah Kaliurang, yaitu jadah tempe yang dimakan dengan cabe rawit. Perpaduan ketan putih (jadah) dengan tempe bacem yang rasanya antara gurih, manis dan pedas ini cukup enak dan mengenyangkan. Harganya pun sangat murah, hanya Rp.1.200/porsi (1jadah+1tempebacem). Selain itu juga tersedia wajik dan beberapa camilan lainnya. Wajiknya enak, tidak terlalu manis seperti rasa wajik pada umumnya. Harganya hanya Rp.400/potong. Cocok disantap sebagai teman minum teh atau kopi panas di udara dingin seperti saat itu.

Kawasan wisata kaliurang sebenarnya tidak hanya terbatas di pelataran parkir itu. Pengunjung bisa naik ke atas gunung, seperti yang dilakukan Zi seorang diri dengan hanya bermodalkan HT untuk berkomunikasi dengan kami. Zi the explorer berjalan-jalan sendiri (tapi diikuti oleh ayahnya dari jauh) sambil mengambil foto-foto hewan liar yang banyak terdapat di pepohonan sekitar situ, seperti monyet dan tupai.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Dagadu dan Bakpia Merlino untuk membeli oleh-oleh. Kalau anda naik becak di tengah kota, biasanya dengan hanya membayar Rp.10.000 sudah bisa keliling kota Jogja dan diantar ke toko oleh-oleh. Tapi hati-hati, biasanya anda akan diantar ke toko Dagadu palsu yang produknya overpriced (karena mereka harus memberikan tip pada tukang becak/andong yang mengantarkan wisatawan ke sana). Dagadu tidak memiliki cabang, tapi punya outlet di Malioboro mal. Diluar itu sudah dapat dipastikan, palsu.

Mendapat rekomendasi dari teman, saya berburu bakpia terenak (tapi tidak banyak yang tahu) yang lokasinya tidak jauh dari Dagadu. Bakpia Merlino, namanya. Menjual berbagai macam oleh-oleh khas Jogja, termasuk coklat Monggo. Sayang saat itu bakpia kejunya belum matang. Oleh penjaga tokonya disarankan untuk ke pusatnya saja. Meluncur lah kami ke sana untuk berburu bakpia keju idaman. Alhamdulillah, stok tersedia. Kalau disini, jangan lupa sekalian beli minuman secang instan. Semacam wedang berwarna merah, yang rasanya enak bila diminum hangat-hangat.

Jalan-jalan dan oleh-oleh sudah, sekarang waktunya check in hotel. Mencari hotel di Jogja tidaklah mudah. Kata Pak Poniman, sering penuh karena di Jogja banyak diadakan international events. Jadi harus book jauh-jauh hari. Go show sangat tidak disarankan. Saat ini ada 3 hotel bintang 5 yang sedang dalam tahap pembangunan untuk mengantisipasi kebutuhan akomodasi wisatawan Jogja.

Bagi kami yang memiliki 3 anak masih kecil-kecil dan tidak mungkin tidur terpisah, perlu triple room atau family room. Sayangnya kamar jenis ini susah di dapat di hotel-hotel tengah kota, biasanya banyak terdapat di cottage luar Jogja. Bermodalkan browsing akhirnya kami mendapatkan hotel dengan kriteria idaman: triple room, ada kolam renang, dan hanya 5 menit jalan kaki ke Malioboro. Hotel Petimas di Jalan Dagen.

Hotel kecil berlantai 2 yang asri dengan karyawannya yang ramah dan sangat membantu. Cocok sebagai hotel keluarga yang punya anak kecil. Untuk triple room rate-nya Rp.648ribu/malam. Harga kamar sudah termasuk snack sore (teh+camilan diantar ke kamar) dan sarapan untuk 2 orang di restorannya. Rasa makanannya pun enak, untuk nasi goreng dan mi gorengnya. Tapi untuk sarapan yang free (termasuk harga kamar), harus pesan dulu dari sore mau sarapan apa (pilihannya: buryam, nasgor dan migor). Pesannya ke petugas yang mengantarkan snack sore ke kamar.

Dari hotel jalan kaki ke Malioboro hanya 5 menit kurang. Strategis sekali. Dekat kemana-mana. Bahkan di mulut gang ada cabang Gudeg Yu Djum yang terkenal itu. Sekitar jalan Dagen sendiri ada minimart, atm Mandiri, pangkalan becak dan mobil charteran. Jajanan seperti sate ayam dan nasi kucing juga ada. Lingkungannya yang selalu ramai sampai larut malam, memberikan rasa aman untuk wisatawan yang harus pulang larut ke hotel.

Bagaimana kisah selanjutnya? Naik apa keliling Jogja? Ada apa di Taman Sari? Apa itu Taman Pintar? Ikuti terus kisah perjalanan kami di Jogja selanjutnya ;)




Alamat-alamat:

1.Soto Kadipiro Pito
Cabang Jalan Wates
Jl. Magelang KM 9,5
Mulungan, Sleman, Jogja

2.Borobudur
Magelang, Jawa Tengah
Koordinat GPS: S7°36'28.3" E110°12'13.5"

3.Museum Ullen Sentalu
Jl Boyong, Kaliurang
Telpon 0274-895161/880158


4.Dagadu
di Malioboro Mall, di Jalan Pakuningratan, dan di Ambarukmo Plaza. 

5.Bakpia Merlino
Jl RE Martadinata 24B, telpon 0274588036
Jl Panuningratan 55, telpon 0274562334
Buka jam 7-20

6.Coklat Monggo
*Mirota Batik Malioboro
Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 9 (Malioboro Selatan) Yogyakarta
*Hero Malioboro
Jl. Malioboro ( Malioboro Mall) Yogyakarta
*KF Malioboro
Jl Malioboro 21 

7.Hotel Petimas
Jl. Dagen 27
Yogyakarta
Telp. 0274-561938 - 513191
Fax. 0274-580188
www.yogyes.com/peti-mas
petimas@yahoo.com




[CaPer] Cirebon


Sudah lama ingin ke Cirebon. Bukan karena ingin belanja batik Trusmi atau sekedar wiskul. Tapi ingin mengenalkan ke 3pzh suatu kota yang belum pernah mereka kunjungi, agar mereka tahu Indonesia ini luas, tidak hanya ada Jakarta, Medan dan Bandung.

Kami berangkat tanggal 25 Desember pagi untuk menghindari macet. Jalan dari rumah jam 5.30 sampai di Cirebon jam 9an. Jalanan relatif lancar, hanya dibeberapa titik tersendat karena ada perbaikan jalan.


Di tengah kota Cirebon, terutama sekitar Grage Mal, ada banyak hotel. Kami awalnya ingin menginap di hotel Santika, akhirnya memilih hotel Zambrud yang lebih dekat karena Zi sudah ingin ke toilet :D Untuk kamar seharga tidak sampai 400ribu semalam termasuk sarapan pagi untuk 2 dewasa dan 2 anak-anak (dibawah 7 tahun), hotelnya lumayan. Kamarnya luas dan ada kolam renang di lantai bawah.

Ke Cirebon belum lengkap rasanya tanpa mencoba nasi jamblang. Mencari ke daerah pelabuhan, ternyata penjual yang biasa mangkal di depan gapura pelabuhan, sedang tidak berjualan. Akhirnya kami ke sebrang Grage Mal yang banyak tenda-tenda penjual nasi jamblang.

Nasi Jamblang
Nasi jamblang adalah semacam nasi rames yang dihidangkan di piring beralaskan daun jamblang dengan sambal khusus. Lauknya bermacam-macam, bisa kita pilih sendiri, tapi yang paling banyak dicari adalah blakutak atau cumi yang dimasak dengan tintanya sehingga berwarna hitam. Kategori nasi jamblang yang enak adalah yang nasinya hangat dan cuminya empuk dengan sambal yang sedap.

Makanan khas Cirebon lainnya yang tidak boleh dilewatkan adalah empal gentong atau empal asem. Ada banyak yang jual, tapi kalau mencari yang segar, coba yang empal asem. Di jalan raya arah keluar kota Cirebon menuju Jakarta, disebelah kanan jalan ada Empal Asem Amarta. Tempatnya kecil, paling hanya bisa menampung 50 orang yang duduk berdempetan, dan harus sabar mengantri karena pengunjungnya buanyaaaak.

Empal Asem Amarta
Disana juga menyediakan empal gentong, sate kambing dan berbagai minuman. Kami memesan 3 jenis menu itu untuk perbandingan. Semua setuju, empal asemnya yang paling enak. Empal asem itu semacam soto daging (boleh pilih, mau daging saja atau campur kikil dkk) dengan kuah kuning kehijauan yang rasanya gurih dan sedikit rasa asam yang membuatnya terasa segar tidak eneg seperti kalau habis makan makanan bersantan.

Untuk oleh-oleh, mbah google menyarankan ke Toko Manisan Sinta. Disana bisa membeli macam-macam manisan (dan asinan) buah, sambal nasi jamblang, berbagai macam keripik dan manisan tape ketan yang dibungkus daun. Tape ketan ini belum matang, jadi harus disimpan dulu sampai tanggal matangnya, baru kemudian dimasukkan ke kulkas.

Di sekitar toko manisan itu juga banyak penjual makanan khas Cirebon. Ada beberapa saran dari mbah google. Pepesan, Tahu gejrot dan Ketan Apun. Ketan Apun, letaknya pas di sebrang toko manisan. Tapi saya urung beli karena ketannya dipajang bersama daging masak merah yang menurut penglihatan saya seperti daging babi. Daripada ragu, saya langsung kabur dari situ.

Akhirnya saya nongkrong di tempat penjual Kue Tapel, sambil ngunyah tahu gejrot, sementara yang lain menunggu di mobil. Yang pesan banyak, tapi membuatnya harus satu-satu. Sekitar setengah jam menunggu, barulah 11 Kue Tapel ini dapat saya bawa ke mobil dan langsung ludes dalam 5 menit x_x

Kue Tapel
Kue Tapel terbuat dari adonan yang terdiri dari ketan, tepung beras, kelapa parut dan gulgar (gula garam). Adonan itu kemudian ditaruh sedikit ke wajan, lalu ditipiskan dengan daun pisang hingga membentuk bundaran seperti dadar yang tipis, lalu diatasnya ditaruh pisang dan gula merah yang kemudian dipenyetkan diatas dadar tadi sampai merata ke seluruh permukaannya, lalu setelah matang dilipat dua seperti membuat martabak. Rasanya yang manis renyah itu benar-benar membuat kami ketagihan, terutama 3pzh. Kalau tidak mengantri, ingin rasanya balik lagi untuk memesan.

Pusat Grosir Batik trusmi
Bagi yang suka batik, wajib hukumnya ke Trusmi. Disini adalah pusat kerajinan batik Cirebon. Sepanjang jalan ada banyak toko-toko yang menyediakan dari mulai baju sampai seprai batik khas Cirebon. Untuk yang tidak pandai menawar seperti kami, bisa datang ke Pusat Grosir Batik Trusmi, semacam department store khusus batik.

Harga barang-barang di pusat grosir ini relatif murah. Baju anak-anak mulai dari 20ribuan, kemeja batik dewasa lengan pendek mulai dari 25ribuan, bahan kain hanya 35ribuan dan pashmina batik 30ribuan. Motif batik khas Cirebon adalah mega mendung yang gambarnya seperti awan berarak dengan warna cerah.

Mangga Erwin
Pulang dari Cirebon, kami mengambil rute yang berbeda dari saat kedatangan. Kali ini kami lewat Indramayu. Kota ini terkenal dengan mangganya. Karena tidak pandai menawar, akhirnya kami hanya membeli 3kg mangga indramayu seharga 20rb dan 1kg mangga Erwin (namanya memang begitu) seharga 10rb. Mangganya manis, tidak mengecewakan. Tapi soal selera, saya masih lebih suka mangga harum manis.

Perjalanan kami kali ini ke Cirebon, cukup menyenangkan dan seru karena mencoba banyak hal baru. Zi bilang yang paling menyenangkan adalah saat wiskulnya :D

Mengenalkan makanan baru ke anak-anak artinya mengajarkan mereka untuk tidak pilih-pilih makanan. Sebaliknya, mereka jadi selalu ingin mencoba bila ada jenis makanan yang belum pernah mereka makan. Ini juga akan memperkaya pengetahuan mereka tentang makanan-makanan khas suatu daerah. Waktu pembagian SPR (Student Progress Report) disekolah, Guru kelasnya bilang kalau Zi selalu menjadi nara sumber bagi teman-temannya di mata pelajaran Social karena bisa menjelaskan dengan rinci kekhasan suatu daerah dari kebudayaan sampai makanannya :)

Liburan berikutnya kemana ya? Sukabumi? Garut? Atau Makasar? Hmmm.... *mulaigoogling*



Daftar Alamat:

*Nasi Jamblang Pelabuhan
Buka jam 06.00-15.00 WIB
Jalan Benteng. Masuk dari sebelah Taman Ade Irma Suryani
GPS: 6°43'3.2304''S 108°34'17.1437''E

*Toko Manisan Sinta
Toko Sinta buka 07.00-14.00 WIB
Jl Lemah Wungkuk
GPSnya toko Sinta: 6°43'12.8892''S 108°34'6.8664''E

*Empal Asem Amarta
Buka jam 09.00-16.00 WIB
kawasan Kedawung,
Jl Raya Batembat atau Jl Raya Plered, sesudah RS Plumbon, dekat jembatan Gesik.
GPS: 6°42'28.2568''S 108°31'4.9274''E

*Kompleks Batik Trusmi:
GPS: 6°42'0.6376''S 108°30'38.2579''E